Tinggalkan komentar

Obor Marsinah, Menjaga Solidaritas dan Bara Perlawanan

Obor Marsinah 1

Kebetulan tengah berada di Semarang pada tanggal 5 Mei 2014, saat rombongan Obor Marsinah yang melakukan kirab dari Jakarta-Surabaya tengah berada di kota ini. Maka, segeralah meluncur ke bundaran air mancur, di bagian timur yang merupakan  pintu masuk Universitas Diponegoro. tempat yang sering dijakan sebagai pusat aksi-aksi mahasiswa atau berbagai kelompok pro demokrasi.

Acara yang rencana digelar pada pukul 15.00 selesai, tampaknya mundur dari jadwal, kendati sudah terlihat kerumunan-kerumunan kecil yang merupakan perwakilan  dari berbagai kelompok di Semarang yang menghimpunkan diri sebagai Komite Obor Marsinah Semarang, yakni: AJI Kota Semarang, Aliansi Gerbang Kota Semarang, LBH Semarang, Hysteria, HMI DIPO, HMI MPO, PMII Cabang Semarang, LRC-KJHAM, Permahi, ELSA, PBHI, Sekolah Tan Malaka, KPS, LPSAF, dan BEM Undip.

Obor Marsinah sendiri yang merupakan Koalisi Bersama Politik Kerakyatan untuk Marsinah, memang melakukan kirab dari tanggal 1 hingga 10 Mei 2014, dimulai dari Jakarta dan singgah di berbagai kota hingga berakhir di Surabaya. Rombongan yang diikuti 30 orang yang dikoordinir oleh Vivi Widyawati ini menggunakan  bus.

Obor Marsinah 2Sebuah panggung berukuran kecil kecil dengan banner berwarna merah bertuliskan Panggung Rakyat dengan keterangan singkat tentang Marsinah dan siluet wajahnya, serta keterangan: 21 Tahun marsinah Tanpa Keadilan.

Lagu-lagu perjuangan buruh berkumandang, seperti lagu Pembebasan atau Buruh Bersatu. Terdengar pula lagu  “Sama-sama” karya Yayak Iskra yang kerap dinyanyikan oleh berbagai kelompok aksi, yang dikemas secara ciamik sehingga enak terdengar.

Sekitar setengah empat barangkali, barulah Niniek Joemnita, yang dikenal sebagai aktvisi perempuan dan anak serta seniman muda di Semarang naik ke panggung membawakan acara. Sayang, saat dipanggil ke depan, koordinator Obor Marsinah Semarang tidak terlihat, demikian juga saat wakilnya dipanggil, kendati sosoknya ada di antara kelompok aksi, juga tidak bergerak ke panggung. Akhirnya sambutan pembuka dilakukan oleh sosok muda yang mewakili BEM Undip.

Selanjutnya Vivi, koordinator rombongan Obor Marsinah dari Jakarta, naik ke panggung, mengucapkan terima kasih kepada solidaritas kelompok di Semarang yang telah menyambut dan menggelar acara ini, meneriakkan yel-yel perjuangan, lalu meminta rombongan dari Jakarta untuk naik ke panggung. mereka bergantian memperkenalkan diri, menyampaikan orasi singkat tentang perjuangan yang dilakukan, dan meneriakkan yel-yel membangun dan menjaga semangat. Diantaranya adalah Mutiara dari Kelompok perempuan Mahardhika dan Yoyok.

“Obor Marsinah menjadi satu pemersatu bagi gerakan masyarakat sipil,” demikian ditegaskan oleh Yoyok, salah seorang anggota rombongan.

Obor Marsinah4Siapa Marsinah? barangkali kaum muda yang lahir pada tahun 1990-an belum tentu mengenalnya. marsinah adalah seorang buruh, yang aktif menjadi penggerak gerakan buruh di pabriknya. Akibat gerakan yang dilakukannya, ia tewas terbunuh dan hingga saat ini kematiannya menyimpan misteri tentang siapa-siapa pelaku yang telah tega membunuhnya.

Secara singkat dapat dikisahkan bahwa  21 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 9 mei 1993, di sebuah gubuk kelompok tani di hutan Wilangan, Nganjuk, anak-anak yang tengah bermain di sekitar tempat itu melihat ada kaki yang menjulur. Mereka menggoda dengan melempari kerikil. Setelah tak ada reaksi, mereka mendekat dan menjumpai sosok mayat Perempuan dalam posisi terlentang. Secarik resi wesel member petunjuk bagi aparat kepolisian untuk menelusuri kejelasan sosok mayat tersebut. Dialah Marsinah!

Marsinah, seorang aktivis buruh, bersama kawan-kawan yang menjadi buruh di PT Catur Putera Surya (PT. CPS) Porong nya melakukan aksi unjuk rasa pada tanggal 3-4 Mei 1993. Pada tanggal 5, 13 buruh digiring ke Kodim Sidoarjo karena dianggap menghasut unjuk rasa. Marsinah, sempat mendatangi kantor Kodim untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya. Stelah itu, pada pukul 10 malam, Marsinah lenyap. Setelah menghilang selama tiga hari, mayat Marsinah baru ditemukan di hutan Wilangan.

Delapan petinggi PT CPS termasuk pemiliknya, yakni Yudi Susanto ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi, termasuk Mutiari selaku kepala personalia PT CPS dan satu-satunya Perempuan yang ditangkap, mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya, Setiap orang yang diinterogasi dipaksa mengaku telah membuat scenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah.

Para tersangka mendapatkan vonis berkisar antara empat sampai 17 tahun. Namun mereka naik banding. Di Pengadilan tinggi Yudi Susanto dinyatakan bebas. Dalam proses selanjutnya Mahkamah Agung republic Indonesia membebaskan para terdakwa dari segala dakwaannya (bebas murni).

Putusan tersebut menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah “direkayasa”. Hingga kini kasus Marsinah tetap menjadi misteri dan menjadi salah satu sejarah kelam dalam ranah hukum di Indonesia.

Obor Marsinah 3Diduga, Marsinah dibunuh oleh aparat militer. 10 LSM di Indonesia membentuk Komite Solidaritas untuk Marsinah (KSUM) untuk menginvestigasi dan mengadvokasi kasus Marsinah, di mana Munir terlibat sebagai pengacara kaum buruh PT CPS.

Marsinah, oleh para aktivis buruh dan aktivis gerakan sosial dijadikan sebagai symbol perlawanan kawan buruh. Sebagian bahkan menuntut agar Marsinah dijadikan sebagai pahlawan nasional.

Kisah hidup Marsinah, telah difilm-kan pada tahun 2001 dengan sutradara Slamet Raharjo. Ratna Sarumpaet bersama Sanggar Satu Merah Panggung, mementaskan monolog Marsinah Menggugat pada tahun 1997 di beberapa kota di Jawa dan Sumatra. Pementasan di Bandung, Surabaya dan Bandarlampung dibubarkan secara represif oleh . Mus Mulyadi bersama para seniman keroncong membuat album Marsinah. Marjinal, kelompok music beraliran anarko-punk juga menjadikan kisah hidup Marsinah sebagai lagu.

Setiap tahun, kematian Marsinah, yang berdekatan dengan peringatan Hari Buruh, diperingati di setiap kota. Pada tahun ini, salah satu acara yang digelar adalah Pawai Obor Marsinah yang melibatkan ratusan organisasi masyarakat sipil. Peringatan senacam ini akan menjaga semangat solidaritas dan bara perlawanan bagi para aktivis pro demokrasi khususnya bagi para pejuang buruh. Selamat hari buruh!

Semarang, 5 Mei 2014

(Odi Shalahuddin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: