Tinggalkan komentar

Puisi Esai Tidak Lahir Kemarin Sore

Simon Hate

Simon Hate

Puisi Esai, beberapa waktu lalu menjadi perbincangan di kalangan seniman terutama para penggiat sastra, pemerhati dan sastrawan. Ini terkait dengan masuknya nama Denny JA, sebagai salah satu dari 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh, yang dinilai membawa genre baru, yakni Puisi Esai. Gelombang protes bermunculan atas terbitnya buku 33 tokoh sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Di tengah gejolak yang masih marak, Eko Tunas, seorang penyair memposting tulisan di facebook yang pada intinya menyatakan bahwa Puisi Esai bukanlah hal baru. Ia menyatakan Simon Hate, pernah mendeklarasikan puisinya sebagai puisi Esai, di awal tahun 1980-an.

“31 tahun silam, tepatnya 10 April 1983, Simon Hate menggugah Sastra Indonesia yang tidur lena dibalik selimut estetisme, dengan membacakan puisi esainya di depan sekitar 50 audience di Auditorium yayasan Hatta, Jogja. Di Amerika Selatan, Eduardo Galiano, seorang penyair telah lama menulis dengan struktur puisi menggunakan catatan kaki. Banyak sekali contoh dari satra dunia mau pun Indonesia yang dapat kita sebut untuk menunjukkan puisi esai telah hadir,” demikian dikatakan Kamerad Kanjeng atau Agus Istijanto, seniman yang baru saja menerbitkan buku kumpulan cerpennya.

Dikatakannya, peristiwa 31 tahun silam itu dikabarkan oleh Harian berita Nasional sehari sebelumnya. Pembacaan Puisi-Puisi Empat Dinasti yang diselenggarakan oleh kerjasama Yayasan Hatta dan Teater Dinasti pimpinan Fajar Suharno itu juga dihadiri oleh Budayawan Indra Tranggono (Pembahas ); Veven sp Wardana (Pembahas ), Emha Ainun Najib (Koordinator penyelenggara ), Fauzy Rizal (direktur Yayasan Hatta ) dan masyarakat sastra di Jogja. Harian Masa Kini kemudian memuat liputannya yang ditulis oleh Isti Nugroho dan Indra Tranggono pada 18 April dan 25 April ( dalam 2 seri komplit dengan photo-photonya ). Demikian juga media lain ( KR ( Harian Kedaulatan Rakyat ), Sabtu Kliwon, 9 April 1983 dengan 1 photo; harian Berita Nasional, Senin Pahing, 11 April 1983 dengan 1 photo ).

“Karena itu, secara struktur mau pun secara substansi puisi esai jelas tidak lahir kemaren sore,” jelas Kamerad Kanjeng.

Ditengah pesta demokrasi lima tahunan yang akan memilih 560 wakil rakyat di DPR RI, empat lembaga yakni Tribun Jogja – Gendhong Community – Tribun Forum dan PKN (Perkumpulan Kawula Ngayogyakarta) akan menggelas diskusi sastra “Meninjau Sejarah puisi Esai”. Diskusi ini menghadirkan Simon Hate (Penyair), Halim Hade (Budayawan) dan Eko Tunas (Penyair)

Diskusi terbuka bagi siapa saja yang berminat menghadirinya dan urun rembuk mengenai persoalan puisi Esai. Maka jangan ragu untuk memasukkan dalam agenda anda, 10 April 2014, bertempat di kafe Gendhong, Jalan Surowajan baru No. 16 Yogyakarta (Depan Hotel Satya Nugraha), pukul 16.00 – selesai..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: