Tinggalkan komentar

Musyawarah Nasional ECPAT Indonesia 2014

Musyawarah Nasional ECPAT Indonesia 2014

Dok. ECPAT Indonesia

Dok. ECPAT Indonesia

Tulisan ini sebenarnya sudah diselesaikan  sehari setelah acara, namun kemudian terabaikan atau lebih tepatnya lupa untuk diposting.  Baru hari ini teringat, melihat lagi dan melakukan perbaikan serta mempostingnya.

Tulisan ini terkait dengan kesempatan mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) ECPAT Indonesia. Acara ini berlangsung  pada tanggal 16-17 Januari 2014, di Wisma PGI, Jakarta.  Munas merupakan institusi tertinggi pengambilan keputusan yang melibatkan seluruh anggota. Diriku mewakili Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN).

Tentu saja hati terasa senang lantaran ada ruang pertemuan dengan para aktivis anak khususnya yang bergiat pada upaya menghentikan prostitusi anak, perdagangan anak untuk tujuan seksual dan pornografi anak, yang mana hal-hal tersebut merupakan bentuk dari Eksploitasi Seksual (Komersial) Anak.  Para aktivis anak ini, aku tahu persis, sebagian besar adalah orang-orang yang teguh dan gigih bekerja bersama masyarakat dan juga dengan anak-anak yang telah menjadi korban ESA. Mendengar pengalaman kerja mereka, tentu melahirkan semangat baru dan inspirasi untuk mengembangankan berbagai strategi dan metodologi yang lebih baik dan tepat sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi.

Munas 1Beberapa sahabat, sebut sajalah prof. Irwanto, Ahmad Sofian, dan Akhmad Marzuki. Ketiganya  adalah sosok yang telah banyak bekerja untuk anak-anak Indonesia, dan nama mereka tentulah bukan nama yang asing. Tabrani Yunis dari Banda Aceh, yang dalam beberapa tahun terakhir mampu bertahan menerbitkan dua majalah secara rutin setiap bulannya yakni majalah Potret dan Potret Anak Cerdas. Majalah ini menjadi sarana untuk mengkampanyekan berbagai hal terkait isu perempuan dan anak, juga menjadi media bagi para perempuan dan anak-anak untuk menyampaikan ekspresi dan aspirasinya. Dede Suhendri dari Bandar Lampung  di bawah Lembaga Advokasi Anak (LADA) selama beberapa tahun terakhir bersama kawan-kawannya aktif mendampingi dan berupaya mengeluarkan anak-anak korban prostitusi . Irwan dari Setara Kita, banyak bekerja di Pulau Batam, satu wilayah yang pernah dikenal sebagai daerah tujuan bagi korban prostitusi dan perdagangan anak. Wisnu, yang bertahun-tahun bekerja di Indramayu yang dikenal sebagai daerah basis pengiriman perdagangan manusia untuk prostitusi. Juga Hening Budiyawati dari Yayasan Setara Semarang, yang sejak tahun 1997 banyak bergulat dengan kehidupan anak jalanan, anak korban prostitusi dan perdagangan, serta anak-anak yang berkonflik dengan hukum.  Tentu ada nama-nama lain, dengan reputasi pekerjaan yang tiada diragukan lagi. Suatu keberuntungan dapat bertemu dengan mereka semua, bukan?

ECPAT  merupakan sebuah organisasi jaringan di tingkat internasional yang memiliki kepanjangan End Child Prostitution, Child Pornography, and Trafficking on Children for Sexual Purposes. Kepanjangan ini adalah perubahan dari kepanjangan sebelumnya dengan singkatan yang sama: End Child Prostitution in Asian Tourism. Organisasi ini adalah salah satu penyelenggara World Congress on Sexual Commersial Exploitation of Children yang pertama kali berlangsung di Stockholm Swedia pada tahun 1996. Pada kongres tersebut diidentifikasi tiga bentuk ESKA, yang kemudian menjadi kepanjangan ECPAT yang baru dan masih digunakan hingga saat ini.

Nah, di Indonesia, para aktivis anak yang peduli pada persoalan ESKA menghimpun diri dalam organisasi jaringan yang diberi nama Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (Konas PESKA) pada tahun 2003. Organisasi ini dalam kerja-kerjanya banyak berhubungan dengan ECPAT Internasional,  kemudian terdorong untuk mendaftarkan diri sebagai bagian dari mereka. Pada tahun 2005, Konas PESKA memiliki status sebagai affiliate ECPAT dan statusnya meningkat pada Maret 2012 hingga berhak menyandang nama menjadi ECPAT Indonesia.

“Kita berharap mampu untuk mempertahankan nama ECPAT Indonesia dengan menunjukkan kerja-kerja secara baik. Jangan sampai status diturunkan menjadi afiliasi,” demikian pesan yang disampaikan oleh Ahmad Sofiyan selaku Koordinator Nasional pada saat memberikan laporan pertanggungjawaban kepengurusannya. Pesan yang memang harus dijaga oleh kepengurusan baru yang akan dibentuk juga partisipasi aktif dari segenap anggotanya.

Tujuan dari Musyawarah Nasional ini adalah untuk:

  1. Melakukan restrukturisasi badan Pengurus ECPAT Indonesia untuk periode 2014-2016
  2. Menyiapkan perampungan Anggaran Dasar, Standar Operasional Prosedur dan beberapa kebijakan ECPAT Indonesia
  3. Menyampaikan laporan kegiatan dan peaksanaan program ECPAT Indonesia selama tiga tahun terakhir
  4. Memperkuat konsolidari antar anggota dan membangun rancangan kerja ECPAT Indonesia untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Pada Munas, telah diterima laporan pertanggungjawaban dari Badan Pengurus (Board) yang telah berakhir masa tugasnya, menetapkan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta menetapkan program strategis untuk tiga tahun ke depan.

Dok. ECPAT Indonesia

Dok. ECPAT Indonesia

Melalui mekanisme pemilihan langsung, telah terpilih enam orang sebagai anggota badan Pengurus baru untuk periode 2014-2016, yakni Prof. DR Irwanto, Muhammad Marzuki, Odi Shalahuddin, Dede Suhendri, Shoim Sahriyati, dan Hening Budiyawati. Sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar, ada tiga orang Badan Pengurus yang akan diangkat yang berasal dari unsur dunia usaha dan perwakilan pemerintah yang akan diseleksi dan ditetapkan berdasarkan masukan-masukan dari organisasi anggota dan anggota Badan Pengurus sendiri.

Pada Munas ini juga dibahas tentang tiga (3) organisasi yang mendaftarkan diri untuk menjadi anggota ECPAT Indonesia. Mengingat belum ada mekanisme baku mengenai prosedur penerimaan anggota, lembaga yang telah mengajukan diri sebagai calon anggota, belum dapat ditetapkan. Munas memandatkan kepada anggota dari Banda Aceh (Tabrani Yunis-CCDE) untuk menghimpun informasi dan memberikan rekomendasi kepada Yayasan Saleum (Pidie-NAD)) , dan mandat serupa diberikan kepada Mas’ud  dari Yayasan Santai NTB untuk mencari informasi dan merekomendasikan Yayasan Mimpi Nusantara Bersinar dan Yayasan Lentera Anak Bali (Bali). Berdasarkan rekomendasi dari kedua anggota yang dimandatkan baru dapat ditetapkan apakah lembaga tersebut dapat diterima sebagai anggota atau tidak.

Secara keseluruhan, Munas berlangsung lancar dengan capaian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tentu saja ini berkat partisipasi aktif dari seluruh peserta Munas. Selanjutnya, agenda-agenda kerja yang telah ditetapkan tentu saja harus dilaksanakan. Selamat bekerja kepada Badan Pengurus yang baru, terus mendukung dan berpartisipasi segenap lembaga anggota, niscaya hasil-hasil kerja tentu akan bermakna bagi perubahan kehidupan anak Indonesia yang lebih baik, utamanya terhindar sebagai korban dan dapat terpulihkan bagi mereka yang telah menjadi korban prostitusi, pornografi dan perdagangan anak untuk tujuan seksual.

Sukses bagi semua!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: