Tinggalkan komentar

Jogja Darurat Kekerasan

Deklarasi Jogja Darurat Kekerasan oleh MAKARYO (Dok. Ndari)

Deklarasi Jogja Darurat Kekerasan oleh MAKARYO (Dok. Ndari)

Masyarakat Yogyakarta Anti kekerasan (Makaryo), sebuah jaringan yang melbatkan berbagai komponen masyarakat sipil, baik dari kalangan NGO, dan organisasi kemahasiswaan, menyampaikan keprihatinannya atas berbagai tindak kekerasan yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keprihatinan tersebut dirumuskan dalam deklarasi yang disampaikan melalui aksi bersama yang berlangsung pagi tadi (7/11) di Alun-alun utara Yogyakarta. Aksi yang diikuti puluhan orang ini mewakili organisasi-organisasi yang bergabung di MAKARYO.

Selengkapnya isi deklarasi dapat dibaca di bawah ini

*******

DEKLARASI

“JOGJA DARURAT KEKERASAN,

JOGJA DARURAT PERLINDUNGAN HAK ASASI MANUSIA”

Masyarakat Antikekerasan Yogyakarta (MAKARYO)

Menyeru Penegakan Hukum Atas Kasus-kasus Kekerasan Di DIY

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pernah dicatat sebagai daerah yang toleran serta damai dalam keberagaman. Namun fakta menunjukkan atribut itu semakin lama semakin pudar. Kasus kekerasan yang semakin sering terjadi dan tidak tuntas diungkap mencederai rasa aman publik DIY. Aparat publik tuna komitmen politik atas penegakan hukum yang bermakna terkait kasus-kasus kekerasan yang terjadi di DIY.

Publik mencatat, Kasus Udin yang terjadi 1996, tujuh belas tahun lalu, belum juga diungkap. Reformasi yang diperjuangkan Bangsa Indonesia tidak serta-merta meniadakan pembiaran negara atas tindak kekerasan dan tindak kekerasan itu sendiri, juga di DIY. Bahkan status istimewa DIY yang diteguhkan dengan diundangkannya UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta pun tidak berarti DIY berwatak nir kekerasan.

MAKARYO mencatat setidaknya 18 (delapan belas) kasus kekerasan terjadi di DIY dalam kurun waktu tahun 1996 s.d. Oktober 2013 (daftar kasus terlampir). Dalam beberapa kasus proses hukum telah diterapkan hingga ke pengadilan, lepas dari memadai atau tidaknya putusan pengadilan. Dalam beberapa kasus lain proses hukum berjalan namun pengungkapan kasus tidak kunjung terang. Namun tidak sedikit juga kasus kekerasan yang tidak sempat dilaporkan kepada kepolisian apalagi diproses sesuai hukum yang berlaku, sekalipun aparat publik mengetahui terjadinya kekerasan. Minggu, 27 Oktober 2013, lagi-lagi aksi kekerasan terjadi di Wisma Santi Dharma, Godean, Sleman, DIY. Tragedi ini disusul dengan ancaman FAKI kepada korban kekerasan di Godean yang hendak melapor ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, 28 Oktober 2013. Dan publik lagi-lagi menyaksikan tidak adanya tindakan tegas aparat penegak hukum dan pejabat publik di DIY atas tindak kekerasan yang terjadi. Negara lagi-lagi mengabaikan kewajiban menghormati-melindungi-memenuhi hak asasi manusia, terutama di DIY. Di tengah semakin meningkatnya ekskalasi kekerasan dan pencederaan kemerdekaan berpendapat, absennya penegakan hukum tidak ayal memperbesar potensi tindak kekerasan di masa yang akan datang.

Berdasarkan seluruh pengalaman ini kami menegaskan :

  1. Rasa aman merupakan hak asasi manusia.
  2. Kemerdekaan berpendapat dan berkumpul merupakan hak asasi manusia
  3. DIY istimewa salah satunya karena kedamaian dan toleransi dalam kemajemukan.
  4. Kekerasan bukan bagian maupun wujud keistimewaan DIY.
  5. Kami cinta Yogyakarta, tetapi kami tidak cinta pejabat publik yang diam menyaksikan kekerasan terjadi di DIY.

Kami mendesak :

  1. Aparat penegak hukum dan pejabat publik di DIY untuk segera mewujudnyatakan penegakan hukum dengan menindak tegas pelaku kekerasan dan menuntaskan pengungkapan kasus-kasus kekerasan di DIY,
  2. Polri c.q. Polda DIY segera menangkap dan mengadili penganjur (aktor intelektual) dan pelaku kekerasan di DIY,
  3. Keraton Yogyakarta proaktif mengawal penuntasan proses hukum kasus-kasus kekerasan di DIY terutama yang mandeg sejak 1996,
  4. Keraton Yogyakarta proaktif mencegah terjadinya kekerasan di DIY di waktu yang akan datang.

Sudah bukan waktunya lagi aparat penegak hukum dan pejabat publik DIY berdiam diri menyaksikan situasi darurat kekerasan dan darurat perlindungan hak asasi manusia!

Yogyakarta, 7 November 2013

Benny Susanto

Koordinator Umum Masyarakat Antikekerasan Yogyakarta (MAKARYO)

[Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Forum Komunikasi Perempuan Politik DIY, Forum LSM DIY, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas Hukum UII, Perkumpulan IDEA, IKPM Sumsel, Indonesia Court Monitoring (ICM), Interfidei, Institute for Research and Empowerment (IRE), Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY), Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) DIY, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS), Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA), Masyarakat Peduli Media (MPM), Narasita, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sleman, PMII DIY, People Like Us (PLU) Satu Hati, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, Pusat Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Yogyakarta, Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII), Pusat Studi Islam (PSI) Universitas Islam Indonesia (UII), Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jogja, Rifka Annisa, SATUNAMA, Sekolah Bersama (Sekber) Yogyakarta, Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan Gusdurian, Solidaritas Wartawan untuk Udin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yasanti].

*****

Lampiran : Kasus-kasus kekerasan di DIY sejak 1996 s.d. Oktober 2013

Kasus-kasus kekerasan di DIY sejak 1996 s.d. Oktober 2013 antara lain :

  1. Penganiayaan —yang berujung meninggalnya— wartawan Udin  (1996)
  2. Penyerangan acara ‘Kerlap-kerlip Warna Kedaton 2000’ di Kaliurang (2000)
  3. Perusakan Kantor Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) DIY  (2008)
  4. Pembubaran Pelatihan Nasional Forum Sekolah Bersama (2008)
  5. Penyerangan Sanggar Candi Busana Parengkembang, tempat ibadah Sapta Darma di Desa Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta (2008)
  6. Pembubaran Q Film Festival (2010)
  7. Penghentian Doa Keliling di Bantul (2011)
  8. Ancaman terhadap peringatan IDAHO (2011)
  9. Pembubaran diskusi dan perusakan Kantor LKIS (2012)
  10. Kekerasan oknum Polri terhadap anak Reza Eka Wardana (2012)
  11. Pengeroyokan terhadap seniman Bramantyo Prijosusilo oleh massa Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Kotagede saat yang bersangkutan menggelar Aksi Seni “Membanting Macan Kerah” dalam rangkaian pendokumentasian karya social sculpture bertema “Radikalisme Agama dengan Seni atas Nama Pribadi” (2012)
  12. Pembubaran Pengajian di SMA Piri (2012)
  13. Penghentian Pemakaian Gua Maria Gedangsari  (2012)
  14. Kekerasan terhadap Huda (2012)
  15. Penembakan tahanan di Lapas Kelas IIB Cebongan, Kabupaten Sleman  (2013)
  16. Perusakan Makam Cucu  Hamengku Buwono VI (2013)
  17. Penembakan Sipir LP Wirogunan (2013)
  18. Pembubaran diskusi  dan penganiayaan Keluarga Eks Tapol 65 oleh FAKI (2013)
(Dok. Ndari Sulandari)

(Dok. Ndari Sulandari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: