Tinggalkan komentar

Catatan 14 Agustus

Catatan 14 Agustus

 

STB-Sandiwara-2

Hari ini, 14 Agustus…

Tanggal kelahiran orang-orang terdekat. Annisa Shavira Agusti Mardhika, anak pertama saya. Dedy Prasetyo, sahabat yang pernah bekerja bersama dalam program anak jalanan  di Semarang yang kini lebih banyak memasuki dunia bisnis. Dan, Anik Wusari, sosok yang telah menjalani perjalanan panjang dalam dunia NGO, dan memasuki isu-isu “keras”. Kuucapkan panjang umur bagi mereka semua dalam sehat dan semangat terjaga, terangkul dalam bahagia pada setiap langkah perjalanan hidup.

Selain itu, tanggal tersebut merupakan tanggal kelahiran Bapak: Umar Machdam! Doa kami semua agar Bapak mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Ia telah berpulang sejak 8 Maret 1996.

Sekitar satu setengah tahun yang lalu, istriku bercerita bahwa anak pertamaku bertanya: “Bu, Vira punya Kakek dari Bapak nggak sih? Kok tidak pernah diceritakan,”

Pertanyaan sederhana yang menyentakkan diriku. Ya, Anak-anakku belum pernah bertemu dengan kakeknya. Keinginan kakeknya pula untuk melihat cucunya, sebelum berpulang yang tak terpenuhi, saat kami menunda kepergian ke Bogor saat lebaran tahun 1966 itu. Selebihnya, baru tersadarkan, kami semua di rumah juga tidak pernah menceritakan tentang kakeknya kepada anak-anakku.

Berawal dari pertanyaan itu, aku tersentak pula, saat mengenang Bapak, ternyata banyak hal yang tidak atau belum kuketahui. Kebersamaanku dengannya memang terasa singkat. Saat berumur 14 tahun, kami telah berpisah. Sekali bertemu pada awal tahun 1990-an mengabarkan rencana pernikahanku. Setelah itu tak bertemu lagi.

***

Bapak, lahir dan besar di Bogor, di daerah Lolongok-Empang, yang terkenal sebagai kawasan orang Arab. Ya, Bapak keturunan Arab. Mahdami. Tentang inipun saya tidak banyak tahu. Baru pada lebaran tahun kemarin, bersama keluarga berkesempatan mengunjungi rumah Ali Mahdami di kawasan Cijantung. Saya teringat saat kecil beberapa kali pernah berkunjung ke rumahnya. Dari beliau kami mendapatkan informasi tentang sejarah Mahdami.  Ada dua kelompok, pertama yang berada di Bogor yang sudah ratusan tahun berada di Indonesia, dan kelompok kedua, tiga bersaudara yang datang dan tinggal di Surabaya sekitar tahun 1940-an. Keduanya dipertemukan pada masa perang,  saat  anggota keluarga Mahdami dari Bogor tertangkap Belanda dan ketika dibawa truk, sopirnya adalah dari fam Mahdami, yang kemudian menyelamatkan.  Sejak itulah tali silaturrahmi mulai terbangun.

“Mahdami. Tanpa pakai “C”. karena Umar seniman saja barangkali,” ujarnya menjelaskan, saat kami menanyakan tentang nama Machdam yang digunakan Bapak. Timbul pertanyaan, apakah nama asli Bapak adalah Umar Machdam atau Umar Mahdami?

Saat lebaran lalu tahun ini, kami sekeluarga berkesempatan untuk mengunjungi  rumah Mustafa Mahdami di Solo. Saat ingin mengetahui alamatnya dan mengontak Ali Mahdami, kami mendapat kabar mengejutkan bahwa ia telah meninggal dunia.   Doa kami semua untuknya.

Ini kali pertama aku pribadi bertemu dengan Mustafa Mahdami. Kalau namanya tidak asing, karena sering dibicarakan oleh keluarga kami.  Ialah yang menterjemahkan naskah Salman El Farisi karya Ahmad Zein yang pernah dipentaskan oleh Studi Teater Bogor pada tahun 1974 di Taman Ismail Marzuki. Beliau adalah penerima beasiswa belajar ke Mesir untuk angkatan kedua (1958), pernah tinggal di Eropa, menjadi jurnalis, dan pada tahun 1970-an menjadi Sekjend Al –Irsyad.

Sambutannya sangat hangat, usai berbincang, kami diajaknya ke kantor penerbitannya, dan dipersilahkan untuk mengambil buku-buku yang pernah diterbitkannya.

***

Ya, Bapak memang pernah aktif di dunia kesenian khususnya teater dan film pada periode 1960-1970-an. Sayangnya, kami hanya sedikit memiliki dokumentasi tentang beliau. Aku sendiri menyesali mengapa baru terpikir sekarang untuk mencari tahu dan mencoba menghimpun dokumentasi tentang Bapak.

Saat lebaran tahun kemarin, bersama adik-adikku mencoba saling sharing tentang pengalaman masing-masing, terutama pada aktivitas kesenian Bapak. Adikku nomor dua yang tampaknya lebih banyak diajak saat bapak bermain untuk televisi dan dubbing film ataupun berkunjung ke rumah kawan-kawannya.

Saat itu pula kami meminta ibu (yang juga sejak SMP aktif di dunia kesenian di Bogor) bercerita pengalaman-pengalamannya dan tentu saja juga tentang kegiatan Bapak. Beberapa informasi muncul, sayangnya periode waktunya tidak begitu jelas. Tapi penting, sebagai langkah untuk melacak lebih lanjut.

Saya beruntung, seorang sahabat Bapak sejak kecil. Mahfud yang memiliki nama pena M. Ryana Veta, yang pada tahun 1970-an aktif menulis tentang kesenian menyediakan waktu menghantarkan saya untuk berkunjung kepada para seniman Bogor. Kesempatan baik dapat bertemu dengan Adenan Taufik dan FX Poniman di rumahnya masing-masing. Kunjungan ke kantor Eman Sulaeman yang dikenal sebagai budayawan Bogor, sayangnya tidak berhasil bertemu dengannya lantaran ia tengah memiliki acara di luar.

Adenan Taufik, seorang pelukis, dan banyak terlibat dalam film sebagai penata artistik dan pernah mendapat piala Vidya. Pada tahun 1980-an, Bapak pernah tinggal di rumahnya kurang lebih setengah tahun. “Dulu kami juga membentuk tim lawak. Umar, Eman dan Saya,” katanya. Selanjutnya ia bercerita penggalan-penggalan peristiwa bersama atau tentang Bapak.

FX Poniman, mantan wartawan Kompas, dan juga pernah membuat sanggar seni di Bogor pada tahun 1970-an. Ia menyambut ramah kehadiran kami di rumahnya. Berbincang-bincang, membangkitkan  kenangan masa lalu.

Informasi berharga paling banyak saya dapatkan dari M.Ryana Veta, yang kerap memberikan potongan-potongan informasi yang dapat saya tindaklanjuti untuk melacak bahan-bahan dari pemberitaan.

***

Berawal dari mencoba melacak dokumentasi tentang Bapak, yang berkembang pada tentang kesenian khususnya teater di Bogor, pada akhirnya saya mencoba menghimpun bahan-bahan pemberitaan tentang teater di Indonesia. Sudah ribuan berita terkumpul, sejak periode 1950-an. Tapi pasti masih sangat banyak bahan yang dapat dikumpulkan.

Sasaran pencarian di sela pekerjaan adalah di Balai Arsip Jogjakarta yang terletak di Malioboro. Di tempat ini, terdapat majalah-majalah lama. Saya memilih memulainya sejak tahun 1950.  Hal menguntungkan, kita dapat mendokumentasikan dengan kamera. Tempat lainnya adalah di Balai Bahasa. Masih terdapat beberapa tempat yang kiranya menyediakan dokumentasi namun belum ada kesempatan untuk mengunjunginya, seperti perpustakaan TBY, perpustakaan daerah, dan perpustakaan-perpustakaan kampus.

Jika ada kesempatan ke luar kota dan menyinggahi Jakarta, saya mencoba untuk menyempatkan diri ke Perpustakaan Nasional. Sasarannya adalah surat kabar. Sayangnya di tempat ini dilarang menggunakan kamera. Jadi, harus memilih, memfoto-copy, dilanjutkan mengklipping agar dapat tertata dengan baik (mengingat pada surat kabar lama, kolom-kolom dalam suatu berita/tulisan sering tidak beraturan), baru mengabadikannya lewat kamera.

Jika senggang, pemberitaan atau artikel diketik ulang, dan diposting di seputarteater.wordpress.com

Itulah hobi baru yang kerapkali meletihkan tapi juga menyenangkan.

***

Walaupun belum banyak bahan didapat, pemberitaan atau tulisan oleh dan tentang kegiatan kesenian Bapak sudah mulai diperoleh. Kendati belum ada ketepatan waktu awal mula terlibat dalam kesenian, keterlibatan di dunia teater sudah dimulai sejak awal tahun 1960-an (saat SMA?). Ia terlibat dalam pementasan-pementasan dari kelompok-kelompok teater yang ada di Bogor pada masa itu (seperti Teater Muslim, Teater Gamipentas, Teater Nasional, dsb) , dan kemudian bersama kawan-kawannya membentuk Studi Teater Bogor pada tahun 1966. Bapak sendiri melanjutkan studinya di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1964-1968. Terlibat dalam film pada tahun 1964 sebagai figuran dalam film “Anak-Anak Revolusi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail.

***

Berdasarkan pemberitaan, teater di  Bogor sudah hidup sejak tahun 1950-an.  Bogor juga mencatatkan diri sebagai kota awal yang mengadakan Festival Teater secara rutin setiap tahunnya pada tahun 1955-1959. Adalah Teater Bogor (Awalnya bernama Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia/PPSI, yang kemudian atas saran dari Asrul Sani berganti nama menjadi Teater Penggemar Indonesia dan selanjutnya menjadi Teater Bogor) yang paling aktif melakukan pementasan-pementasan drama sejak tahun 1952 dan menjadi penyelenggara Festival Teater tersebut.

Pada tahun 1962, lima kelompok Teater di kota Bogor membentuk Federasi Teater Kota Bogor yang diketuai  oleh Taufik Ismail. Selanjutnya kehidupan teater di Bogor mulai sepi, dan kemudian setelah berdirinya Studi Teater Bogor, kelompok inilah yang paling aktif berkegiatan dan mendapat kesempatan melakukan pementasan di Taman Ismail Marzuki (1971, Kematian odysseus;  1973, Sandiwara; 1974, Salman El Farisi). Kelompok ini mulai vakum yang ditandai dengan pementasan “Salman El Farisi” yang dinyatakan sebagai pementasan terakhir untuk jeda dari kegiatan.

Pada tahun 1981, upaya menggairahkan kehidupan teater di kota ini ditandai dengan mendirikan Liga Teater Bogor oleh 17 Kelompok Teater Remaja Bogor. Namun sejauh mana upaya ini mampu menghidupkan kembali gairah berteater, belum didapat bahan atau informasinya.

Pada masa sekarang, berdasarkan informasi yang tersebar di media online, telah tumbuh berbagai kelompok teater baik yang berbasis di kampus, sekolah ataupun umum.  Pementasan-pementasan juga mudah kita jumpai di Bogor.

***

Terbersit niat untuk menulis tentang riwayat singkat Bapak, tentang Studi Teater Bogor, dan juga tentang dinamika perkembangan Teater Bogor, yang didasarkan pada pemberitaan-pemberitaan media massa, yang kiranya dapat diperkaya dengan wawancara dari para tokoh-tokoh kesenian di Bogor. Dapatkah terlaksana? Semoga saja.

Yogyakarta 14 Agustus 2016

Catatan: Saat menulis ini, M. Ryana Veta tengah sakit. Doa saya dan keluarga semoga kesehatannya kembali pulih, bergiat kembali I Medsos dengan haiku-nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: