Tinggalkan komentar

Sepenggal Catatan: Perjuangan Belum Usai

SEPENGGAL CATATAN: PERJUANGAN BELUM USAI 

Masa kekuasaan Orde Baru, tentu menyisakan kenangan yang lekat bagi para aktivis Organisasi Non Pemerintah (Ornop) dan aktivis mahasiswa dan akademisi serta komponen masyarakat sipil lainnya, utamanya yang bersikap kritis terhadap kekuasaan dan melakukan perlawanan dengan beragam cara/metode, yang kerapkali bersifat tertutup atau dengan kata lain bergerak di bawah tanah.

“Perlawanan” bisa jadi tidak bersikap konfrontatif. Pilihannya dapat membangun dan mengembangkan kelompok-kelompok masyarakat agar dapat mewujudkan kehidupan yang lebih baik melalui kelompok usaha bersama atau mengembangkan kegiatan-kegiatan ekonomi. Namun, kegiatan semacam ini, tidak akan luput dari pengawasan dan kontrol para aparat kekuasaan yang bilamana dianggap “mengganggu” program pemerintah, tidak akan segan-segan memanggil, menginterogasi, mengintimidasi, dan melakukan pembubaran terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang bekerja di luar jalur resmi yang direstui.

“Perlawanan” untuk membela dan mempertahankan hak-haknya, khususnya pada kasus-kasus penggusuran tanah yang sangat merebak pada masa itu, tentu akan lebih secara nyata berhadapan dengan aparat bersenjata. Politik divide et impera akan berlangsung. Tawaran-tawaran manis akan mengalir kepada para tokoh penggerak, bila tak mempan maka kebalikannya yang akan terjadi, dihantui teror-teror sepanjang waktu, termasuk pula penghilangan pekerjaan, kendati bekerja di sektor swasta.

Perlawanan, dengan kesadaran melawan penguasa Orde Baru, melalui penyebaran pemikiran-pemikiran kritis, mengorganisir, dan membangun kekuatan-kekuatan organisasi masyarakat sipil, dan melakukan gerakan-gerakan penentangan terhadap berbagai kebijakan yang dinilai merugikan kepentingan warga, maka dapat dibayangkan respon penguasa untuk menghadapinya. Ada berbagai istilah yang dilekatkan kepada para aktivis dan organisasinya agar tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat luas, yang sekaligus “mematikan” gerakan atau orang-orang yang terlibat, seperti: “Anti Pembangunan”, “Subversif”, “Organisasi Tanpa Bentuk”, “Gerakan Kiri Baru”,  “PKI” “Kader PKI”, dan banyak lainnya. Selain tindakan-tindakan yang sudah disampaikan di atas, penculikan dan penghilangan nyawa dapat terjadi, dan sejarah-pun memang telah mencatatnya!

Perlawanan pada rejim otoriter, tiada pernah henti, hadir silih berganti, dan kemudian mengkristal menjadi kekuatan bersama, saat menetapkan musuh bersama, yang hadir sebagai slogan penyemangat dan pemersatu: Turunkan Soeharto!

Pada keseluruhan proses, kita dapat belajar secara nyata tentang keyakinan, perjuangan,  dan kebersamaan, selain dalam dinamika-nya terjadi perdebatan, perselisihan bahkan “pengkhianatan”.  Saya harus menganggap sebagai suatu keberuntungan, bahwa saya hadir turut belajar, berkarya dan bekerja sebagai salah satu dari ribuan atau jutaan orang-orang yang bergerak dan berjuang guna mewujudkan mimpi-mimpi besar menuju suatu perubahan bagi bangsa dan Negara, serta kehidupan manusia yang lebih baik di muka bumi, bebas dari segala bentuk penindasan.

Adalah Din yati AR, sosok yang membawa saya ke “dunia lain” pada tahun 1984 saat saya masih kelas dua SMP, untuk tinggal dan kemudian terlibat dalam kegiatan-kegiatan Yayasan Pengembangan Budaya (YPB), dan bersama delapan orang lain menjadi anggota Dewan Pengurus.  Selepas SMA, Januari 1990, bersama tiga sahabat lain, kami membentuk Lembaga Studi dan Tata Mandiri (LESTARI). Ketika terbentuk Forum LSM DIY pada tahun 1986, pada periode kepengurusan keempat (1989-1991), saat perwakilan pemerintah tidak lagi terlibat, mulai dikembangkan adanya struktur organisasi. Saat itu dibentuk dua komisi, yakni komisi “Dokumentasi dan Publikasi” di mana saya terlibat dan komisi “Advokasi”. Saya tidak terlalu yakin, apakah pada saat itulah untuk pertama kalinya mengenal Angger Jati Wijaya mewakili Yakarda dan Budi Astuti Azhar mewakili YLKI DIY (keduanya di Komisi Advokasi) atau sudah mengenal dan berinteraksi sebelumnya.

Perubahan yang sangat tampak adalah hadirnya Forum LSM ke hadapan publik mensikapi persoalan-persoalan masyarakat melalui pernyataan-pernyataan dan juga penggalangan sumber daya manusia dari berbagai lembaga anggota untuk terlibat langsung bekerja bersama masyarakat. Situasi yang represif, menimbulkan kekhawatiran atau ketakutan sebagian lembaga anggota yang memandang kerja-kerja advokasi (yang diketuai oleh Angger Jati Wijaya yang sangat bergairah mendorong radikalisasi di Forum LSM) bisa berdampak buruk bagi lembaga anggota. Pada situasi ini, Din Yati AR selaku ketua Badan Pelaksana berperan aktif meyakinkan kepada lembaga anggota tentang pentingnya kerja advokasi untuk dipertahankan dan aktif melakukan kunjungan ke kantor-kantor lembaga anggota membangun komunikasi guna meredam gejolak yang mulai tumbuh. Hasilnya, kerja advokasi tetap berjalan dan menjadi bagian kerja penting di Forum LSM.

Saat bersama-sama menjadi anggota Dewan Pengurus periode 1998-2000 (ah, teringat dua sahabat Fritz panggabean dan Ari Suseta, anggota DP yang telah lebih dulu meninggalkan kita), Angger Jati Wijaya, selaku ketua,  sangat aktif membuka ruang-ruang komunikasi bagi segenap elemen masyarakat sipil yang saat itu tengah menggeliat.  Sekretariat Forum LSM terbuka 24 jam, dan dipastikan akan selalu ada orang-orang dari berbagai kalangan dengan beragam kegiatan di dalamnya, hingga dini hari. Kami memang lebih sering menginap di kantor Forum dibandingkan di rumah sendiri yang sebenarnya tidak jauh.

Din Yati AR, adalah sosok yang masih sering hadir di kantor Forum, sekedar bersapa atau diskusi. Teringat, ia pernah memberi hadiah satu buah ketapel untuk kawan-kawan di Forum. “Untuk perang,” katanya, yang disambut tawa kami semua (jika tidak salah ketapel juga diberikan kepada beberapa orang aktivis lain).

Dengan Budi Astuti Azhar, intensitas komunikasi dan kerja bersama sangat tinggi saat kami bersama-sama menjadi Anggota Dewan Pengurus Sekretariat Bersama Perempuan Yogyakarta (SBPY), kalau tidak salah pada periode 1996-1998. Ia yang juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan pengurus Forum LSM DIY periode 1993-1995 benar-benar menampilkan sebagai sosok ibu yang lembut dan bijak di dalam mensikapi berbagai persoalan yang muncul, tanpa terpengaruh secara emosional. Ia merupakan sahabat yang menyenangkan untuk diajak berdiskusi tentang persoalan antar sahabat, sebab ia dapat menjaga jarak.

Sosok penting, yang turut memberikan kontribusi pemikiran dan mampu merangkai ruang pertemuan bagi para aktivis Ornop, mahasiswa dan berbagai elemen lain untuk tetap teguh dalam perjuangan adalah Mulyana W. Saya tidak ingat secara persis pertama kali bertemu dengan dirinya. Apakah di awal tahun 1980-an saat saya sering berkunjung ke LBH Jakarta, atau pada pertengahan tahun 1980-an di Delanggu (tempat tinggal Didi, sosok yang pada saat itu menjadi tokoh yang menginspirasi banyak aktivis dari berbagai wilayah Indonesia, yang oleh MWK dijuluki “Begawan”). Kendati berulang kali bertemu dalam berbagai kesempatan, sebagian besar selalu dalam suasana “santai” tanpa pembicaraan serius. Pertanyaan yang kerap diajukan: “Bagaimana kabar Ibu, Di?”. Pertanyaan yang barangkali lantaran MWK  adalah kawan satu kelas ibuku saat SMA di Bogor.

Keseluruhan kerja seakan tidak sia-sia. Setelah jutaan massa bergerak menggemakan tuntutan yang sama menuntut Soeharto mundur, disertai berbagai peristiwa yang menyebabkan orang-orang terluka, hilang tanpa kabar berita, dan hilangnya nyawa, maka pada 22 Mei 1998, saat Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, bersuka-citalah rakyat Indonesia. Ini dapat dikatakan sebagai puncak keberhasilan dari gerakan bersama, walau barangkali para aktivis sama sekali tidak menyangka tuntutannya benar-benar dapat terwujud. Tidak mengherankan jika ada kegagapan untuk mensikapi dan mempersiapkan arah perubahan yang hendak dituju.

Perubahan memang terjadi. Indonesia memulai era reformasi. Perubahan mendasar yang dapat dinikmati hingga saat ini, terbukanya ruang bagi warga untuk menyuarakan aspirasi atau kepentingannya, membangun kelompok/organisasi independen, dan terlibat dalam program-program pembangunan. Namun, arah perubahan dinilai belum sesuai dengan yang dikehendaki, yang benar-benar dapat mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, aman, damai dan sejahtera.

Memang bahwa para “pejuang” saat ini telah berada di berbagai ruang, termasuk ruang-ruang kekuasaan. Apapun pilihan, tentu tergantung pada masing-masing individu. Terpenting adalah bagaimana membangun bangsa dan Negara ini tidak lepas dalam pikiran, sikap dan tindakan nyata.

Akhir kata, teriring doa bagi para sahabat-sahabat yang telah meninggalkan kita ke dunia keabadian. Budi Astuti Azhar, Din Yati AR, Angger Jati Wijaya dan Mulyana W Kusuma, yang kepergiannya dengan rentang waktu yang sangat dekat telah “mengejutkan” kami semua. Doa pula bagi para sahabat:   Fritz Johni Panggabean, Ari Suseta, Fajar Kristiyanto, Mansoer Fakih, Fauzi Abdullah, Asmara Nababan,Munir, Bambang Harry, Nuku Sulaiman, Amir Husin Daulay, Marsinah, dan para sahabat yang telah dihilangkan paksa yang keadaan hingga hari ini belum diketahui, juga sahabat yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik. Nyala api semangat tetap akan dikobarkan dalam hidup kami dan generasi-generasi penerus. Mengutip sepenggal syair Angger Jati Wijaya:

Pada setiap kabar kematian
selalu air mata kesedihan
menjelma bahasa cinta
dan duka kehilangan… kehilangan

… Berita duka untuknya hari ini
Berita duka bagi kita esok hari … 

Yogyakarta, 12 Januari 2014

Catatan: Tulisan untuk buku kenangan: JAYA DI JALAN MULYA (Mengenang Pejuang Demokrasi & HAM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: