Tinggalkan komentar

Penggalan-penggalan Kenangan Dengan Din Yati AR (4)

Ada situasi tertentu yang akhirnya memutuskan untuk menyewa rumah di dusun Gentan sebagai tempat tinggal personil YPB. Pemisahan antara tempat bekerja dan rumah tinggal. Baron & Bonnie, setelah pertemuan awal, rasanya tidak pernah hadir lagi di YPB. Joseph Oenarto sudah tidak aktif lagi dan konon pada masa itu tinggal di Timor-Timur (sekarang Timor Leste), Mohammad Farid sudah mengontrak rumah sendiri bersama istrinya di bilangan Keparakan, kemudian non-aktif di YPB, mengembangkan program Olah Anak Kreatif bersama Yayak Yatmaka yang kemudian membentuk Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN). Maryadi kost di Jln. Kaliurang KM 5. Kalau tidak salah, di YPB hanya ditempati Warsito di kamar belakang yang terpisah dari rumah induk. Rumah kontrakkan ini ditempati oleh Din Yati, Yanto AR, Syamsul, dan diriku. Selanjutnya bertambah dengan teman-teman sekolahku: Joko Utomo, Hartono dan “Kembo”.

Kantor YPB, yang semula berada di pinggir jalan Kaliurang,  berpindah di dusun yang sama, namun masuk ke dalam gang, di Pedak bagian utara. Selanjutnya berpindah ke Gentan depan SD dan pindah lagi di dusun Baransari.

Terjadi pergantian kepengurusan jika tidak salah pada tahun 1988. Koordinator Eksekutif dipegang oleh Hadi Wahono yang sebelumnya adalah Direktur KSBH. Personil YPB pada masa itu juga semakin bertambah banyak, barangkali mencapai 30-an orang. Sebagian besar direkrut dari aktivis pemuda/i yang pernah aktif di kelompok-kelompok teater, diantaranya Henny, Sunarjo, Danang Dewo Broto, (almarhum) Tavip, Purwanti, Tri, Yudi, Woko, Bambang, Irah, Dwi Andarini, dan lain-lain. Basis kerja tetap terfokus pada kelompok-kelompok masyarakat di daerah pedesaan, dan mulai memasuki ranah advokasi terhadap kasus-kasus rakyat.

Di sela proses di atas,  Warsito pindah dan tinggal di Jerman, kendati secara rutin berkunjung ke Indonesia dan meluangkan waktu untuk hadir dan berdiskusi di YPB. Disusul Yanto kembali ke Lampung. Din Yati  menyewa satu rumah lagi bersebelahan dengan rumah kontrakkan awal yang ditempati oleh dirinya, Syamsul dan Zaimah Muis (adik kandung Syamsul). Kadang, atau mungkin sering, aku dan teman-teman, sengaja kongkow di rumah kontrakannya menjelang jadwal makan. He.he.h.e.he

***

Pada akhir tahun 1989, mengatasi berbagai persoalan yang mengemuka di YPB, akhirnya diputuskan untuk mengembangkan lembaga otonom. Pada awal tahun 1990 berdirilah lembaga Studi Kesehatan (LESSAN) yang memfokuskan pada isu pengobatan alternative, Lembaga Budaya Masyarakat (Lembu Mas)  yang bekerja di wilayah Kabupaten Sleman, Yayasan lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat Desa (YLPSMD) yang bergerak di wilayah Kabupaten Gunung Kidul, dan Lembaga Studi dan tata Mandiri (LESTARI) yang bergerak di wilayah Kabupaten Bantul. Lembaga-lembaga ini menjalan program/proyek YPB, namun terbuka untuk menjalin dan membangun kerjasama program dengan pihak lain. Direktur/Koordinator lembaga, ex-officio menjadi anggota Dewan Pengurus YPB. YPB memfokuskan diri untuk mengembangkan pendanaan, jaringan dan advokasi.

YPB memindahkan kantornya dengan menyewa rumah yang dekat dengan wilayah perkotaan. Awalnya di sebuah jalan di selatan kantor Polda DIY, kemudian pindah lagi ke daerah Gambiran, depan Pom Bensin. Pada masa-masa ini, Din Yati AR  mulai terlibat aktif di Forum LSM DIY, yang terbentuk pada tahun 1986.  Ia menjadi anggota Dewan pengurus pada periode ketiga tahun 1989-1991, setelah kepengurusan Drs. Sudjatmo (Bappeda DIY) dan kepengurusan Imam Yudhotomo (Yayasan Taman Karya Bhakti).  Pada periode berikutnya, Din Yati AR terpilih sebagai Ketua Dewan pengurus (periode 1991-1993 dan 1996-1998).

Forum LSM DIY dapat dikatakan forum yang sangat unik. Ia menghimpun berbagai LSM dengan keanekaragaman ideology dan pilihan program. Ada yang memfokuskan hanya pada kegiatan-kegiatan ekonomi, ada pula yang  lebih focus pada kegiatan-kegiatan advokasi. Diskusi yang mempertentangkan tentang perbedaan bukan sekali dua kali berlangsung, namun tidak pernah meruncing pada perpecahan. Din Yati AR adalah salah satu sosok pengurus Forum LSM DIY yang rajin untuk berdialog dengan melakukan kunjungan-kunjungan ke kantor-kantor anggota.  Terutama untuk meyakinkan bahwa advokasi merupakan kerja utama dari Forum, hal mana bukan berarti meninggalkan LSM-lSM yang bekerja langsung dengan pemberdayaan masyarakat. Kebersamaan, menurutnya hal penting, dapat menjadi kekuatan dalam berhadapan dengan rejim kekuasaan yang otoriter.

Din Yati juga mampu berkomunikasi dan mendengarkan aspirasi dari kaum muda yang memiliki dinamikanya sendiri  di tengah gejolak mimpi perubahan. Ia senantiasa mengingatkan agar  keputusan tetap mengindahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta kesepakatan-kesepakatan organisasi Forum LSM DIY (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: