2 Komentar

Banjir… Banjir…. Banjir…

Banjir… Banjir…. Banjir… 

Sesuatu yang berlebihan, memang seringkali menjadi tidak menyenangkan, membuat susah, atau bahkan mengancam nyawa.  Air, yang menjadi salah satu sumber utama bagi keberlangsungan kehidupan manusia, tatkala berlebihan menjadi banjir, merupakan salah satu contoh yang sering kita ungkapkan.

Beberapa pekan ini, kita selalu dihadapkan pada pemberitaan tentang banjir yang merebak di mana-mana di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian dari kita tidak hanya mendengar, menonton ataupun membaca dari pemberitaan, tapi turut menyaksikan, menjadi korban yang terjebak banjir dalam perjalanan hingga berhari-hari, atau menjadi korban banjir itu sendiri yang memaksa untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Memang, Jakarta, sebagai ibukota Republik Indonesia, mendapat keistimewaan tersendiri , mendapat porsi  sangat-sangat besar (sama halnya dengan sebagian besar kekayaan negeri ini juga teristimewakan ternikmati dan berputar di Jakarta) dalam pemberitaan dan pembahasan. Banjir Jakarta juga dapat menjadi media untuk menyikut dan menenandang lawan-lawan politik. Padahal skala keluasan dan jumlah korban serta dampak buruk yang ditimbulkan, justru terjadi di wilayah-wilayah lain.  Jadi, katakanlah jika ingin melihat bagaimana para petinggi negeri ini mengelola Indonesia, dan bagaimana perang kepentingan terjadi, banjir Jakarta dapat menjadi salah satu cerminannya.

Banjir air dapat terasakan secara langsung. Namun, walau kadang kesadaran muncul, kita juga dihadapkan pada berbagai banjir lainnya. Setiap gerak, mata dan telinga kita diseret-seret arus deras iklan-iklan yang sangat bergairah menggoda kita untuk menjadi makhluk lain. Sedemikian derasnya arus iklan kadang membuat kita ingin muntah juga. Apalagi dalam perjalanan, di sepanjang ruang terbuka, iklan selalu hadir. Hal yang ditambah parah dengan iklan diri para caleg yang berlomba memasang foto terbaik dengan slogan kampanye yang luar biasa namun banyak terbukti kemudian itu hanya omong kosong belaka. Sempurnalah sudah banjir demikian yang membuat sakit kepala, tak terobatkan oleh obat macam puyer bintang tujuh.

Banjir yang tiada kalah hebatnya adalah banjir informasi. Setiap detik berlompatan beragam informasi yang hadir dan mudah diakses melalui layar-layar monitor dari beragam gadget yang telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Mengingat sifat dasar manusia adalah selalu ingin tahu, maka banyak dari kita merelakan diri terhanyut dalam arus deras informasi. Persoalannya, tidak seluruh informasi berisi kebenaran nyata. Selain itu, sadar atau tidak sadar, setiap informasi senantiasa terselip kepentingan tertentu. Maka tiada heran, bila satu peristiwa, dapat hadir dengan berbagai sudut pandang, berusaha keras menjerumuskan sasarannya untuk terhanyut. Konyol lagi, seringkali informasi yang berhasil menarik simpati public, terbukti hanya kabar bohong atau katakanlah imajinasi fiksi.

Banjir.. banjir… Banjir… Bila berlebih menjadi banjir tentu sama sekali tidak kita harapkan. Maka doa dan upaya mengatasi menjadi PR kita bersama. Doa agar banjir cepat berlalu yang menimpa para saudara kita di manapun berada.

(24 januari 2014, ocehan di Semarang, saat hujan deras, dan di sebagian wilayahnya juga lagi Banjir)

2 comments on “Banjir… Banjir…. Banjir…

  1. Banjir informasi itu adalah yang paling menjengkelkan terutama kalau kita tahu itu bohong hehehehe
    Simpati yang dalam untuk korban banjir di berbagai daerah di Indonesia. Mari ramah dengan bumi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: