Tinggalkan komentar

Bencana, Oh Bencana…. (2)

Bencana, Oh Bencana…. (2)

Sial, pulsa sama sekali tidak tersisa. Mendapat kabar tentang gempa bumi dengan kekuatan 6.5 SR di lepas Pantai barat Daya Kebumen,  mendorongku untuk segera mengontak para sahabat di sana. Maklumlah, tiga-empat tahun terakhir diriku banyak berkegiatan bersama para penggerak hak anak di tingkat desa di Kebumen yang berhimpun di Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD). Sudah puluhan desa yang telah membentuk KPAD, dan direncanakan seluruh desa akan dibentuk mengingat keberadaan kelompok ini juga masuk dalam ketentuan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan perlindungan Anak di Kebumen yang telah disahkan pada awal 2013. Beruntung, ketika menanyakan tempat menjual pulsa, seorang pegawai menyatakan dapat membeli darinya. Setelah pulsa terisi, segera menelpon seorang sahabat yang berada di Kebumen, menanyakan kabar dirinya dan sahabat-sahabat lain di sana. Alhamdullillah, menurutnya tidak terjadi kerusakan apa-apa. Entah di daerah-daerah yang berada di pinggiran pantai.

Pikiranku membayangkan bahwa anak-anak dan istriku dan para warga Daerah istimewa Yogyakarta dan sekitarnya,  saat mengalami gempa kebumen  yang dirasakan sangat kuat di Yogya, pasti masih melekat dalam ingatan dan perasaan saat mengalami gempa tahun 2006 dengan kekuatan 5.9 SR. Saat itu, aku juga tengah berada di Semarang hendak pulang ke Yogya. Jadi tidak mengalami kengerian dan kepanikan atas bencana yang menelan korban sekitar 6,000 jiwa dan ribuan rumah yang rusak berat bahkan hancur. Bersyukur bahwa gempa kali ini walau lebih kuat, namun belum terdengar kabar adanya kerusakan dan korban jiwa (melalui pemberitaan media masa yang terbaca sehari  kemudian -26/01- mengabarkan ratusan rumah mengalami kerusakan di beberapa wilayah seperti Kebumen, Banyumas, Purworejo dan Bantul).

Barangkali harus disikapi sebagai suatu keberuntungan bahwa dalam perjalanan hidupku, tidak pernah mengalami langsung suatu bencana yang menimbulkan kerusakan dan menimbulkan korban jiwa. Saat gempa di Yogyakarta, seperti kutulis di atas, tengah berada di Semarang. Bersama beberapa kawan sudah berencana dan bersiap berangkat pada pukul 02.00 dini hari, lantaran pagi harus tiba di Yogya untuk suatu acara. Sayang, diriku dan kawan-kawan tertidur dan baru terbangun pada pukul 05.00. Kabar dari Yogya lewat telpon istri sekitar pukul 06.00 lebih, ada gempa besar dan rumah-rumah runtuh. Informasi belum terang benar, komunikasi terputus. Sampai di Magelang, ada pengumuman, para penumpang dapat turun di Magelang atau kembali ke Semarang karena bus-bus dilarang berangkat ke Yogya. Saat kami turun, orang berkerumun di depan televisi di sebuah kios. Sepenggal yang tertangkap ada isu tsunami. Mengontak orang-orang di Yogya tetap gagal. Pembicaraan-pembicaraan di dalam bus – yang memberanikan diri untuk bergerak ke Yogya – benar-benar tidak jelas. Beragam ekspresi terhadirkan. Seorang lelaki setengah baya tampak tegang dan diam. “Habis sudah keluarga saya. Kami tinggal di Parang Tritis,” ujarnya lemah saat kutanya.

Seorang perempuan muda menangis sesenggukan. Beberapa orang berusaha menghiburnya. “Motor saya pasti hilang karena saya titipkan di Jombor,” katanya yang melahirkan tawa para penumpang lainnya namun tak lama bus kembai hening dan orang-orang terhanyut dalam kecemasan masing-masing tentang isu tsunami yang terjadi setelah gempa.

Tidak lebih dari tiga kilometer pejalanan, kami diminta turun, sopir tidak berani melanjutkan perjalanan ke Yogya. Kami akhirnya berpindah-pindah dari satu mobil ke mobil terbuka lainnya yang melaju ke arah Yogya, hingga akhirnya di Blabak melintas sebuah taksi yang langsung kami hentikan. “Tadi penghuni hotel ketakutan, lalu pindah ke Borobudur,” tutur sang sopir taksi.

Memasuki Yogyakarta, tak terlihat ada tanda-tanda kerusakan. “Ah, jangan-jangan hanya didramatisir saja,” sungut batinku. Memasuki ringroad utara, terlihat genting-genting gedung merosot, memasuki jalan solo, mulai terlihat bangunan yang retak, melewati IAIN, terlihat rumah-rumah benar-benar roboh. Jadi… Memang benar! Rumah kontrakkanku juga rusak berat.

Setelah bertemu anak-istri bersama ratusan penduduk kampung,  kami segera bergegas ke secretariat SAMIN, dan selanjutnya saya berkeliling ke daerah Imogiri. Segera kami memutuskan membuat Tim Kemanusiaan Merdeka (TKM) yang kemudian bekerja intens di 33  dusun, dan juga memberikan bantuan kepada ratusan dusun lainnya. Kerja-kerja ini didukung oleh 164 relawan.

Bencana kedua adalah meletusnya Merapi yang dikatakan terbesar selama 100 tahun terakhir, pada 4 November 2010, yang membuat ribuan orang mengungsi. Selain DIY, terkena dampak letusan adalah Klaten, Boyolali dan Magelang. Letusan di tengah malam kuketahui saat ingin mengetahui perkembangan situasi merapi saat transit bermalam di Bangkok usai mengikuti pelatihan Hak Anak di Nepal. Melalui facebook aku meminta rekan-rekan untuk mengabarkan perkembangan. Tak sabaran menunggu esok agar segera sampai di Yogya. Dari Jakarta, tidak ada penerbangan ke Yogya. Bandara ditutup. Akhirnya dapat kembali melalui Solo (yang bandaranya sempat ditutup juga). Sesampainya, langsung berkoordinasi dengan rekan-rekan di SAMIN, dan mengaktifkan kembali TKM-SAMIN.

Ya, dua peristiwa bencana besar di Yogya, tidak kualami langsung. Namun dampaknya yang luar biasa bagi masyarakat, dapat saya rasakan saat memonitoring kegiatan-kegiatan TKM dan berinteraksi dengan masyarakat secara langsung di tempat=tempat pengungsian ataupun setelah kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Kini, ribuan orang masih berada di daerah pengungsian akibat bencana. Kita tentu berharap situasi segera kembali pulih dan masyarakat dapat menjalani kegiatan sehari-hari seperti biasanya. Peran dan partisipasi dari segenap pihak untuk saling bahu-membahu mengatasi bencana, bukan untuk mencari keuntungan bagi diri dan kelompoknya, tentu menjadi harapan kita semua. Selanjutnya, mari bersama-sama turut menjaga irama alam, menjadi sahabat yang baik, memanfaatkan kekayaannya sesuai kebutuhan bersama. Semoga !  (Tamat)

Yogyakarta, 26 Januari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: