Tinggalkan komentar

Puisi: Dik, Mari Dik…

Dik, mari Dik, mari ke mari, duduk di teras nikmati malam walau tiada gemintang, namun tetap tersapa belaian angin, lambai samar dahan-dahan bukan dari rimbun pepohonan, serta nyanyian para tikus yang tak takut lagi tertangkap basah mata kita, namun semua, irama alam yang lekat dengan kita dan barangkali lama terabaikan. Memang, masih tersisa kenangan, indahnya alam pada masa silam, yang sebentar lagi cuma dongengan.

Dik, mari Dik, mari ke mari, hentikan sejenak tarian jemari, lepaskan kabel penghubung ke telinga, dan alihkan pandang mata dari kotak kecil ajaib, keluarlah sejenak dari penjara yang membuat pikiran terasa menggenggam dunia, sedang barangkali kita terlupa menikmati bulan yang mengintip dari sela rumpun bambu. Ayolah, mari sini.

Kuseduhkan kopi, dengan riang hati kutawarkan kepadamu, walau kutahu engkau pasti menolaknya, agar terdengar suara lagi rengek manja, “eheh… kan tahu gak suka kopi,” dan segera kembali ke dapur, meraih gelas berisi teh yang sudah dipersiapkan dan panasnya masih terasa. Kuyakin senyummu yang mempesona akan menghiasi malam dengan indahnya.

Dik, mari Dik, mari ke mari, kemana gerangan dirimu? Ahai, engkau sudah terlelap di depan laptop yang masih terbuka dengan aneka gadget yang berserak di seputarmu, dan satu diantaranya masih tergenggam dalam jemari.

Dik, pulaskan tidurmu, ya Dik. Sungguh-sungguh tidur, yang terbebas dari gangguan setiap denting irama gadget yang tiada henti bernyanyi.

Yogyakarta, 17 januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: