Tinggalkan komentar

Penggalan-penggalan Kenangan dengan Din Yati AR (1)

Bersama Din Yati AR di Yayasan Setara Semarang, September 2005

Bersama Din Yati AR di Yayasan Setara Semarang, September 2005

Akhirnya terlaksana pula, Jum’at sore (13/12) untuk berziarah ke makam Din Yati AR, di dusun Pedak Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Setelah beberapa kali tertunda sejak kepulanganku dari NTT Senin lalu, bersama Istri memutuskan menerobos hujan deras yang tak kunjung reda selama perjalanan. Alhamdullillah, menjelang pemakaman, hujan mereda, hanya sisa rintiknya.

Bersimpuh di tanah basah, menyapa dirinya, mengirimkan doa kepada sosok yang menjadi salah satu orang yang berpengaruh terhadap kehidupanku. Ia telah pergi ke dunia abadi, dua minggu sebelumnya, pada hari Jum’at, 29 November, saat aku berada di Ruteng, NTT. Teringat saat itu, aku terbangun pada dini hari, berada dalam kegelisahan yang tak terpahami, satu jam kemudian baru dapat tertidur lagi, dan saat terbangun, sms dari sobat Joko Utomo memberi kabar yang sungguh mengejutkan. Aku berusaha menelpon Joko, guna memastikan kebenaran berita yang dikabarkan. “Aku juga belum yakin, tapi dapat sms dari nomor 0818XXX. Tapi aku akan coba memastikan” kata Joko. Aku berusaha mengontak nomor yang diberikan Joko tapi tidak dapat tersambung, mencoba mengontak nomor Din Yati AR dengan harapan ada keluarga yang mengangkatnya, dan mengontak beberapa kawan yang juga belum mendapat kabar. Akhirnya, nomor yang diberikan Joko, dapat kuhubungi, Henny Yudhea dari LESSAN.

Spontan ingatanku melayang pada pembicaraan dengan Din Yati AR, beberapa waktu lalu saat berkunjung ke rumahnya bersama istriku. “Di, kau sudah menulis sesuatu sebagai peninggalan saat kau mati?” sebuah pertanyaan dari sepenggal pembicaraan yang berlangsung pada saat itu. Agak terkejut dengan pertanyaan yang “aneh”, aku menjawab belum pernah memikirkannya. “Aku sudah membuat tulisan. Setiap sore aku ke Lessan. Kutitipkan ke Henny, biar dibaca kawan-kawan nanti saat aku meninggal,”

Saat itu pula, aku tanyakan kepada Henny. “Ya, Pak Din memang nitip tulisan sekitar lima tahun lalu. Puisi, katanya untuk diserahkan kepada Cak Nun. Tapi hardisk nya rusak, semoga saja ada di flash disk Pak Din. Nanti aku coba tanya ke istrinya, ya, setelah tujuh hari,”

Apakah hanya puisi atau ada tulisan lain? Entahlah. Hanya dapat memastikan kelak setibanya di Yogyakarta.

Saat berdiri, memandang rumah di utara makam, yang merupakan rumah orangtua dari Dwi Andarini, istri Din Yati AR, yang terbayang justru saat resepsi pernikahannya. Pada saat itu ada panggung di halaman rumah, yang keyakinan atas ingatanku segaris lurus dengan tempat tidur panjang Din Yati saat ini.

Selepas dari makam, kami beranjak ke rumahnya. Bertemu dengan istri, anak-anaknya dan satu keponakannya. Perbincangan mengenang penggalan-penggalan peristiwa. Komunikasi terakhir melalui telpon, Din Yati menyatakan ingin bermalam di rumahku. “Aku ingin menikmati rumah-mu, ya Di,” Sayang, saat itu aku tengah berada di luar kota, dan tidak mengontak dirinya saat sudah berada di Yogyakarta.

“Oh, belum jadi menginap di sana? Ya, Pak Din beberapa kali bilang ingin bermalam di rumah Odi,” kata istrinya.

“Ada hutang lain, Mbak. Waktu terakhir kali ke sini, dia mengajak saya ke rumah Pak Nurhadi (Ketua Komisi D DPRD DIY yang juga tinggal di dusun Pedak), tapi saya bilang jangan sekarang, nanti saat ada kesempatan ke sini lagi,”

Pada saat itu perbincangan berkisar tentang arah perubahan bagi masyarakat. “Saya sekarang tidak muluk-muluk, Di. Saya lagi berobsesi membangun masyarakat di tingkat paling kecil saja. Di dusun Pedak ini, atau meluas di desa Sinduharjo. Kerja-kerja menjadi fokus, dan kita dapat memanfaatkan sumber-sumber daya dari kawan-kawan kita yang hebat untuk memberikan kontribusi di sini. Perubahan dapat dirasakan dan kita dapat melihatnya secara langsung. Saya membayangkan beberapa kawan (menyebutkan beberapa nama) dapat menangani. Saya bayangkan, saat memulai, ada reuni YPB yang melibatkan juga kelompok-kelompok masyarakat yang pernah didampingi. Bupati atau setidaknya Neni (wakil Bupati) dapat hadir dan membuka program ini”

Saat itu, saya menanyakan tentang rumah Nurhadi yang katanya ada di Pedak. “Oh, dekat. Orangnya baik, dan rumahnya ada seperangkat gamelan yang digunakan oleh masyarakat. Kamu kenal, Di?”

“Berkenalan saat saya bersama Mas farid mewawancarainya di DPRD. Ya, pernah janji bila berkesempatan ke Pedak akan mampir rumahnya,”.

“Ya, sebaiknya melibatkan dia ya, Di. Atau kita ke sana sekarang? Kita ajak diskusi tentang pengembangan masyarakat Pedak atau Sinduharjo ini,”

“Jangan sekarang, Om. Nanti kalau saya ke sini lagi deh,”

Ya, sekarang saya berkunjung ke rumahnya. Rumah barunya dan rumah keluarganya. Tak mungkin lagi bagi saya memenuhi janji yang pernah terlontar. Ah, mengapa pada saat itu saya tidak langsung menyanggupi permintaannya? Ada beberapa kali kesempatan saat ada keperluan di Jalan kaliurang yang sebenarnya tidak jauh dari rumahnya, rencana untuk singgah juga gagal. Penyesalan, memang selalu datang kemudian.

Teringat pula, sehari menjelang keberangkatan ke NTT, saya bersilaturahmi berkunjung untuk pertama kalinya ke rumah seorang kawan lama, Dadang Juliantara. Perbincangan-perbincangan dengannya, menyeret pula pada kenangan atas nama-nama kawan lainnya, diantaranya Din Yati AR, Angger Jati Wijaya, dan Mulyana W. Kusuma (Dua nama terakhir, selang dua hari, 1 Desember 2013 juga pergi mendahului kita semua).  Saat itu, ada rencana untuk berkunjung ke rumah Din Yati sepulangnya saya dari NTT.  Tapi, ah….

Tentang pesan Din Yati mengenai tulisannya, istrinya membenarkan dan menyatakan pula untuk diberikan kepada Cak Nun. Tapi dia sendiri tidak tahu tulisan yang mana. Ia menunjukkan tiga halaman puisi dalam bentuk print-out “Ini saya temukan di lemari,”

AKULAH PUISI SAMPAI KU MATI, demikian judulnya, yang diberi catatan kaki: Ini Judul Puisi.

Akulah puisi sampai kumati
Nanti
Tidak sekarang
Ku terbayang
Setelah sekarang
Ada yang baca

Alhamdulilliah

Puji Tuhan

Hallellullah

ku mulai saja#################################################

Semillah

Demikian pembuka puisinya dinyatakan. Mencermati tiga halaman puisi tersebut, saya menanyakan kepada istrinya, apakah ada halaman lainnya? Sebab tulisan ini terlihat belum tuntas. Selain itu saya menanyakan tentang tulisan-tulisan lain, jika ada, sebab rekan-rekan bermaksud menghimpun dan menerbitkan tulisan-tulisan dari Din Yati AR, Angger Jati Wijaya dan Mulyana W. Kusuma, di pertengahan Januari.  Dwi menjanjikan akan meminta Ivan (anak pertamanya0 untuk memeriksa file-file di computer.

Setelah berbincang-bincang, kami berpamitan, menuju sekretariat LESSAN, untuk bertemu dengan Henni Yudhea yang diberi amanah untuk menyimpan tulisan Din Yati dan boleh diserahkan atau dibaca orang saat ia telah meninggal. Sayang, HP saya kehabisan tenaga, sehingga tidak dapat mengontak dirinya. Lama mengetuk pintu tak terbuka, akhirnya saya memutuskan pulang, sebelum malam didera hujan kembali.

Komunikasi melalui sms pagi ini, Henny menjawab pertanyaan saya, ada 52 halaman puisi yang masih berada di hardisk komputernya (yang ketika saya telpon di hari meninggalnya Din Yati, dalam kondisi rusak). Semoga Tuhan memberkati, file puisi tersebut dapat diambil, menjadi peninggalan bagi keluarga, menjadi bacaan renungan bagi para sahabat-sahabatnya dan generasi penerus. Juga tersampaikan kepada Cak Nun.  (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: