Tinggalkan komentar

Swarga di Khatulistiwa, Produksi ke XX Sanggar Anak Akar

Sanggar Anak Akar Jakarta kembali akan menggelar sebuah pertunjukan orkestrasi musik teaterikal dengan tajuk Konserta Swarga di Khatulistiwa. Ini merupakan produksi mereka yang ke XX . Acara akan digelar di Gedung Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 5 November 2013, pukul 20.00-selesai.

Bagi suatu kelompok kesenian, profesional sekalipun, ketahanan untuk mempertahankan kelompok yang intens melakukan pertunjukan-pertunjukan kesenian, sangat jarang ditemukan. Maka, patutlah kita memberikan penghargaan terhadap Sanggar Anak Akar yang mampu menunjukkan ketahanannya untuk terus berproses mengembangkan kreativitasnya dan bersuara melalui pertunjukan kesenian.

Terlebih, Sanggar ini bukan semata-mata bergerak pada wilayah kesenian. Mereka adalah sekumpulan anak jalanan dan anak kampung miskin, yang awalnya dipertemukan di sebuah open house (rumah singgah) yang dikelola oleh sebuah Organisasi Non Pemerintah (Ornop) di tahun 1989. Proses interaksi ini menghantarkan mereka untuk membentuk Sanggar Anak Akar pada November 1994. Sanggar adalah media bagi mereka untuk memperoleh pendidikan dan ketrampilan, serta mengekspresikan diri melalui kesenian. Pada gerakan anak, Sanggar Anak Akar merupakan satu-satunya organisasi anak yang masih hidup dibandingkan organisasi-organisasi anak pada masa awal 1990-an dan tetap menunjukkan eksistensinya melalui berbagai karya nyata.

13818320371422767467

Elly D.Luthan, sang koreografer tengah memberi pengarahan kepada para pendukung pertunjukan

Informasi tentang rencana pementasan ini, pernah saya dengar sebelumnya dari Susilo Adinegoro, salah satu pengurus yang akrab dipanggil Pakdhe. Ketika bertemu di Salihara akhir September lalu saat sama-sama menghadiri launching empat buku terbitan Tempo, kami sempat berbicara panjang di sebuah warung depan Salihara. Ia menceritakan tentang berbagai rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh Sanggar Anak Akar di bulan September, salah satunya adalah pertunjukan Konserta Swarga Khatulistiwa ini.

Ia juga menawarkan untuk menyaksikan latihan yang diselenggarakan di markas mereka di kawasan Kali Malang Jakarta Timur. Sayang saya tidak memiliki kesempatan untuk memenuhi tawarannya.

Namun, saya mencoba mengikuti informasi-informasi persiapan pertunjukan ini. Melihat foto-foto latihan yang diposting di FB, juga melihat proses latihan dalam bentuk video yang telah diunggah di Youtube.

***

1381832128322916609

Salah Satu latihan yang berlangsung

Konserta Swarga Khatulistiwa, terdiri dari empat repertoire perjalanan bangsa Indonesia, dengan mengambil setting sejarah perjalanan Jayakarta.

Digambarkan Jayakarta sebagai tanah anugrah yang memiliki harmoni terhadap alam, memiliki kekayaan luar biasa dengan kesuburan tanah yang dimilikinya.

Hal ini mengundang bangsa-bangsa lain berdatangan untuk mencari rempah-rempah dan menjalin hubungan dagang. Bandar Sunda Kelapa merupakan titik pertemuan dari kehadiran bangsa lain yang dimulai oleh bangsa Cina, disusul India, Arab, dan negara-negara lainnya, yang mampu hidup berbaur dengan damai.

Masa kegelapan muncul dengan hadirnya upaya penguasaan yang dilakukan bangsa lain. Diawali kedatangan tentara portugis dengan atribut militer lengkap dengan panji-panji yang bersikap arogan dan melakukan penguasaan. Hal ini mendapat perlawanan sehingga kekuasaan Portugis tidak berlangsung lama. Disusul oleh kehadiran para pedagang dari Belanda yang awalnya disambut baik, namun semakin lama menunjukkan kekuasaan dengan memerintah para pribumi dan Cina. Perlawanan dapat mudah dilumpuhkan. Eksekusi terhadap pemberontah dilakukan di depan publik. Selanjutnya panji-panji kongsi perusahaan dagang Hindia Timur, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan bendera negara Belanda berkibar. Mereka mengganti Jayakarta dengan nama Batavia sebagai tanda kekuasaan mereka.

Bangsa dari Matahari Terbit datang, menyerang para kumpeni, menurunkan panji-panji VOC dan bendera Belanda dan menggantikannya dengan panji-panji negeri Matahari Terbit. Sebagian lain memaksa pelayan pribumi menurunkan plakat bertuliskan Batavia dan menggantikan dengan plakat baru bertuliskan Jakarta.

Masa kebangkitan, ditandai dengan berhimpunnya beragam etnis dan suku bangsa membangun cita-cita bersama untuk meraih kemerdekaan. Peperangan dan diplomasi sampai pada puncaknya saat Proklamasi Kemerdekaan RI diproklamirkan.

Pertunjukkan karya Ibe Karyo yang sekaligus juga menyutradarai pertunjukan ini, menampilkan suasana setiap adegan dengan gerak teaterikal dari koreografer Elly de Luttan yang diiringi dengan musik-musik etnis yang disesuaikan dengan periode sejarah yang dirangkum dalam repertoire. Andri ”Virgo” Setiawan dan Danang Wiratmoko adalah music directornya

Puluhan pemain yang terlibat dalam pertunjukan kolosal merupakan kolaborasi antara anggota Sanggar Anak Akar dengan para alumninya, para pendamping dan pemerhati yang tergabung dalam Sahabat Akar, Sahita, dan para pelajar dari Don Bosco.

***

1381832343338261974

Saya bersama Aulia Gurdi saat bertemu dengan Pakdhe Sus (paling kanan) di Salihara

Pertunjukan ini layak ditonton oleh siapapun, termasuk anak-anak untuk belajar sepenggal sejarah terbangunnya Indonesia, dan belajar mengapresiasi karya seni yang ditampilkan oleh anak-anak guna membangun kepekaan rasa dan jiwa yang peka terhadap realita.

Anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, rasanya akan sayang melewatkan pertunjukan produksi ke XX Sanggar Anak Akar ini. Masukkan dalam agendamu dan ajak anak-anak untuk menonton pada tanggal 5 November mendatang.

Bagi yang tinggal di kota lainnya, tetap terbuka untuk hadir dan turut menyaksikan karya anak-anak pinggiran yang telah berpengalaman melakukan pertunjukan di berbagai kota, dari lahan-lahan kampung, gedung-gedung kesenian, hingga istana negara.

Ayo, jangan lupa ya…

Selamat kepada Sanggar Anak Akar dan para pendukung pertunjukan ini. Sukses dan semangat selalu!

Yogyakarta, 15 Oktober 2013

Keterangan:

Foto-foto merupakan dokumentasi Sanggar Anak Akar,  kecuali foto terakhir hasil jepretan dari Ngarto Februana, cerpenis/novelis yang bekerja di Majalah Tempo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: