Tinggalkan komentar

Penggalan-penggalan Kenangan dengan Din Yati AR (3)

Pada masa awal, pekerjaanku membantu Yanto AR di bidang dokumentasi dan informasi. Tugasku mengklipping pemberitaan yang sudah diberi tanda. Selain mengklipping, Yanto mengklasifikasi pemberitaan, dan setiap minggu memfotocopy beberapa tema yang dijilid dan diantarkan kepada para pelanggan klipping. Sesekali aku diajak untuk turut mengantarkan bundelan klipping ke rumah pelanggan.

Din Yati AR (dan Joseph Oenarto) lebih banyak di Mojokerto. Saat di Yogya, ia sering mengajakku untuk turut keliling bersamanya, mengunjungi keluargaku, mengajak ke rumah Cak Nun, dan rumah kawan-kawannya. Aku hanya menjadi pendengar setia. Ia sering bercerita tentang sosok-sosok yang pernah kujumpai saat diajak berkunjung olehnya, dan juga menceritakan sosok-sosok lain yang aku belum pernah bertemu muka (walau banyak diantaranya kemudian berkesempatan bertemu pula).

Ia tahu aku suka menulis, maka sering dalam perbincangan ia menceritakan tentang karya-karya terutama puisi, dan selalu mendorong agar aku tetap menulis. Ia pernah menceritakan tentang puisi yang menurutnya membuat ia sangat terkesan. Aku lupa siapa sosok penyair yang dimaksud, namun isi puisinya menggambarkan tentang berburu kijang. “Penyair itu menggambarkan dengan baik sehingga menimbulkan imajinasi yang dalam tentang (terbunuhnya?) kijang,”

Pada masa-masa awal itu, di YPB ada satu sosok yang sering tinggal. Ia terlihat selalu sibuk di depan mesin ketik. Saat Din Yati AR ada di Yogya, ia menyatakan padaku, “Nah, kalau kamu benar-benar mau belajar menulis puisi, inilah orang yang tepat untuk belajar, Simon Hate”.

Walau sudah tahu namanya, dan juga terlibat dalam beberapa perbincangan, lantaran perkataannya, maka pada malam itu, dengan lugunya akupun bertanya pada Simon Hate tentang puisi. Penjelasan yang sangat sederhana dan tidak membuat pikiranku pusing. “Puisi itu menggambarkan sesuatu secara tidak langsung, yang membangkitkan imajinasi. Misalkan sebuah sungai, bentuknya bagaimana? (aku menjawab berkelok-kelok), Nah, kamu bisa tuliskan, sungai bagaikan ular yang tengah meliuk-liuk,”

Lalu, akupun mulai banyak belajar menulis puisi, dan selalu saja tidak pernah yakin bahwa yang kutulis benar-benar sebuah puisi, pun hingga saat ini.  Pada masa itu, Din Yati, memberikan sebendel  ketikan asli hasil terjemahannya atas buku Pablo Neruda. Sayang tidak sempat ter-copy dan terdokumentasi. Naskah terjemahan itupun sudah lenyap.

***

Menjelang kenaikan kelas, aku bersama kawan-kawan membentuk teater. Kami berencana turut meramaikan pentas seni. Sebagai tempat latihan adalah di ruang belakang YPB yang sangat luas. Dengan kemampuan seadanya, kami berlatih sendiri. Aku membuat naskah pendek. Selanjutnya, proses latihan dibantu oleh Warsito. Pementasan dinilai berlangsung sukses dan mengesankan bagi pelajar dan guru di  SMP Gentan.

Paska pementasan, kami memutuskan untuk terus melanjutkan latihan rutin. Kami menyebut diri sebagai Teater Jakal  yang diambil dari singkatan nama jalan. Din Yati  memberikan dukungan dengan menghadirkan Simon Hate dan sesekali ditemani Joko Kamto. Kesibukan mereka, membuat fasilitasi tidak berlangsung lama. Selanjutnya Warsito yang berperan penuh untuk memfasilitasi proses latihan. Keanggotaan kelompok teater berkembang tidak sebatas pelajar SMP Gentan saja melainkan pemuda-pemudi di seputar dusun Pedak dan beberapa sekolah, yang kemudian juga menjangkau orang-orang dari desa-desa lain. Pelajar SMP Gentan, yang sudah memasuki kelas tiga, hanya ada beberapa saja yang masih bertahan untuk tetap mengikuti proses latihan seperti Joko Utomo, Joko Bagong, Mulyono, Narti, Isni, Selanjutnya pada tahun 1985 ada pergantian nama menjadi SAKERA (Sanggar Kesenian Rakyat).

Saat aktif berkegiatan teater dengan teman-teman di SMP Gentan, pada masa itu tengah marak festival teater SMA. “Seharusnya mulai dirintis festival teater untuk anak SMP,” demikian komentar dari Din Yati AR. Sayang hingga sekarang memang belum ada hal seperti itu.

Proses ini kemudian dikembangkan dengan membentuk kelompok-kelompok teater di kampung masing-masing anggota, diantaranya di Donokerto-Turi, Pakembinangun, Gentan, Ngasem, kemudian meluas ke luar wilayah seperti di Imogiri, Karang Anyar, Klaten. Pada periode tertentu dilakukan latihan bersama yang melibatkan ratusan orang. Proses latihan dinilai penting sebagai sarana untuk mendiskusikan berbagai persoalan di kampung masing-masing. Berdasarkan situasi tersebut, kemudian dipilih satu tema yang diangkat menjadi sebuah cerita yang akan dipentaskan di kampung itu. Teater Rakyat, Teater Sebagai Media Pembebasan!

Sebagai media komunikasi, diterbitkan bulletin “ASPIRE” kepanjangan dari Aspirasi Remaja yang disebarkan ke berbagai kelompok teater yang sudah terbentuk. Buletin dicetak stensilan dengan menggunakan fasilitas milik Kelompok Studi dan Bantuan Hukum (KSBH) yang berlokasi di Jln. Brigjen Katamso Yogyakarta. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: