1 Komentar

Penggalan-penggalan Kenangan dengan Din Yati AR (2)

Din Yati AR bukanlah sosok asing bagiku, juga bagi keluargaku. Aku dan adik-adikku biasa memanggilnya Om Din. Pertemuan pertama dengannya, seingatku adalah di Delanggu, saat kami sekeluarga pindah dan menumpang sementara selama dua-tiga minggu di rumah Dedi, seorang tokoh Ornop, yang dikenal dengan panggilan “Begawan”, sebuah julukan yang diberikan oleh Mulyana W. Kusuma. Di rumahnya, atau di sekretariat Yayasan Sosial Sido Makmur, nyaris tidak pernah sepi. Setiap hari selalu hadir banyak orang dari berbagai kota, menginap bahkan hingga bermalam-malam, dengan kegiatan yang menurutku selalu ngobrol hingga dini hari. Ya, seingatku, perjumpaan dengan Din Yati AR adalah di rumah itu, di Delanggu.

Ketika kami pindah ke Yogya, menempati faviliun milik keluarga Subiyat, ia sering datang berkunjung. Pada kunjungan kedua, ia mengajakku untuk tinggal bersamanya. Entah mengapa, aku sama sekali tidak menolak. Dan sering akhirnya kami bersama-sama berkunjung ke rumah keluargaku. Ia sangat dekat dengan adik-adikku. Ia menjadi salah satu yang dianggap sebagai bapak kami. Hal serupa, ketika ia dianggap pula sebagai Bapak oleh kawan-kawanku semasa di SMP dan SMA.

Pada saat itu, awal Maret 1984, umurku sekitar 14 tahun. Pindah dari Jakarta, menetap sekitar seminggu di Delanggu, baru kemudian ke Yogyakarta. Kepindahan yang “nanggung” lantaran hampir kenaikan kelas, sehingga aku gagal untuk melanjutkan sekolah, dan harus menunggu tahun ajaran baru. Ya menganggur sekitar tiga bulanan baru dapat melanjutkan sekolah di SMP di Jalan Kaliurang: SMP Gentan.

Tempat tinggal Din Yati AR, adalah sekretariat Ornop bernama Yayasan Pengembangan Budaya (YPB). Selain dirinya, seingatku pada awal aku ke sana, ada beberapa orang yang juga turut tinggal bersama: Yanto AR (adik kandung Din Yati), Maryadi dan Warsito.  Akhir Maret atau awal April menyusul kemudian kukenal Mohammad Farid yang baru pulang mengikuti pelatihan di Philipina dan (almarhum) Joseph Oenarto yang telah menyelesaikan studinya di Jerman.

Seingatku tidak berselang lama setelah kehadiran Farid dan Joseph, YPB yang berdiri pada tanggal 17 Oktober 1983, mengadakan pertemuan. Hadir sosok baru, Baron dan Bonnie Setiawan yang tinggal di Jakarta. Mengejutkan, diriku dilibatkan pula dalam pertemuan itu.

Hal yang melekat dalam ingatan dari pertemuan yang berlangsung sekitar tiga hari, adalah menetapkan nama YPB dalam bahasa Inggris yakni foundation for cultural progress, strategi dan rencana program, dan pembagian kerja.  Kegiatan yang dirancang dalam waktu dekat adalah menyelenggarakan seminar (Joseph Oenarto bersama Halim Hade menyelenggarakan seminar di Solo yang kemudian menjadi isu nasional: Sastra Kontekstual), diskusi terbatas dengan tamu dari Philipina (kalau tidak salah seorang pakar CO penulis buku Jebakan-jebakan dalam Komunitas) dengan menghadirkan Arief Budiman, penerbitan buku Andree Gunder Frank tentang Teori Ketergantungan (diurus oleh Baron dan Bonnie Setiawan), dan beberapa rencana kegiatan lain, termasuk yang sudah dirintis adalah pusat dokumentasi dan informasi. Jika tidak salah ingat, keputusan untuk membantu Yayasan Mojopahit yang didirikan oleh Soewono Blong di Mojokerto juga ditetapkan dalam pertemuan ini dengan menugaskan Din Yati dan Joseph Oenarto (yang pada akhirnya akibat terjadi perselisihan di Yayasan tersebut, berimbas pada YPB dan menyebabkan Joseph Oenarto tidak terlibat aktif lagi).

Diskusi-diskusi yang berkembang dalam pertemuan itu, tentu saja sangat tidak aku pahami. Pada pertemuan awal, Joseph Oenarto selalu memberikan penjelasan tentang makna dari suatu istilah yang terlontar, namun kemudian diriku disuruh mencatat istilah tersebut untuk mencari sendiri artinya di kamus.

Pada pertemuan tersebut, hal yang sangat terkesan dan kunilai sangat luar biasa adalah semua peserta pertemuan yang hadir ditetapkan sebagai anggota Dewan pengurus. Aku anak ingusan, masih kelas dua SMP, sudah ditempatkan pada posisi yang sama dengan mereka, dan memiliki hak yang sama pula, seperti mendapatkan honor yang tidak berbeda dengan mereka yaitu sebesar tiga puluh ribu rupiah setiap bulannya. Satu keputusan yang kukira sangat langka, pun hingga hari ini, di organisasi mana-pun.

Selama pertemuan, pada saat istirahat atau usai pertemuan, Din Yati AR dan Joseph Oenarto selalu bertanya tentang apa yang kupahami dari proses diskusi yang berkembang. Keduanya selalu memberikan penjelasan tambahan yang diharapkan akan mudah aku pahami.

Proses yang kujalani, dapat dikatakan bahwa Din Yati AR adalah sosok yang telah memberikan pengaruh awal bagi diriku untuk memasuki dunia Ornop yang hingga saat ini, aku masih berkubang di dalamnya.  (Bersambung)

One comment on “Penggalan-penggalan Kenangan dengan Din Yati AR (2)

  1. Bagus Odi, tulisanmu akan sangat berharga…., tulis juga waktu kalian membuat jamur merang di Ngaglik dulu!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: