Tinggalkan komentar

Akhirnya Tidak Golput Lagi

Coblosan

Pemilihan umum untuk calon legislatif memang telah berlalu. Pencoblosan masal di seluruh wilayah Indonesia telah dilaksanakan pada tanggal 9 April 2013. Di luar negeri, pencoblosan telah dilakukan lebih awal sejak 30 Maret. Di beberapa daerah dilakukan pemilihan ulang lantaran kartu suara tertukar dengan daerah pilihan (dapil) lain. Namun, penghitungan cepat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey, telah memberikan gambaran hasil pemilu.

Tampaknya memang tidak ada satu partai-pun yang memenuhi persyaratan untuk mengusung calon presiden. Maka, lobi-lobi antar partai berlangsung untuk menjajagi kemungkinan terjadinya koalisi. Energi yang tersisa dari para pemain utama, kader partai, simpatisan atau relawan segera menyambut pemilihan presiden pada 9 Juli mendatang.

Pastilah banyak pengalaman yang terbaca, terdengar, atau dialami langsung selama masa kampanye hingga masa pileg. Sesuatu yang membuat kita tersenyum, terbahak, miris, sedih, jengkel, atau bahkan marah. Bagai permen berjuta rasa.

Di Yogyakarta, di mana saya tinggal, inilah masa kampanye paling aman bila dibandingkan tiga atau empat pemilu yang lalu. Tercatat bentrokan antar partai hanya terjadi dua kali, kasus kekerasan massa peserta kampanye terhadap pengguna jalan atau warga juga tidak genap dalam hitungan lima. Suara knalpot blombongan hanya terdengar pada kampanye partai tertentu saja. Tapi denyut kampanye terbuka memang sangat dirasa dibandingkan di kota-kota lain.

Pada pemilu kali ini, saya merasakan ada gairah untuk mengikutinya. Perasaan yang hampir sama saat pemilu 1999. Harapan atau mimpi perubahan bagi bangsa dan Negara ini.

Pada pemilu 1999, ketika rejim Orde Baru telah tumbang, partai pemenang pemilu dengan prosentase yang tinggi, dan tampaknya sulit diraih lagi oleh partai tersebut dan partai-partai lainnya, seperti diakui secara jujur, ketika mendapat kekuasaan menjadi lupa dan terjerumus pada permainan kekuasaan yang lalai memperjuangkan kepentingan rakyat. Tak mengherankan kepercayaan menurun pada dua pemilu berikutnya.

Beberapa tahun terakhir, Indonesia dikejutkan dengan kehadiran sosok pemimpin yang merakyat, sederhana, tidak jaim, mendengar aspirasi rakyat dengan berinteraksi langsung yang dikenal dengan sebutan “blusukan”, mengedepankan kesepakatan yang dihasilkan dari proses negosiasi dengan berbagai kelompok masyarakat (walau dapat berjalan lama). Ketika beberapa kawan menghimpun diri untuk mendorong agar sosok tersebut dapat dijadikan sebagai calon presiden, tentu saja ringan hati untuk menerima, dan berperan sebagai relawan. Tatkala sosok tersebut pada akhirnya nyata dijadikan sebagai capres, maka agar benar-benar dapat menjadi capres, maka partai pengusungnya harus mendapatkan setidaknya 20% suara. Beberapa pekerjaan saya tangguhkan, dan kemudian terlibat dalam kerja-kerja relawan. Sebagai relawan, maka saya dan banyak kawan lain berusaha untuk meluangkan waktu, tenaga, pikiran bahkan pembiayaan sendiri.

Barangkali tidak hanya saya yang terpesona dengan sosok tersebut, dengan alasan yang sama, hampir sama, atau bahkan bisa berbeda sama sekali. Saya sendiri menilai, inilah sosok pemimpin yang diidam-idamkan setidaknya oleh para aktivis gerakan sosial dan demokrasi pada masa Orde Baru. Dan masih menjadi mimpi atau harapan tatkala masa reformasi ternyata tidak menunjukkan perubahan mendasar bagi pemegang kekuasaan untuk mengedepankan kepentingan bangsa dan Negara. Hal lainnya, sosok tersebut bukanlah pemain atau kader yang terlibat dalam rejim Orde Baru dan masih muda. Bayangkan, ketiga kriteria tersebut disandangnya.
Oleh karena itulah, maka pada pemilu 2014, saya dengan keyakinan bulat, memutuskan untuk menggunakan hak suara saya dengan memilih partai pengusungnya. Saya bukan satu-satunya. Para aktivis golongan putih (golput) juga memutuskan hal serupa, kendati sebagian tetap memutuskan hanya akan menggunakan hak suara saat pemilihan presiden saja.

Hasil perhitungan cepat menunjukkan partai tersebut sebagai pemenang, namun hasil yang diperoleh dinilai tidak sesuai dengan harapan (partai). Bagi saya, dan banyak kawan, pencapresan sosok tersebut, tetap memiliki pengaruh dan membawa partai tersebut menjadi pemenang.

Sekarang, memang bersiap untuk menghadapi pemilihan presiden. Tentulah, sekali lagi saya akan menggunakan hak suara saya. Tekad pula untuk menjadi relawan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dapat saya lakukan sesuai kemampuan.

Yogyakarta, 14 April 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: