Tinggalkan komentar

Selamat Jalan Pak Din, Bung Jati dan Kang Mul

Duka mendalam. Tiga hari terakhir mendengar kabar kepergian para sahabat sekaligus  guru, yang dikenal sebagai aktivis pro-demokrasi yang kerap menjadi penyemangat dan pemberi inspirasi. Ialah Din Yati AR, Angger Jati Wijaya dan Mulyana W. Kusuma.

Din Yati AR, lahir di Kotabumi 30 Oktober 1952 meninggal dunia pada hari Jum’at,  29 November 2013, sekitar pukul 02.00. Beliau adalah aktivis yang telah bergelut di dunia NGO sejak tahun 70-an. Pada tahun 1977, ia bersama Ashadi Siregar, Amir Effendi Siregar, Fadel Mohammad, Hotman Siahaan, dan Rizal Siregar, mendirikan Yayasan Hasta Fajar. Yayasan inilah yang membentuk Lembaga Penelitian, Pendidikan dan penerbitan Yogyakarta (LP3Y), yang telah berkontribusi mencetak banyak jurnalis. Bersama beberapa kawan turut mendirikan Yayasan Pengembangan Budaya  (YPB) pada 17 Oktober 1983.  Ia juga menjadi salah satu yang mendirikan Forum LSM DIY, dan pernah menjadi Dewan pengurus pada periode 1989-1991, 1991-1993, dan 1996-1998.

Saat bersama Angger di Tembi

Saat bersama Angger di Tembi

Angger Jati Wijaya, lahir di Bantul, 7 Januari, meninggal dunia pada 1 Desember 2013, sekitar pukul 03.00. Beliau adalah aktivis NGO yang telah aktif sejak tahun 1980-an awal. Pernah aktif di LSPS, Bersama Simon Hate, Agus Istijanto, Joko kamto, dan  Eko Winardi aktif di Kelompok Teater Rakyat Indonesia (KTRI), pernah menjadi Pengurus Forum LSM DIY dua periode pada tahun 1996-2000. Selain aktif di NGO, ia juga aktif di dunia kesenian. Menjadi salah satu pendiri Paguyuban Teater Bantul (PTB), terlibat di Teater Dinasti, dan banyak penulis puisi dan cerpen.

mulyana

Gambar yayak Iskra

Mulyana W. Kusuma, lahir di Bogor pada 23 November 1948 dan meninggal dunia pada 1 Desember 2013, sekitar pukul 21.25. Dikenal sebagai kriminolog dan pengamat politik. Ia aktif di YLBHI dan pernah menjadi Direktur Eksekutif, menjadi salah seorang pendiri Perhimbunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), salah seorang pendiri Komite Orang Hilang dan Korban kekerasan (KONTRAS) bersama (alamrhum) Munir dan menjadi Koordinator Dewan Penasehatnya, ia juga menjadi salah seorang perintis organisasi Pemantau Pemilu yakni Komite Independen Pemantau pemilu (KIPP), ia juga mendorong terbentuknya Serikat Kerakyatan indonenia (SAKTI) dan menjadi Ketua Majelis Nasional.

Ketiga sosok tersebut, di kalangan aktivis Yogya bukan merupakan sosok yang asing. Pemikiran-pemikiran mereka turut mempengaruhi dinamika gerakan pro demokrasi di Yogyakarta, bahkan juga Indonesia. Maka rasa duka mendalam saat mereka bertiga (yang juga dikenal akrab) dalam waktu berdekatan pergi mendahului kita menuju ke keabadian.

Kukutip lirik Angger Jati Wijaya, yang bersama kawan-kawan telah dijadikan lagu yang menghiasi Album Nyanyian merah yang diproduksi oleh Perguruan Rakyat Merdeka bersama 60-an organisasi Masyarakat Sipil di Indonesia untuk mengenang Sobat Munir

BERITA DUKA HARI INI

Lirik : Angger Jati Wijaya
Lagu : Agus Al Masih

Pada setiap kabar kematian
selalu air mata kesedihan
menjelma bahasa cinta
dan duka kehilangan… kehilangan

Tapi untuk saat ini ijinkan
aku belajar jaga rasa dendam
lepaskan amarah jiwa
di dalam kematian … misteri

Berita duka untuknya hari ini
Berita duka bagi kita esok hari

Pada setiap persimpangan jalan
bersama kekasih menabur kembang
sematkan untaian melati
sbagai tanda perlawanan
tak pernah mati
tak pernah mati
tak pernah…… mati!

 Semoga ketiganya mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Selamat jalan kawan, selamat jalan….

Kupang, 2 Desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: