1 Komentar

Aku di Sini

Aku di sini. Ya, aku masih di sini. Di sini, seolah-olah menghadapi situasi dengan perasaan yang sama. Kendati tersadar banyak hal yang berbeda. Ya, kesombongan atau justru menunjukkan kebodohan? Barangkali. Atau memang pasti!

Sosok yang menua. Saat dunia justru bergairah dengan irama waktu dan jarak tanpa batas. Masa lalu, dihidup-hidupkan untuk menghibur diri, bahwa telah “melakukan sesuatu”, bahwa telah berupaya membangun “makna’ bagi kehidupan. Sedang kita tahu, masa lalu cuma sejarah. Terpenting adalah apa yang dilakukan pada hari ini dan masa depan, bukan? Jika hidup hanya dibayang-bayangi masa lalu, tanpa berbuat apapun pada hari ini, sesungguhnya kita berupaya menghidupkan “mayat” yang masih bernafas.

Ya, begitulah. Tak selayaknyalah mengeluh apalagi menghujat perubahan yang terus hadir sedemikian cepatnya. Sesuatu yang dianggap mimpi atau khayalan pada masa lalu, kini dihadapkan sebagai bagian dari realita kehidupan.

Aku di sini. Di sini. Menikmati secangkir kopi pada malam yang menepi.

 

 

One comment on “Aku di Sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: