Tinggalkan komentar

Belajar dari Tanoker Ledokombo, Kabupaten Jember

Belajar dari Tanoker Ledokombo, Kabupaten Jember

Pejabat di tanoker

 

Senang rasanya mendapatkan kesempatan berkunjung ke Tanoker Ledokombo. Sebenarnya sih yang ngebet banget ingin ke sana adalah istri saya. Saat mendengar kawan-kawan akan berkunjung kesana, tumbuh harapan dapat terlibat juga. Sayang, pada tanggal yang bersamaan dia harus menghadiri acara lain. “Aku yang pingin ke sana, malah dirimu yang duluan,” ujarnya agak kecewa.

Memang sejak lama, kami kerap mendengar kiprah Tanoker Ledokombo, baik dari status-status Facebook-nya Cicik Farhah, pemberitaan dan juga dokumentasi kegiatan mereka yang mudah ditemukan di youtube.

Kali ini, Tanoker Ledokombo menyelenggarakan Festival Egrang ke delapan (atau sewindu). Ya, mereka, sejak tahun 2010 secara rutin menyelenggarakan Festival Egrang. Saat menonton di youtube tentang bagaimana anak-anak bermain egrang, terus terang saya sangat kagum. Tidak sekedar naik dan berjalan, namun anak-anak mampu untuk bermain bola, menari, bermusik dan bermain drama dengan mengenakan egrang. Stasiun TVRI dan TV swasta pernah meliput dan membuat liputan khusus tentang kegiatan-kegiatan Tanoker Ledokombo.

Pelepasan peserta

Pelepasan peserta Festival Engrang ke delapan di Ledokombo Kabupaten jember oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Anak-anak Tanoker juga berkesempatan menunjukkan kebolehannya di berbagai tempat, tidak sekedar di Ledokombo saja. Diantaranya, mereka pernah tampil di Taman Ismail Marzuki, mengikuti “The Youth Indonesia Percussion Festival” di pasar Seni Ancol, tampil Di Yogyakarta dalam acara “International Student Summit” dan pernah juga mengikuti acara di Thailand. Jadi, ketrampilan anak-anak bermain egrang, tak perlu lagi diragukan, bukan?

Namun, hal penting bukanlah ketrampilan egrang yang dimiliki oleh anak-anak Ledokombo. Egrang adalah salah satu sarana yang dikembangkan oleh Ciciek Farhah dan suaminya DR Ir. Suporaharjo. Keduanya yang dikenal sebagai aktivis LSM dan peneliti, pada tahun 2009 memutuskan tinggal di tanah kelahiran Lik Hang, panggilan untuk Suporaharjo. “Panggilan dari Ibu yang sudah sepuh dan sakit-sakitan,” jelas Suporaharjo dalam satu wawancara.

Para penari

Para penari yang menyemarakkan Festival Egrang di Ledukombo Jember

Bersama dengan kedua anaknya, yang sebelumnya tinggal di kota metropolitan, kini mereka tinggal di desa, di daerah Kabupaten Jember bagian utara. Di sinilah, Suporaharjo mengajari kedua anaknya bermain egrang, satu permainan tradisional yang sudah dilupakan.

Egrang, kemudian dijadikan sebagai salah satu sarana untuk menghimpun anak-anak di Ledokombo yang sebagian besar berasal dari keluarga buruh migran. Beranjak dari sini, terbentuklah kelompok yang diberi nama Tanoker, bahasa Madura yang artinya adalah kepompong, bertepatan dengan Hari HAM, 10 Desember 2009. Semboyannya adalah “bermain, belajar, bergembira, bersahabat dan berkarya.

“Sebuah peristiwa yang tidak pernah saya lupakan, setelah seminggu saya berada di Ledokombo bertemu dengan seorang anak yang masih kelas 4, mengasuh ketiga anaknya. Ibu dan Bapaknya pergi ke Saudi Arabia. Pasti mereka mengalami banyak hal, penderitaan yang sangat kompleks. Saya menamakan mereka yatim piatu sosial, karena secara biologis mereka punya orangtua, tapi mereka tidak hidup bersama orangtua,” ujar Ciciek Farhah, pendiri Tanoker Ledokombo, dalam sebuah liputan di Net TV, yang menjelaskan awal mula ketertarikannya untuk memfasilitasi anak-anak (dan masyarakat) Ledokombo.

Peserta

Salah satu peserta festival

Delapan tahun berproses bersama anak-anak, salah satu yang tampak adalah kesadaran untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak. Generasi awal Tanoker, termasuk anak perempuan, kini sudah menikmati pendidikan di Perguruan Tinggi.

“Saya sekarang sudah semester tiga, di perguruan tinggi di Malang” kata Ina, yang merupakan generasi awal Tanoker di sela kesibukan banyak tamu mencoba belajar egrang di halaman Tanoker.

Tidak terbatas pada anak-anak, Ciciek Farhah bersama para relawannya telah mengembangkan Ledokombo menjadi wilayah yang “bergerak” untuk menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masyarakatnya.

Mantan-mantan Buruh Migran Indonesia yang berasal dari Ledokombo, telah merintis dan mengembangkan kawasan ini sebagai Kampung Wisata Belajar dengan aneka paket Study Tour seperti untuk belajar menjadi petani dan peternak, dan kegiatan outbond yang berbasis permainan tradisional (egrang, terompah panjang, gobak sodor, polo lumpur, dan sebagainya).

Peserta meriah

Mengembangkan pula menjadi pusat kerajinan yang memproduksi beragam jenis seperti baju, tas, mainan tradisional, alat-alat dapur dan sebagainya. Menghidupkan kuliner utamanya berbagai jenis minuman tradisional, serta mengembangkan produksi pertanian organik.

Belajar, bukan lagi hanya ditujukan kepada anak-anak, masyarakat juga turut berperan dalam proses belajar. Para relawan Tanoker telah mengembangkan sekolah buk-ibu (Sekolah Perempuan), sekolah pak-bapak, untuk mulai  membicarakan kembali pengasuhan yang layak bagi anak, terutama kalau salah satu dari atau kedua orang tua memilih menjadi buruh migran dan meninggalkan rumah dalam jangka waktu cukup panjang.

Perkembangan yang terjadi di Ledokombo menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Jember dan memberikan apresiasinya dengan memasukkan agenda Festival Egrang menjadi salah satu kegiatan dari Pemerintah kabupaten. Kita dapat melihat banner-banner tentang Festival Egrang dengan ukuran besar bertebaran di tempat-tempat strategis seperti di bandara dan seputaran alun-alun Kabupaten Jember.

“Di tahun ke delapan ini, festival ini resmi menjadi festival tahunan Kabupaten Jember, dan akan menjadi agenda rutin untuk kita semua,” demikian ditegaskan oleh Faida, Bupati Kabupaten Jember, di acara pembukaan Festival Egrang.

Oh, ya, saya sendiri, sungguh menikmati rangkaian acara yang disajikan, seperti adanya jambore anak, saling belajar antara anak, dan saling belajar dari para tokoh pembaharu yang mengembangkan pengasuhan berbasis anak, yang mana berasal  dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Malang, Indramayu, Kerawang, Bandung, Garut, Bandar Lampung, Makassar, Sumba Timur, Lombok Timur, Lombok Tengah. Dan tentu saja Festival Engrang-nya itu sendiri. Turut memeriahkan acara adalah tari-tarian dan kelompok musik.

SupoHadir pula dalam acara ini adalah Yohana Susana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP & PA); Yudi Latif,  Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP); Dr. Pribudiarta Nur Sitepu, MM, Sekretaris Menteri PP & PA; Dr Sudjatmiko MA, Deputi 6 Kemenko PMK; Valentina Ginting, Asdep PA dalam Situasi Darurat;  Bupati dan wakil Bupati Kabupaten Jember, Para Kepala OPD atau perwakilannya, serta aktivis anak dari berbagai kota

Terima kasih kepada para panitia, masyarakat Ledokombo yang telah memfasilitasi dan menyediakan rumah-rumahnya selama kami tinggal di sana. Sukses selalu, dan kiranya tak berlebihan untuk berharap, belajar dari Ledokombo,  mampu menginspirasi para orang dewasa untuk melakukan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Majulah dan sejahtera anak-anak Indonesia!

 

Yogyakarta, 25 September 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: