Tinggalkan komentar

Kembali ke Yogyakarta

Di depan rumah (Dok. Vira)

Di depan rumah (Dok. Vira)

Seperti pernah saya singgung dalam satu tulisan sebelumnya, pada setiap bencana di Yogyakarta, selalu saja saat saya berada di luar kota. Keberuntungankah?

Pada saat gempa, saya tengah berada di Semarang dan berencana pulang sekitar pukul 02.00, namun ketiduran, dan baru bergerak pada pukul 05.00. Saat sudah naik bus, ada telpon dari istri yang mengabarkan gempa yang telah membuat banyak rumah di sekitar kontrakan rusak berat, termasuk rumah kontrakan kami.

Bus hanya sampai di Magelang. Selanjutnya menumpang secara berganti mobil terbuka yang mengarah ke Yogyakarta, hingga akhirnya di Blabak mendapatkan taksi yang baru saja mengantar tamu hotel yang akibat gempa, segera pindah ke daerah Borobudur.

Gempa bumi yang menelan korban ribuan nyawa, ribuan orang terluka dan ribuan rumah rusak berat atau bahkan hancur sama sekali.

Begitu pula saat merapi meletus di tengah malam, yang konon terbesar sepanjang 100 tahun terakhir, saya juga tengah dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta. Setiba di Jakarta, mendapat kabar bahwa bandara Yogyakarta ditutup. Beruntung, bandara Solo sempat dibuka pada sore hari, sehingga saya dapat kembali melalui Solo.

Kali ini, saat Yogya juga terkena dampak dari meletusnya gunung Kelud, berupa hujan abu yang cukup parah dibandingkan saat letusan merapi, dan membuat pemerintah DIY menetapkan  darurat selama satu pekan, posisi saya juga tengah di luar kota.

Perkembangan situasi di Yogyakarta, hanya teramati dari pemberitaan televisi, kabar dari istri dan anak-anak serta status-status di jejaring sosial.  Saya dapat membayangkan istri dan anak-anak pasti juga repot untuk membersihkan debu-debu di rumah.

Selasa (18/2), bandara Yogya dan Solo masih tutup. Re-route melalui bandara Semarang, setelah beberapa kali menunggu, selalu penuh, akhirnya memutuskan lewat Surabaya. Saya sempat kontak seorang kawan, yang mana saya berjanji akan singgih di rumahnya bila berkesempatan ke Surabaya. Dia, Lutfie Firdaus yang akrab dipanggil Boyox.

Setelah pengumuman delayed sekitar 100 menit (tampaknya lebih karena di dalam pesawat masih menunggu lama dengan alasan menunggu 6 penumpang yang belum dating), akhirnya berangkat juga dan tiba di terminal 2 bandara Juanda.

Setelah menunggu lama, dan berkomunikasi dengan Boyox, ternyata ia menunggu di terminal 1, yang jaraknya memang cukup lumayan. Ah, senangnya dapat bertemu dengan dia dan keluarganya, berkunjung ke rumah dan kantor yang sudah dirintis dua tahun belakangan untuk isu pendidikan, tepat tengah malam, pukul 12.00, meninggalkan Surabaya menuju Yogyakarta.

Selamat pagi Yogyakarta, masih tersisa debu-debu dengan aromanya yang khas. Semoga segera pulih, demikian pula bagi korban bencana di seputar Gunung Kelud. Doa pula agar semua korban bencana dapat tegar dan semangat menjalani kehidupan.

Yogyakarta, 19 Pebruari 2014

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: