3 Komentar

Belajar dari Kasus Florence Sihombing

20140829_182621_florence-sihombing

Florence akhirnya ditahan. Demikian judul berita headline di Surat Kabar Yogyakarta, hari ini (31/8).  Setelah beberapa hari media ramai membicarakan tentang aksi dan komentar Florence yang dinilai menghina warga Yogyakarta dan mendapatkan reaksi keras, utamanya dari berbagai akun di media sosial, penahanan yang terjadi, tak urung menimbulkan reaksi negatif pula.

Di luar ketidaksukaan atau kemarahan terhadap Florence, penahanan yang dilakukan oleh Pihak kepolisian dinilai terlalu berlebihan. Hal ini dikaitkan dengan berbagai kasus lainnya yang terjadi khususnya di DIY di mana pihak Kepolisian dinilai sangat lambat atau bahkan tidak mengambil tindakan apa-apa sehingga kasusnya terasa menguap.

Endah Raharjo, seorang aktivis gerakan sosial yang tinggal di Yogyakarta yang telah membukukan karya novelnya dan pernah aktif sebagai kompasianer, misalnya menyatakan dalam statusnya:  “Awalnya aku pilih diam. Kini aku ingin bicara. Ayolah! Jangan seperti ini. Hukum jangan tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Belum lama ini ada bbrp pejabat mengumpat di depan publik dan tdk dipolisikan. Jeng Florence memang keliru, ngumbar amarah di depan umum. Tapi dia sudah minta maaf, sdh cukup di-bully, sdh ditahan… Bagiku itu sudah cukup.”

Titarubi, seorang seniman yang sukses pameran di berbagai Negara, hampir senada dalam statusnya menyatakan: “Whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat??? Gile kejam banget sih?! Gitu2 aja ditahan! Lha ada banyak banget yg maki2 pejabat atau pemerintah sampe SBY. Yg menghina Jokowi atau juga Prabowo. Obor rakyat aja begundalnya masih berceceran gitu belon dipungutin. Ayoooooo dong… Kalau yg begitu aja sampe ditahan, bisa penuh tuh tahanan!!!”

Atau putri Wiji Thukul, yakni Fitri Nganthi Wani yang dengan lugas menyatakan dalam statusnya: “ Oke, Flo ditahan, berarti secara gk langsung kalian menyatakan bahwa Prabowo, Wiranto, Hendropriyono, Pembunuh Wartawan Udin, Pelaku Reklamasi, Sitok Srengenge, Dul, Rasyid Rajasa, dll ADALAH tidak lebih kejam dari dia karena mereka masih bisa bebas berkeliaran! Ndonyane wes sableng tenan!”

Kritikan juga muncul dari akademisi, politisi dan juga organisasi Non Pemerintah. Sebagai missal adalah penilaian dari Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri dari Kontras, ICJR, ELSAM, YLBHI, LBH Jakarta, LBH Pers, ICT Watch, Safenet, PSHK, LEIP dan PI-Net yang menilai penahan terhadap Florence berlebihan padahal Florence telah menyampaikan permintaan maaf. (lihat Vivanews.com) 

Awal Mula

Kasus Florence berawal  saat di Yogyakarta mengalami krisis BBM beberapa waktu lalu. Antrian panjang kendaraan bermotor berlangsung di seluruh SPBU, pun hingga tengah malam. Bensin eceran tidak bisa didapatkan. Orang menuntun motor lantaran kehabisan bensin, menjadi pemandangan di berbagai tempat.

Rabu, 27/8, di SPBU Coco Lempuyangan, ratusan motor tengah antri menunggu giliran mendapatkan BBM.  Panjangnya antrean kendaraan yang mengular membuat Florence memilih menuju antrean mobil. Deretan mobil ini sedang mengantre mengisi Pertamax. Namun petugas SPBU kemudian menolak menuangkan BBM non subsidi itu ke tangki motor Florence .

“Saat itu, ratusan pengendara motor yang mengantre menyoraki tingkah Florence,” kata Hendra Krisdianto, fotografer Tribun Jogjayang saat itu berada di SPBU. (lihat: di SINI)

Pada saat itu, seorang aparat keamanan juga terlihat mengingatkan Florence.

Persoalan muncul dan mengemuka saat Florence, yang berstatus sebagai mahasiswa S2 Notariat Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, memposting status di akun Path-nya.

 Florence

Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja,”

Menanggapi komentar rekannya di statusnya tersebut, ia menulis: 

Orang Jogja Bangs**. Kakak mau beli Pertamax 95 mentang-mentang pake motor harus antri di jalur mobil terus enggak dilayani. Malah disuruh antri di jalur motor yang stuck panjangnya gak ketulungan. Diskriminasi. Emangnya aku gak bisa bayar apa. Huh. KZL,”

Status Florence di Path, di screenshoot dan di share ke berbagai media sosial lainnya sehingga menimbulkan reaksi yang keras dari para pemilik akun media sosial. Hujatan-hujatan terhadap dirinya-pun datang bertubi-tubi. Entah siapa, ada unggahan pula tentang status-statusnya di twitter  yang bernada miring terhadap (masyarakat) Yogya.

Reaksi

Reaksi terhadap status-status Florence telah memancing amarah. Berbagai status dan kicauan hujatan terhadap dirinya terus bermunculan. Hastag #usirflorencedarijogja masuk menjadi trending topic dunia di twitter, hanya berselang satu hari setelah kejadian (28/8).

220319_demougm FlorenceTidak hanya itu, terjadi aksi massa di jalanan yang menghujat dan menuntut pertanggungjawaban Florence.

Belum cukup, beberapa ormas melaporkan Florence ke kepolisian, yang akhirnya berujung pada penahanan sebagaimana diungkap di awal tulisan ini.

Di sisi lain, Perguruan Tempat ia menimba ilmu, juga akan memanggil dirinya terkait dengan pernyataan atau kasus yang dihadapinya.

Pembelajaran

Sebuah pepatah menyatakan “mulutmu harimaumu”. Kata-kata yang terlontar dari diri kita akan melahirkan reaksi dari orang lain. Positif atau negatif, tergantung apa yang kita sampaikan.

Memang, media sosial membuka ruang kebebasan yang teramat sangat bagi kita untuk menyatakan apa saja. Tapi, jangan dilupa, apa yang kita lakukan, ada orang yang mengamatinya. Kesalahan yang dibuat, dapat tersebar ke jutaan pengguna media sosial secara cepat dan menimbulkan reaksi yang sama sekali tidak pernah kita duga sebelumnya.

Seluruh aktivitas yang pernah kita lakukan terekam dan dapat dilacak. Satu peristiwa yang membuat kita menjadi sorotan, maka akan banyak orang yang berupaya melacak sosok kita dan aktivitas yang pernah dilakukan.

Memang, kita semua memiliki pengalaman menggunakan media sosial secara semena-mena. Kasus yang masih panas misalnya adalah masa pemilihan presiden, yang tampaknya juga masih berlangsung hingga saat ini, adalah sedemikian mudah orang-orang menyebar kata-kata hujatan, menyebarkan berita-berita tidak benar atau fitnah, dan tampaknya, lepas dari jeratan hukum. Situasi ini tampaknya pula yang membuat kita menjadi enteng saja mengeluarkan pernyataan berupa amarah yang dapat menyinggung perasaan orang lain.

Kasus Florence, di luar kita memang tidak suka dengan pernyataanya, memang terlihat ada diskriminasi dalam proses hukum, jika dibandingkan pernyataan-pernyataan banyak orang yang bahkan melewati batas etika dan moral di manapun, namun tidak berlanjut pada proses hukum.

Jika, kasus penahanan Florence dianggap  sebagai pengebirian terhadap kebebasan menyampaikan pandangan, saya pribadi tidak sepakat. Kebebasan seseorang akan dibatasi oleh kebebasan orang-orang lainnya untuk tidak terusik.

Soalnya adalah: jangan sampai ada diskriminasi terhadap proses hukum.  Nah, menurutmu, bagaimana?

Yogyakarta, 31 Agustus 2014

 Sumber Foto:

Satu: di SINI

Dua: di SINI 

Tiga: di SINI

3 comments on “Belajar dari Kasus Florence Sihombing

  1. Ini komentar saya.. Saya kutip dari Facebook saya sendiri..

    ————-

    Belajar dari kasus Florence, saya jadi mikir..

    Memang sih, kalimat kritikannya kasar. Saya sendiripun juga belum tentu terima..

    Tapi, jika sampai dilaporkan ke polisi karena pencemaran nama baik, ada aksi demo, dan segala kelebayan lainnya.. Saya lama-lama jadi mikir : ini pasti perbuatan media kita.. Kasihan, masyarakatnya ketipu sama pemberitaan media. Pemberitaan media dalam kasus ini terlihat memprovokasi sekali. Membuat berita tanpa menganalisa apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Mereka awalnya (selalu) memberitakan tentang screenshot itu di Path. Karena awalnya begitu, pasti orang sudah beropini macam-macam dan tidak mau terima klarifikasi apapun.. Sehingga, ketika keluar klarifikasi dari pihak Flo, orang masih nggak percaya, nggak mau terima dan malah makin nekat..

    Persoalannya, ketika orang melaporkan hal ini ke polisi, kena UU ITE. Lha? Padahal tak ada hubungannya dengan kasus ini. Serius. UU ITE kan hanya dipergunakan untuk transaksi elektronik.. Yah.. Gagal paham deh..

    Tanpa kritikan, masyarakat dimanapun akan terjebak pada citra bagusnya saja. Apalagi untuk masyarakat Yogyakarta.. Cobalah untuk tidak terjebak pada status “Istimewa”, karena tidak ada yang teristimewa di dunia ini.. Setiap kota, setiap provinsi, setiap negara pasti ada sisi “gelapnya”. Mau pada status “Raya” atau “Istimewa” sekalipun, tidak ada kota, provinsi atau negara yang sempurna. Mau tak mau masyarakat dan pemerintah harus siap menerima kritikan.. Tapi, kritikannya tetap harus yang membangun dan tetap sopan.. Ini yang mesti disadari.

    Stigma mahasiswa selama ini adalah orang berpendidikan. Iya, kan? Tapi.. Jangan selalu terjebak pada segala macam stigma.. Stigma biasanya selalu membuat kesalahan persepsi. Orang berpendidikan tidak selalu harus jadi mahasiswa. Kalau sikapnya baik dan ilmunya mantap, itu baru orang berpendidikan.. Ilmunya pun nggak harus selalu ada di bangku sekolah.. Ilmu ada dimana-mana.. Betul? Kalau belum memenuhi hal tersebut, ya.. Saling introspeksi sajalah.

    Satu lagi, Path berbeda dengan Facebook atau Twitter. Sifatnya lebih pribadi. Orang yang mendaftar di Path, yang menyebarkan status Pathnya sendiri di Facebook dan Twitter, yang menyebarkan screenshot status Path temannya di Facebook dan Twitter, dan yang membaca berita tentang kasus ini semestinya paham tentang sisi pribadi dari Path ini. Jangan disamakan dengan Facebook atau Twitter.. Tapi, meskipun begitu, tetap pergunakan media sosial dengan baik dan benar. Kita tak pernah tahu siapa yang berkhianat diantara teman-teman yang kita approve permintaannya..

  2. apakah memang masyarakat media sosial sudah mulai melakukan “pembalasan” melalui dunia nyata, bisa berabe niiih…..
    hihihihihiii……
    lantas waktu Pemilu kmrn gimana ya…😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: