3 Komentar

Menyimak Sejarah dalam Lagu Anak-anak Jalanan Semarang

Salah satu pementasan PAJS tahun 1997

Salah satu pementasan PAJS tahun 1997

Lagu-lagu dari Malaysia yang tengah menjadi booming di Indonesia pada pertengahan tahun 1990-an semacam “Isabela” dari Ami Search, “Mencari Alasan” dari Exist, “Suci dalam Debu” dari Iklim, menjadi lagu yang menjadi andalan para pengamen di Semarang.

Saat itu, diriku yang tengah membantu seorang kawan (Winarso, seorang pekerja sosial yang bekerja secara individual) untuk mengembangkan kelompok anak jalanan di Semarang yang kemudian berhimpun di Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS), mulai memikirkan cara agar anak-anak jalanan dapat membawakan lagunya sendiri yang lekat dengan kehidupan mereka.

Awalnya mencoba memperkenalkan lagu-lagu anak Merdeka yang pernah kukenal. Selanjutnya membuat lirik yang kemudian dijadikan lagu oleh Catur Adilaksono yang lebih dikenal dengan panggilan Wak Yok. Lagu tercipta, diperkenalkan ke para anak jalanan, yang kebetulan hampir semuanya adalah pengamen di bus-bus kota, dijadikan sebagai lagu yang dinyanyikan saat berkumpul bersama sehingga lagu tersebut dapat lekat dan dapat dinyanyikan oleh mereka.

Beberapa lagu tercipta, kemudian mulai mendorong anak-anak sendiri untuk menuliskan pengalaman hidup dan pandangan-pandangannya. Tulisan-tulisan tersebut dipilih dan dijadikan lagu. Selain Wak Yok, turut pula untuk menggubah lagu secara bersama adalah Umar (ahai, kemana gerangan dirinya setelah pulang ke Malang?), Ricky yang kerap dipanggil “Mbah”, dan Yuli Sulistyanto yang lebih akrab dipanggil “BDN” lantaran saat bergabung dirinya bekerja di Bank BDN depan Taman Tugu Muda. Ada pula Iis dan Budi.

“Anak Jalanan”, “Potret”, “Katanya”, “Thole”, dan “Satu Rasa”, merupakan lagu-lagu awal yang mulai dinyanyikan oleh para pengamen. Pada saat berkumpul, mereka sering mengisahkan respon baik dari para pendengarnya yang tidak segan memberi uang lebih dari biasanya. Kadang para penumpang juga bertanya dan mengajak berbincang-bincang, dan diantaranya singgah di rumah singgah anak jalanan yang terletak di Lemah Gempal. Diantara mereka pula, akhirnya ada yang menjadi Relawan untuk belajar dan bekerja bersama anak-anak jalanan.

Lagu yang ter cipta pada masa itu memang mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari yang dialami oleh anak jalanan. “Thole” misalnya menceritakan tentang kehidupan anak yang biasa dipanggil si “Dul” yang putus sekolah karena mendapat kekerasan dari guru dan orangtuanya lalu lari dari rumah dan menjadi anak jalanan.

“Katanya” mengisahkan situasi kehidupan anak jalanan yang dianggap sampah dan menjadi incaran razia petugas ketertiban kota. “Satu Rasa” merupakan lagu untuk membangun kebersamaan.

Selanjutnya mulai tercipta lagu-lagu yang dapat dikatakan sebagai catatan dari berbagai peristiwa yang dialami.

“Ujung Tahun Tugu Muda”, merupakan lagu yang merespon renovasi gedung yang dimaksudkan untuk menjadi Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah dengan biaya yang fantastis pada masa itu, yang langsung mengancam keberadaan anak jalanan yang biasa menggunakan Taman Tugu Muda sebagai tempat tinggal.

Selamat datang istana yang angkuh berdiri
Selamat tinggal ilalang yang punya arti
Selamat jaya tugumuda kalungi medali
Kubertanya pada sang matahari .

Ini dilanjutkan dengan lagu “Kisah Gitar Hitam”, yang ditulis oleh Dwi “Gathel” tentang tergusurnya para anak jalanan yang tinggal di Taman Tugu Muda.

Selamat tinggal tugumudaku
Selamat tinggal lampumerahku
Selamat tinggal rumput liarku
Selamat tinggal semuanya

Para anak jalanan dari berbagai lokasi seperti Taman Tugu Muda, Pasar Johar, Simpang Lima, Terminal Terboyo, Krapyak, Bulu, dan berbagai lokasi lainnya yang tergabung dalam PAJS, sebagian tinggal bersama di sebuah rumah sewaan dan melakukan berbagai kegiatan untuk menunjukkan kreativitas mereka. Rasa kebersamaan terwujudkan dalam lagu “Satu Rasa” dan “Anak-anak Negeri” yang senantiasa dinyanyikan saat melakukan kegiatan bersama atau pada pementasan-pementasan di berbagai tempat.

Aku kamu dan mereka kita bersaudara
Satu hati satu rasa walau kita ada di jalan
Petik gitar dan nyanyikan syair lagu kehidupan
Dalam hati ada janji melangkah pasti hidup mandiri
(Satu Rasa)

di jalanan kami bersandar
di kehidupan kami belajar
Kita bersaudara
Kita bersaudara
(Anak-anak Negeri)

Sayangnya, rumah tersebut dihancurkan oleh sekelompok preman, yang berdasarkan hasil investigasi, tampaknya didorong oleh kekuatan-kekuatan tertentu. Peristiwa ini juga tercatat dalam lagu “Lemah Gempal”.

Di rumah belajar, Lemah Gempal
Dihancurkan oleh preman, sehingga kami meninggalkan rumah
Hidupku bagaikan burung, yang tak tentu arah
Kemana harus kumencari, kedamaian

Paska penghancuran rumah, anak-anak jalanan tersebar ke berbagai kota untuk beberapa waktu. Selanjutnya beberapa anak, mulai kembali ke Semarang, mengumpulkan uang dari sesame mereka dan dukungan dari para pihak yang bersimpati, yang mana hasilnya digunakan untuk menyewa rumah lagi.

Ya, ini catatan-catatan peristiwa hampir 20 tahun yang lalu. Sayangnya, catatan-catatan atas lagu yang pernah terhimpun telah lenyap entah kemana. Upaya untuk mengumpulkan pernah dilakukan, dan bahkan berencana mengabadikan ked alam album lagu jalanan. Sayangnya, pembuatan album tidak jadi terlaksana. Beruntung, masih ada rekaman-rekaman dari sebagian kecil lagu tersebut, yang dinyanyikan oleh Wak Yok dengan rekaman sederhana menggunakan alat rekam biasa. Setidaknya, tidak lenyap seluruh catatan perjalanan yang ada.

Ingin mendengarkan?
Jangan ragu klik di SINI, dan dengarkan saja secara Merdeka !

Yogyakarta, 8 Pebruari 2015

3 comments on “Menyimak Sejarah dalam Lagu Anak-anak Jalanan Semarang

  1. […] soal lagu. Setelah memposting tulisan tentang lagu-lagu anak Merdeka dan lagu anak jalanan Semarang, kini saya mau menuliskan tentang lagu Rakyat Merdeka. Jika lagu Anak Merdeka ditujukan kepada […]

  2. Sekitar 35 tahun lalu aku juga anak jalanan Semarang, cari recehan mobil parkir jl pandanaran, jual koran majalah, hingga jadi suka baca baca.
    Pengalaman menyedihkan jualan sate pinggir jalan digusur satpol pp, semua ancur tinggal bayar utang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: