Tinggalkan komentar

Tidak Ada yang Istimewa dari Tindakan Jokowi

Pada masa-masa menikmati pendidikan di Sekolah Dasar di tahun 1970-an, salah satu buku cerita yang sering saya baca adalah karya HC Andersen (2 April 1805 – 4 Agustus 1875) penulis dari Denmark yang dikenal pula sebagai raja dongeng. Saya kira, demikian pula pengalaman yang terjadi dengan kawan-kawan seusia.

Kisah-kisah yang saya ingat, bercerita tentang seseorang yang jahat akan dikalahkan oleh orang yang baik. Seperti adanya penguasa (raja) yang lalim, serakah, dan tidak peduli terhadap kehidupan rakyatnya, akan dikalahkan oleh seseorang yang akhirnya menggantikan diri sebagai raja yang bijaksana.

Ada satu kisah yang terus melekat dalam ingatan, yakni tentang seorang raja yang sangat menyukai pakaian tertipu oleh dua orang penipu yang mengaku sebagai penenun yang menyatakan bisa membuat baju yang sangat indah untuk sang raja dan hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang tidak bodoh. Terpengaruh oleh mereka, raja memberi uang yang besar untuk pembuatan bajunya. Ia mengirim utusan untuk melihat perkembangan kerja dua penenun itu. Takut dianggap bodoh, maka sang utusan yang tidak melihat apa-apa, memuji pakaian yang sedang dibuat oleh sang penenun. Sampai suatu hari sang raja akan memamerkan pakaiannya di hadapan rakyat. Ia melepaskan seluruh pakaiannya, dan mengenakan pakaian yang baru dibuat oleh penenun. Semua orang memuji, sampai ada seorang anak kecil berkata: ”Tapi, Raja tidak mengenakan apa-apa,”

Pada saat itu, mungkin pikiran saya adalah anak kecil bukanlah orang yang bodoh atau takut dikatakan sebagai orang bodoh. Sedangkan orang dewasa adalah orang-orang yang gampang untuk dibodohi.

Saat menulis tulisan ini, saya segera mencari tahu judul dari cerita itu melalui pencarian di Google. ”Baju Baru Sang Raja”, demikian judul cerita itu. Berdasarkan hasil pencarian tersebut, pernah ada postingan di Kompasiana yang membuat reportase tentang pementasan Teater Sastra UI yang terinspirasi dari kisah HC Andersen, menggunakan judul yang sama, namun dikaitkan dengan konteks sosial-politik dengan latar belakang Indonesia tahun 2027.

Selepas tengah malam ini, ingatan atas cerita tersebut muncul ketika menyimak jejak langkah Jokowi mantan Walikota Solo yang kini menjadi Gubernur DKI. Kemenangannya dalam Pilkada DKI dianggap fenomenal dan membawa harapan besar terhadap perubahan sosial-politik yang tidak terbatas di DKI melainkan bisa meluas ke berbagai wilayah termasuk di tingkat nasional. Tentu saja perubahan yang lebih baik dan mengedepankan kepentingan mayoritas warga.

Sesaat setelah menjabat, tindakannya ”mbulak-mblusuk” ke perkampungan – yang juga dilakukan saat masa kampanye – dan melakukan Inpeksi Mendadak (Sidak) ke kelurahan dan kecamatan di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, serta ditindaklanjuti dengan mengundang pertemuan dengan para pejabat kelurahan, kecamatan dan walikota se-DKI, melahirkan berbagai respon positif dan negatif. Pihak yang berpikir secara negatif memunculkan prasangka bahwa hal itu hanya untuk ”pencitraan belaka”.

Sesungguhnya, berbagai tindakan yang dilakukan oleh Jokowi untuk mengamati kehidupan rakyat dan mendengarkan suara rakyat secara langsung, mengontrol kinerja para aparat yang berada dalam jajaran di bawahnya, mengedepankan pelayanan yang baik kepada warga, dan – bilamana diperlukan – bersikap tegas terhadap birokrat yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik, dan berusaha memenuhi janji-janji yang telah dilontarkan semasa kampanye, ini bukanlah hal yang istimewa. Bukankah memang itu yang seharusnya dilakukan oleh pejabat negara?

Persoalannya: sesuatu yang ”seharusnya” itu,jarang (atau bahkan tidak pernah) menjadi praktek nyata, hanya sekedar kata-kata yang membuai tanpa makna. Mentalitas aparat negara juga menunjukkan sikap yang berkebalikan dari ”seharusnya”. Posisi untuk melayani pada prakteknya selalu minta dilayani. Kecepatan pelayanan ditentukan oleh ada tidaknya ”uang siluman”. Para pejabat yang bertanggung-jawab, kerapkali hanya menerima laporan-laporan yang membuatnya senang, tanpa mau tahu atau pura-pura tidak tahu tentang realitas yang sesungguhnya terjadi. ”Asal Bapak Senang” (ABS) telah menjadi bahasa populer pun hingga saat ini.

Maka, ketika ada tindakan ”seharusnya” itulah yang berlangsung, maka kita bisa terkesima dan merasa tidak percaya, yang memunculkan berbagai prasangka bahwa ini hanya sebagai modal awal untuk membangun citra, meninggikan posisi tawar, yang kelak juga akan berada pada situasi serupa.

Tidak ada yang istimewa dari tindakan Jokowi karena ia telah melakukan sesuatu yang memang ”seharusnya” dilakukan. Lantaran hal ini tidak biasa dilakukan oleh pejabat negara, maka memang menjadi hal yang sangat luar biasa.

Tentu saja, tindakan ”seharusnya”, bukan hal mudah yang bisa dilakukan. Pasti akan banyak tantangan menghadang, terutama dari pihak-pihak yang selama ini diuntungkan oleh praktek yang ”bukan seharusnya”, sehingga merasa terancam berbagai kepentingannya.

Warga yang barangkali sudah memuncak kemuakannya terhadap praktek-praktek kekuasaan yang mengabaikan kepentingan bangsa dan negara ini namun lihai memainkan iklan-iklan yang bisa menina-bobokan sehingga sebagian besar bisa terlena, tentu tidak hanya puas menyambut angin segar perubahan, namun juga harus tetap mengontrol secara terus-menerus agar tindakan ”seharusnya” tidak berhenti di tengah jalan, apapun alasannya.

Tentu kita harus percaya, karena para warga, bukanlah orang-orang yang bodoh. Jokowi ditantang untuk terus membuktikan langkah nyata, sehingga warga semakin tidak ragu untuk memberikan dukungan penuhnya, dan membela bila perlu.

Bila tidak? Maka pasti ada anak-anak kecil yang berani berkata jujur tanpa beban sesuai dengan karakteristiknya sebagai anak  mengatakan yang sebenarnya terjadi!

Yogya, 27 Oktober 2012

Tulisan ini pernah di posting di Kompasiana di SINI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: