Tinggalkan komentar

Catatan Awal Tahun

Hari ini, sudah berganti tahun. Semalam, aku bersama istriku memutuskan untuk tidak keluar. Cukuplah di dalam rumah. Namun masing-masing asyik di depan monitor. He.he.h.e.he. Sedangkan kedua anakku, sudah memiliki agenda sendiri bersama teman-temannya.

Percikan dan letusan kembang api, jelang, saat dan sesudah pergantian tahun, terlihat memecah kegelapan malam di segala penjuru. Sempat menikmati sebentar dari pinggir jalan depan rumah bersama para tetangga.

Lantas, apakah yang istimewa dari pergantian tahun? Bukankah ia hadir secara rutin sesuai dengan iramanya? Masing-masing orang memang dapat memiliki alasan tersendiri. Seperti bagaimana mensikapi dan memaknakan tanggal kelahiran yang juga rutin hadir dalam irama waktu. Tapi tampaknya, membangun harapan dan merancang rencana menjadi pilihan dari sebagian besar orang.

Aku sendiri, pada pagi ini mencoba bertanya, tentang apa yang harus dimaknakan pada awal tahun 2015 ini? Pikiran melayang-layang, mencoba mengingat perjalanan kehidupan selama tahun 2014. Lalu mencoba membandingkan dengan kehidupan di tahun 2013. Apakah ada perubahan berarti dalam diri dan kehidupan? Ternyata sulit juga untuk menjawabnya.

Kehidupan, bukanlah jalan yang lempang di mana kita dapat memacu lurus ke depan sesuai dengan keinginan kita. Kehidupan seperti sungai dan jalan yang berliku. Kehidupan seperti perbukitan yang menurun dan mendaki. Pada penggal-penggal jalan, seringkali harus dihadapi jalan berlubang, jalan buntu, atau curamnya jurang yang mengancam, dengan cuaca yang senantiasa berganti, kadang sangat ekstrem, dengan panas yang luar biasa, atau hujan sangat deras disertai petir dan angin kencang.

Kadang, kita harus menghentikan perjalanan sejenak, dengan kesadaran waktu terus berjalan. Mengidentifikasi posisi diri dalam perjalanan, membuka peta arah, dan mencari peluang untuk mencapai titik-titik tujuan dan perhentian selanjutnya. Memang, kesadaran ini kerapkali terabaikan. Kita disadarkan pada saat menemukan tembok penghalang atau jalan buntu, atau terjatuh ke dalam jurang.

Sebagai manusia yang sempurna, melekat dalam diri kita sisi baik dan sisi buruk. Tentu kita menginginkan sisi baiklah yang lebih menonjol. Kemampuan kita yang terbatas, kadang tidak mampu mengontrol hadirnya sisi buruk. Hal paling sederhana, ketika kita menggunjing seseorang, kerap bumbu-bumbu penyedap hadir untuk mendramatisir situasi dan sosok seseorang.
Kehidupan dan ruang semesta adalah tempat belajar yang paling murah namun menyimpan ilmu yang tiada habis-habisnya. Sudahkah kita memanfaatkannya? Seorang kawan pernah mengingatkan: “seringkali seseorang menyatakan berpengalaman selama sekian tahun. Pada kenyataannya barangkali ia hanya belajar dan bekerja selama satu tahun, tahun-tahun berikutnya adalah pengulangan tanpa pemaknaan,”.

Lantas, apakah yang aku petik dari perjalanan hidup pada tahun kemarin? Ahai, pikiran kadang-kadang memanipulasi sehingga kita tidak dapat berlaku jujur, dan menutup berbagai peristiwa sebagai rahasia hidup seseorang.

Yogyakarta, 1 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: