Tinggalkan komentar

Buku: Gambar Sebagai Senjata Rakyat Merdeka

Cover Buku yayak

Tiga seri tulisan yang pernah terposting di Kompasiana tentang Yayak Yatmaka (satu diantaranya mendapat bonus dari admin menjadi headline, sayang tak terdokumentasi) dengan judul “Berjuang MelaluiLagu dan Gambar” yang juga sudah terposting di blog ini (lihat di SINI) turut mengisi buku“Gambar Sebagai Senjata Rakyat Merdeka”.

Faktor kebetulan, saat saya berada di Semarang, saya mendengar bahwa Yayak juga tengah berada di Semarang. Pertemuan kemarin (9/11) selepas tengah malam, ia memberikan buku yang telah selesai dicetak. Wah, senang rasanya.

Keterlibatan dalam buku bermula pada awal Oktober 2013, saya menerima sms dari Yayak Yatmaka untuk mengirimkan tulisan tersebut untuk menjadi bagian dari buku kumpulan tulisan yang akan diterbitkan. Tentu saja, ada kebahagiaan atas permintaan itu dari salah satu sosok yang saya kagumi dan setidaknya memiliki pengaruh juga dalam pikiran dan tindakan dalam kehidupan saya. Tanpa menunda, segera saya kirimkan tulisan yang dimaksudke emailnya, yang sayangnya tidak sempat saya edit ulang.

Judul buku serupa dengan tema pameran 600-an gambar karya Yayak Yatmaka yang telah dilangsungkan di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki pada tanggal 18-21 Mei 2013 (lihat di SINI) disusul pameran di Galery Soemardja FSRD ITB pada11-25 Oktober 2013 dan akan disusul di kota-kota lainnya.

Buku setebal 230 halaman, berukuran 20 X 24 cm dengan seluruh halaman full colour yang dihiasi oleh ilustrasi gambar yang sebagian besar karya Yayak Yatmaka berisi 17 tulisan dari para penulis, yakni:Denny JA, Dolorosa Sinaga, Enin Supriyanto, Noer Fauzi dan Aris Santoso, Hemasari Dharmabumi, Chandra Johan, FerryAgustian Sukarno, Amiruddin Iskandar, Odi Shalahuddin, Genep Sukendro Wiharjo, Digie Sigit dkk, Wijaya Herlambang, Frances Stonor Saunder, Martyn Everett dan Yayak Yatmaka.Sayang, buku ini tidak diberi keterangan nama penerbit dan tahun penerbitannya serta keterangan lain. Tentu ada alasan tertentu yang tidak tersampaikan.

Buku ini telah dilaunching pada tanggal 18 Oktober 2013, di sela pameran karya Yayak Yatmaka di gallery Soemardja FSRD ITB Bandung.

***

Pameran Yayak Di ITB (dok. Widya Np)

Pameran Yayak Di ITB (dok. Widya Np)

“Sebagai penyeimbang lantaran derasnya pemanfaatan gambar sebagai senjata oleh para pemodal besar dan propaganda ideology kanan. Aku berharap segala pemahaman yang diperoleh dari buku ini bisa menjadi landasan untuk menentukan pilihan keberpihakan dan penyadaran diri serta selalu awas. Setidaknya menjadi bahan untuk katarsis. Jadi tahu, bahwa di sebalik gambar, memang nyata ada persoalan hidup mati manusia. Bisa menjadi alat untuk memperjuangkan kehidupan bersama menjadi lebih bermartabat,” demikian dikatakan Yayak Yatmaka dalam prakata buku ini.

Gambar, dan bentuk kesenian lainnya, tidak dapat diingkari memang menjadi senjata. Amerika melalui Central Intelligence Agency (CIA) telah menggunakan seni sebagai senjata propaganda pada masa perang dingin. Pusat kampanye CIA adalah Kongres Kebebasan Budaya (Congress for Cultural Freedom/CCF), jamboree besar kaum intelektual, penulis, sejarawan, penyair dan seniman yang didirikan dengan dana CIA pada tahun 1950. Ini adalah posisi pembelaan budaya dari serangan Moskow dan ‘rekan perjalanannya” di barat. Pada puncaknya ia memiliki kantor di 35 negara dan menerbitkan lebih dari dua lusin majalah, termasuk encounter (lihat Frances Stonor Saunders, halaman 44-51).

CCF adalah lembaga kebudayaan untuk beberapa tujuan, diantaranya: pertama, melawan komunisme pada masa perang dingin di Eropa; kedua, menampung gagasan para intelektual sayap kanan dan tokoh-tokoh kiri non-komunis terkenal; ketiga mempromosikan liberalisme barat agar para intelektual tidak jatuh cinta pada Marxisme. CCF juga bekerja di Indonesia dan memiliki pengaruh besar dalam panggung kebudayaan/kesenian di Indonesia (selengkapnya lihat Wijaya Herlambang, halaman 52-59).

Realisme, sebagai corak seni rupa yang muncul di awal abad ke 20 di Perancis, sejak awal memang sudah mendekat ke semangat kritik dan perlawanan yang mewarnai masa-masa pengantar kea rah Revolusi Perancis 1848. Realisme sosialis yang kemudian jadi aliran resmi di berbagai negeri komunis di abad berikutnya adalah juga turunan dari semangat humanisme yang disebarkan oleh revolusi Perancis. Kekuatan ideology realisme ditopang oleh kekuasaan resmi partai/Negara. Namun, pada masa kini, diingatkan oleh Enin Supriyanto bahwa yang kita hadapi bukan lagi propaganda yang imotori partai/Negara dengan segala kekerasan dan kekauan aparat ideology dan koersinya. Propaganda masa kini bergerak halus, cepat, lincah, dengan mesin yang dilumasi modal raksasa, berbingkai senyum ramah, menghibur. Jadi, kita tengah menghadapi sihir realisme jenis lain: Realisme kapitalis? (lihat halaman 60-69)

***

13840597641792407936

Sebagian gambar Yayak dalam buku

Kesadaran menggunakan gambar sebagai senjata perlawanan telah dilakukan dan menjadi gerakan tersendiri di Indonesia. Pada buku ini, Denny JA misalnya yang telah menekuni dan bergerak pada isu “Indonesia Tanpa Diskriminasi”, telah mengeksplorasi medium yang lebih komunikatif dan mudah dicerna oleh masyarakat awam dengan mengkombinasikan lukisan digital dengan puisi atau esai dalam satu medium. Ia menyebutnya “Lukisan Esai Digital” (lihat halaman 8-17).

Beberapa tahun terakhir di berbagai sudut jalanan Yogyakarta, hadir seni grafis yang mengkritisi situasi politik, ekonomi, sosial dan budaya, yang digunakan sebagai media pendidikan rakyat. Adalah Digie Sigit (DS) yang telah menetapkan pilihan melalui street art. Berbagai tema yang pernah menghiasi ruang publik di Yogyakarta diantaranya kampanye anti perang, kasus Munir, Anti Perbudakan, Keberagaman, dan sebagainya (lihat halaman 72-85).

Pada masa rejim Orde Baru, di mana secara sistematis penguasa semakin mendominasi lapangan politik dengan cara-cara yang inkonstitusional, keji dan brutal, kebangkitan perlawanan masyarakat sipil dibalas dengan intimidasi, terror, penangkapan, pemenjaraan, berondongan peluru dan bahkan dengan pembantaian. Gerakan perlawanan terhadap rejim dilakukan pula oleh para seniman, salah satunya adalah Semsar Siahaan, yang dalam manifestonya menyatakan bahwa seni yang dianutnya adalah seni pembebasan. Berkesenian menurutnya bertolak dari kebebasan individu untuk membebaskan manusia lain dari segala bentuk penindasan (lihat Sukarno, halaman 116-133).

Tulisan-tulisan lainnya, terfokus kepada kisah dan penilaian terhadap jejak gerakan dan karya-karya Yayak Yatmaka. Sebagai gambaran pada tulisan Noer Fauzi Rahman dan Aris Santoso, aktivis gerakan mahasiswa tahun 1980-an yang hingga saat ini masih bergelut pada isu-isu agraria pada awal tuisan menyinggung kasus poster kalender “Tanah untuk Rakyat” yang dilarang oleh Jaksa Agung pada tanggal 2 Mei 1991. Poster kalender yang berisi gambar berbagai kasus tanah di Indonesia disertai puisi “tentang Sebuah Gerakan” karya Wiji Thukul di bagian kiri bawah, dinilai telah mendiskreditkan pemerintah dan ABRI. Akibat pelarangan tersebut, Yayak harus menyelamatkan diri agar tidak tertangkap oleh rejim Orde Baru. Selanjutnya, penulis menggambarkan tentang perkembangan berbagai kasus agrarian dan perlawanan-perlawanan yang berlangsung di Indonesia, dengan menyelipkan kontribusi Yayak melalui gambar-gambarnya (lihat halaman 135-155).

***

Yayak Yatmaka atau dikenal juga dengan nama Yayak Adyatmaka, Yayak Iskra atau yang akrab dipanggil oleh para sahabatnya “Yayak Kencrit”, kelahiran Yogyakarta tahun 1956 dan pernah kuliah di FSRD ITB Bandung pada tahun 1977-1984 memang dikenal dengan gambar-gambarnya yang sangat kritis terhadap kekuasaan Orde Baru dan juga pada rejim saat ini.

Tidak sulit untuk memahami gambar-gambar Yayak yang saat ini sangat mudah kita jumpai dan kita peroleh di akun FB-nya. Sebab ia selalu memposting dan menshare karya-karyanya. “Gambarnya jelas, lugas, tanpa basa-basi: Indonesia dijual, Indonesia dibelenggu, rakyat dicekik, ditindas, dikencingi, diberaki, dan kapitalisme mengangkanginya, pemerintah mendustai rakyat. Itulah sisi gelap kita, sang rakyat ini di mata Kencrit” kata Chandra Johan (hal. 4).

Aminudin TH Siregar memandang bahwa karikatur-karikatur kritis Yayak memperlihatkan komitmennya pada perubahan social-politik tanah air. Ia leluasa masuk ruang personal dan komunal. Dalam konteks ini, tentu saja, karikatur adalah langkah yang paling efektif (hal. 111).

Barangkali sebagian menganggap gambar-gambar Yayak sangat kasar dan dianggap tidak sopan. Para penguasa digambarkan dengan tubuh telanjang, dan beberapa gambar bahkan secara jelas menunjukkan alat kelamin.

Tapi, Yayak yang menyadari kritikan itu dalam tulisannya dengan santai menanggapi: “Huh, aku memang sengaja membuat mereka telanjang diri, karena itu adalah semata symbol dan tanda bahwa mereka tak lagi mengenal malu atau tak lagi punya rasa bersalah telah ada di luar norma umum, Bahwa sebagai pemimpin telah mencelakai dan mencederai rasa keadilan rakyat. Melakukan pembiaran atas kebiadaban. Dan itu adalah laku hina. Merekalah yang memperhinakan diri mereka sendiri,” (hal. 190)

***

1384059840657556578

“Ada Yayak ada teriakan, karena Yayak itu selalu teriak-teriak sepanjang jaman; ada yang terganggu tapi ada pula yang membisu. Namun konsistensi Yayak itu selalu terjaga dengan nafas-nafas panjang heroisme” ujar Genep Sukendro memberikan penilaian terhadap sosok Yayak kencrit (hal. 104).

Muchyar Sumpena menyatakan bahwa dengan menyebut karya-karyanya “senjata”, yayak mempermaklumkan bahwa karya-karyanya adalah alat (instrument) perjuangan ideologis. Ia dengan gambling ingin gambar-gambarnya menjadi “senjata” untuk menembak musuh-musuh ideologisnya, serta membangunkan kawan-kawan ideologisnya. Ideologi yang dianut Yayak seperti dinyatakan adalah “rakyat yang berjiwa merdeka’ (hal. 93)

“Yayak Yatmaka tak pernah berhenti bertarung melawan ketidakadilan dan kekuasaan yang menindas nilai-nilai kemanusiaan. Memilih gambar sebagai senjatanya untuk bicara, juga membuat puisi, bahkan juga mencipta lagu sebagai genderang perlawanan,” demikian dikatakan oleh Dolorosa Sinaga.

***

Selain gambar, sebagaimana saya tulis tentang dirinya, Yayak dikenal pula sebagai pencipta lagu anak/rakyat merdeka, yang tersebar dari mulut ke mulut, dan beberapa lagunya menjadi bagian dari lagu-lagu yang sering dinyanyikan dalam aksi-aksi massa. Diantaranya adalah “Rakyat bersatu”, “Aku Anak/Rakyat Indonesia”, “Topi Jerami”, “Kita Pasti Menang”, “Buruh Bersatu Tak Bisa Dikalahkah”.

Ah, sebaiknya memang harus didapatkan buku ini, sekaligus menikmati karya-karya gambar Yayak. Ayo….

Semarang, 10 November 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: