2 Komentar

33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh?

Halim Hade, Anindita, & kamerad Kanjeng

Halim Hade, Anindita, & kamerad Kanjeng

33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, itulah judul buku yang lebih dari sebulan ini telah menimbulkan berbagai reaksi sejak diterbitkan dan dilaunching pada tanggal 3 Januari 2014. Berbagai komentar kritis atau sekedar sinis bermunculan terutama di berbagai media sosial hingga saat ini, yang mempertanyakan tentang kriteria terpilihnya 33 nama tersebut. Dipertanyakan pula tentang beberapa nama yang dinilai layak, namun tidak dimasukkan, sedangkan secara kualitas dan ketokohan dianggap lebih baik dibandingkan beberapa nama yang ada dalam buku tersebut.

Tidak sekedar komentar berupa status, tulisan-tulisan serius juga diunggah di jejaring sosial, blog-blog pribadi, website ataupun di media cetak dengan mengkritisi buku tersebut dengan argument-argumen yang disertai data-data ataupun informasi.

Pandangan yang mengemuka, sebagian besar mempersoalkan tercantumnya nama Denny JA yang telah menerbitkan buku puisi-essay yang dinilai oleh tim juri telah memberikan pengaruh luas namun oleh kalangan sastrawan dan aktivis  sastra penilaian tersebut dianggap tidak berdasar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Secara sinis ditengarai bahwa tercantumnya nama Denny JA lantaran ia merupakan penyokong dananya.

Buku yang mengundang kontroversi

Buku yang mengundang kontroversi

Salah satu reaksi dari terbitnya buku tersebut adalah lahirnya gerakan yang menggalang petisi  online di change.org. Petisi ini mereka buat untuk mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional RI, M. Nuh untuk menunda atau pun agar segera menghentikan sementara waktu peredaran buku kontroversial ini.

Petisi ini juga mendapat reaksi dari sebagian pengkritik buku, dengan argument bahwa mendorong pelarangan buku bukan merupakan jawaban atas penyelesaian persoalan melainkan menambah persoalan baru karena tidak mencerminkan sikap kedewasaan. Pelarangan buku merupakan tragedy yang selayaknya tidak boleh terjadi. Sejarah kekuasaan Orde Baru mencatat pembungkaman kebebasan berpikir dan berpendapat melalui pelarangan buku-buku tertentu. Tentu kita tidak ingin situasi serupa terjadi, walau dilakukan oleh sesama kelompok masyarakat sipil.  Perbedaan pendapat yang dewasa: Buku harus ditanggapi atau dilawan pula melalui buku.

Kontroversi yang terjadi atas buku “33 tokoh sastra paling berpengaruh” yang diterbitkan oleh Kepustakaan populer Gramedia yang diterbitkan untuk Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, mendorong pula sekelompok orang (mengingat di banner acara tidak ada nama penyelenggaranya) untuk menggelar diskusi yang menghadirkan Halim Hade (Solo) dan Anindita S Tayf (Makasar).

Halim & AninditaDiskusi dengan tema mengurai “Cengkraman Rejim Pasar di Ranah Sastra dan kebudayaan: Menolak Buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh” telah berlangsung pada 27 Januari 2014 yang lalu di Kafe Mewah (mepet Sawah) Gendhong, Kebon Laras, di jalan Sorowajan Yogyakarta. Acara yang dihadiri lebih dari 50 orang ini tidak terbatas dihadiri oleh para penggiat sastra, tapi juga para aktivis gerakan sosial. Tampak hadir dalam acara tersebut, diantaranya Faruk HT, Sunardian Wirodono, Tegoeh Ranusastra, Budhi Wiryawan, Sigit Sugito, Bambang Isti Nugroho, Umi Kulsum, Sri Sulandari, Harry “Begi”.

Kamerad Kanjeng nama pena dari Agus Istijanto yang baru saja meluncurkan buku kumpulan cerpen “Kronjot Babi” selaku moderator membuka acara dengan mengutip pandangan dari Katrin Bandel dan Eko Tunas.

Agus mengutip Katrin yang memandang bahwa konsep buku ini tidak jelas. Pertanyaan yang dilontarkan adalah apa yang dimaksud dengan tokoh sastra paling berpengaruh mengapa perlu dipilih dan dibukukan?  Ada tiga hal yang dipersoalkan Katrin, yakni mengenai pengaruh, hubungan pengaruh dengan mutu, dan penegasan bahwa di dunia sastra  yang memiliki pengaruh itu terutama sekali adalah tulisan.

Lalu yang penting pula adalah yang disampaikan oleh Eko Tunas di dalam surat terbukanya kepada Halim Hade (yang diunggah melalui facebook). Di situ Eko melihat  dari konteks yang lebih sosial politik, Simon Hate muncul dengan puisi-puisi esainya. Pada acara pembacaan puisi-puisinya dengan Joko kamto, Simon menyatakan puisi-puisi yang dibuatnya dan puisi Joko Kamto adalah puisi esai. Itu pada tahun 1975. Pada diskusi yang cukup serius saat itu, Simon  menegaskan satu teori yang mengejutkan. Menurutnya puisi yang baik adalah puisi esai, puisi yang berisi pemikiran intelektual penyairnya, bukan soal panjang-pendeknya. Puisi paling pendek sekalipus musti berupa puisi esai. Sebab, tegasnya, puisi panjang-pendek memerlukan pengalaman membumi dan keilmuan umum.

Sunardian WirodonoSudah dapat diduga, bahwa persoalan yang paling mengemuka dalam diskusi ini adalah kemunculan nama Denny JA, sebagai salah satu dari 33 nama tokoh sastra paling berpengaruh. Bila dikaitkan dengan kehadirannya dengan puisi-puisi Esai, sebagaimana dinyatakan oleh moderator dalam pengantar awalnya yang mengutip surat terbuka Eko Tunas, itu berarti bukan hal yang baru. Terpilihnya Denny JA dianggap tidak berdasar dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

“Saya lebih cenderung melihat ini sebagai proses pencitraan. Ada kekuatan bagi siapapun sekarang yang memiliki kapital dapat menciptakan satu citra untuk meneguhkan dirinya sebagai subyek  dalam satu percaturan sosial politik dan kebudayaan atau aspek apapun khususnya dalam sastra,” demikian dinyatakan oleh Halim Hade dalam diskusi tersebut.

Halim juga menambahkan bahwa persoalan kapital ini telah menjadi bahan diskusi pada tahun 1980-an. Ia menyinggung tentang komentar Ariel Heryanto yang telah memproyeksikan bahwa majalah sastra Horison akan ambruk dan digantikan dengan Kompas, melalui sastra korannya.

“Buku ini juga sadar atau tidak, setuju atau tidak, ingin mengatakan bahwa dunia kritik sastra kita sebenarnya tidak pernah ada. Atau logika yang dibalik, bahwa kritik sastra kita sebetulnya karena dia begitu beragamnya, semua orang bisa memberi penilaian, dia hadir di mana-mana. Ini menggembiraikan sekaligus mencemaskan. karena saya masih percaya perlu adanya kriterium kriteria di mana kita mengukur satu karya kebudayaan itu,” tambah Halim Hade.

Buku tersebut tidak akan mengundang kontroversi seandainya saja judulnya tidak ditulis “tokoh paling berpengaruh” dan tidak dicetak atau hanya berupa dokumen digital. Lebih lanjut Halim Hade menyatakan sesungguhnya hal menarik yang perlu diungkap adalah mengetahui siapa yang mendesain adanya buku itu.

 Buku “33 tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” diterbitkan oleh Kepustakaan populer Gramedia yang diterbitkan untuk Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Pilihan atas 33 nama tokoh sastra untuk rentang waktu sejak tahun 1900 hingga saat ini oleh delapan (8) orang anggota tim yang diketuai oleh Jamal D. Rahman melacak rekam jejak setiap tokoh sastra dan menelisik alur perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, melalui; karya dan/atau pemikiran sang tokoh, kiprah dan kegiatan sang tokoh, dan sejauh mana pengaruh sang tokoh khususnya bagi kehidupan sastra. Lingkup pengaruh dinilai sebagai bahan pertimbangan yang penting, dengan menetapkan sekurang-kurangnya memenuhi satu dari empat kriteria yang ditetapkan, yakni:

  1. Pengaruhnya berskala nasional, tidak hanya local
  2. Pengaruhnya relative berkesinambungan
  3. Dia menempati posisi kunci, penting dan menentukan
  4. Dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak atau bahkan penentang

Tentang kriteria ini mendapatkan sorotan dari Anindita. Ia menyatakan setelah membaca kata pengantar buku itu dengan teliti dan cermat, banyak hal yang janggal dan banyak yang tidak konsisten. Antara kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh tim juri dan hasil akhirnya. Pada kata pengantar tim jurinya berkata; buku ini berbeda dari buku yang lain yang pernah ada, seperti susunnan buku Korrie Layun Rampan, dan buku-buku proyek lain yang berisi tokoh-tokoh sastra indoensai atau tokoh angkatan. Itu hanya berisi biodata dan sekumpulan karya-karya. Bedanya buku ini menurut tim 8, pada buku ini ada peristiwa dan ada peran tokoh sastra itu diletakkan dalam sejarah Indonesia.

“Buku ini menjadi penting karena menjadi bukti bahwa politik sastra itu ada. Lewat buku ini ada yang hendak berusaha diawetkan. Bukti-bukti itu ada secara eksplisit dan implisit pada pertanggung-jawaban Juri yang paling utama terlihat di dalam kata pengantarnya” demikian dikatakan Anindita.

Lebih lanjut Anindita menyatakan bahwa ia dapat mengarahkan tuduhan bahwa apa yang diawetkan dalam buku ini adalah satu paham politik yaitu pandangan humanisme universal. Sementara Kapitalis hanya menjadi media saja menjadi satu cara untuk bisa seperti dalam buku ini dikatakan bahwa buku ini akan menjadi bahan ajar bagi siswa-siswa.

Yogyakarta, 2 Pebruari 2014

2 comments on “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh?

  1. #menyimak,….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: