Tinggalkan komentar

Masih Menulis?

Masih Menulis?

Kesekian kali, aku masih meyakini, bahwa menulis adalah soal kebiasaan. Menulis itu gampang, sebab peristiwa sehari-hari yang dilihat dan dialami, dapat menjadi sumber tulisan yang tiada habis-habisnya. Tinggal bagaimana kita dapat memaknakannya. Pemaknaan menjadi faktor yang sangat penting. Sesuatu akan bermakna, jika kita memang memaknakannya, bukan?

Walaupun keyakinan di atas masih ada dan tertanam kuat dalam kepala, tapi kuakui, bahwa sepanjang tahun 2015, tidak banyak tulisan yang dihasilkan. Ya, walaupun tulisan ringan yang sekedar dijadikan atau ditempatkan sebagai catatan-catatan harian. Padahal, banyak peristiwa, terutama dalam acara-acara dan perjalanan-perjalanan ke berbagai kota yang dilakukan. Ruang pertemuan dan sharing pengalaman oleh kawan-kawan atas kerja-kerjanya yang berhubungan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang termarginalkan, tentu patut dicatat sebagai pembelajaran berharga. Atau dalam perjalanan, misalnya di bulan Desember saja, selama sembilan hari penuh melakukan perjalanan ke daerah perbatasan di Kalimantan Barat, yang melahirkan pengalaman-pengalaman baru. Atau perjalanan-perjalanan sebelumnya. Tapi, mengapa tidak dituliskan?

Nah, itulah!  Daripada pusing mencari-cari alasan dan pembenaran, kukatakan saja: Kemalasan! Pembuktiannya sangat sederhana: hanya segelintir tulisan. Bukankah begitu?

Kemalasan, memang suatu penyakit berbahaya yang dapat mengakibatkan “kelumpuhan” jika dibiarkan secara terus menerus. Jika kukatakan bahwa menulis adalah soal kebiasaan, maka kemalasan yang membuat kita tidak menulis, apalagi dengan waktu yang berkepanjangan, akan mengakibatkan “kelumpuhan” yang benar-benar dapat membuat kita merasa tidak bisa lagi menulis. Memulainya, tentu saja dengan rajin kembali untuk membiasakan menulis. Belajar lagi. Belajar dan terus belajar, tak habis-habisnya sepanjang hidup.

Maka kukatakan dan kutanamkan niat dalam hati, kembali menulis. Menulis apa saja. Tulisan  sebagai catatan-catatan perjalanan hidup. Jika memiliki guna bagi orang lain, itu tentu sebagai dampaknya saja. 2016 telah menyambut, dan dapatkah dibuktikan? Semoga!

Jati Mas, saat pergantian tahun, 2015-2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: