1 Komentar

Ketika Calo-calo Berkeliaran

Ketika Calo-calo Berkeliaran

Pentas1

“Dengan uang, apa sih yang tidak bisa?” kata Rojak, agen pembuatan Akta saat Angel, seorang muda kaya raya yang hendak bepergian ke Paris saat mengurus pembuatan akta kelahirannya ke sebuah agen untuk melengkapi persyaratan pembuatan akta kelahiran.

“Besok harus jadi ya,” kata Angel sambil menyerahkan dokumen berikut uang jasa yang diminta oleh Rojak.

Angel-pun berlalu, meninggalkan sepasang suami-istri yang tengah menanyakan kepada Rojak tentang syarat-syarat pembuatan akta kelahiran bagi anaknya.

“Jadi?” kata sang suami.

“Ya, harus dilengkapi syarat-syaratnya semua. Ini peraturan,” kata Rojak.

Itulah penggalan dari satu kelompok yang menampilkan persoalan-persoalan dalam pembuatan akta kelahiran, yang berlangsung semalam (15/2) dalam pelatihan “Hak Anak Atas Identitas” yang diselenggarakan oleh Sanggar Anak Akar bekerjasama dengan Plan Indonesia dan AVIVA di Bumi Tapos Bogor. Acara ini sendiri berlangsung pada tanggal 14-16 Pebruari 2014.

pentas2Pelatihan yang diikuti oleh hampir seratus orang ini terbagi ke dalam dua kelas, yakni peserta anak dan peserta dewasa. Pada beberapa materi, diskusi dan roleplay dilakukan penggabungan antar anak dan orang dewasa.

Pementasan, diikuti oleh 10 kelompok yang masing-masing tampil dengan durasi waktu antara 12-15 menit. Acara yang dimulai pada pukul 20.00 baru berakhir menjelang tengah malam. Namun, para peserta terlihat masih bertahan dan semangat untuk menyaksikan pementasan dari kelompok lainnya.

Secara umum, sebagian besar kelompok menceritakan tentang bagaimana proses pencatatan kelahiran yang dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan guna menyekolahkan anak-anak mereka. Proses kepengurusan, ditampilkan keberadaan para calo, yang justru prakteknya dilakukan oleh para pelayan masyarakat seperti RT, RW, dan aparat kelurahan. Hanya satu kelompok yang menceritakan proses pembuatan akta kelahiran berlangsung lancar. Satu kelompok lain menampilkan kisah keluarga yang hampir terjerat calo, namun berkat informasi dari petugas Catatan Sipil berhasil terhindar sebagai korban calo. Satu kelompok lainnya, menampilkan persoalan tentang seseorang yang prihatin terhadap anak jalanan, memfasilitasi agar anak dapat melanjutkan sekolah dengan memasukkannya ke dalam kartu keluarga, namun gagal mencatatkan kelahirannya karena tidak terpenuhi persyaratan yang ditentukan.

“Saya terkejut ketika hadir di sini, melihat ada peserta yang masih kecil-kecil. Apalagi ketika harus berada dalam satu kelompok dengan tiga anak. Tapi setelah berproses, ternyata mereka memang luar biasa, mampu bermain tanpa malu-malu, bahkan bisa bermain drama dengan baik,” demikian komentar dari Irma, seorang ibu yang aktif di Suara Ibu peduli (SIP) Condet.

Para peserta berasal dari 11 komunitas di Jakarta, yakni: Suara Ibu Peduli Condet, Komunitas Basis Halim-Penas, Karang Taruna 10 Cijantung, Sanggar Anak Akar, Bantaran Kali Ciliwing (Bacili), Sanggar Anak Harapan, Mustika Kembang, Kebo Dungkul, Sanggar Pelangi, Komunitas Lima Jari, The Learning Forum.  Ruang pertemuan dalam pelatihan mampu dengan cepat mengakrabkan kesemuanya.

pentas3“Melihat pementasan pendek yang dilakukan oleh para peserta dalam 10 kelompok, ini sangat luar biasa sekali. Pertama mereka mampu menterjemahkan materi-materi yang disampaikan dalam pelatihan ini dengan cepat ke dalam kisah yang ditampilkan, dan kedua, kerjasama tim antara anak-anak dengan orang-orang dewasa dapat berlangsung dengan baik. Ini juga mengejutkan para orang dewasa,” demikian dikatakan oleh Susilo Adinegoro yang akrab dipanggil Pakdhe, dedengkot Sanggar Anak Akar yang juga merupakan salah satu fasilitator.

Setiawan Cahyo Nugroho dari Plan Indonesia yang mencermati seluruh penampilan dari 10 kelompok juga memberikan apresiasi yang positif. “Secara substantive, para peserta mampu menyerap materi dan menterjemahkan ke dalam pementasan. Persoalan calo yang hampir dimunculkan oleh setiap kelompok, tentu menjadi keprihatinan apabila dalam kenyataannya benar demikian. Secara prinsip, setiap manusia siapapun dan dimanapun harus mendapatkan pengakuan legal dari Negara, walau dalam pelaksanaannya masih dihadapi berbagai tantangan terutama bagi masyarakat yang terpinggirkan oleh system,”

Pada perbincangan informal, para fasilitator melihat, bahwa diseminasi tentang pentingnya akta kelahiran dapat berlangsung efektif di basis-basis masyarakat dengan menggunakan media teater melalui pementasan-pementasan pendek. Ayo, siapa akan memulai dan mengembangkannya?

Bumi Tapos, 16 Pebruari 2014

Catatan: Foto-foto dokumentasi Sanggar Anak Akar (Agus)

One comment on “Ketika Calo-calo Berkeliaran

  1. Bangga bisa menghabiskan 3 hari bersama komunitas-komunitas luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: