Tinggalkan komentar

Sonyaruri, Catatan-catatan Kegelisahan

SONYARURI: CATATAN-CATATAN KEGELISAHAN

Shanon Ahmad yang mencoba mengumpulkan definisi puisi menemukan banyak perbedaan pikiran mengenai pengertian puisi. Definisi-definisi yang dikumpulkan oleh Shanon Ahmad pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris. Namun ia melihat bahwa dengan memadukan perbedaan tersebut akan didapat garis-garis  besar  tentang pengertian puisi yang berunsurkan: emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan  kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan  yang bercampur baur (lihat Pradopo, 1990:7).

Shelley  (Ahmad via Pradopo, 1990), mengemukakan bahwa  puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam  hidup  kita. Pengertian paling  indah tidak berarti hal  yang menggembirakan saja melainkan juga kesedihan, kegelisahan, ketakutan, dan  sebagainya. Bersandar pada apa yang dikemukakan Shelley, maka  bukanlah  hal yang aneh bila kita sering menjumpai banyak  orang  mengungkapkan  ekpresinya  melalui puisi baik  untuk  diri  sendiri, kalangan  terbatas  maupun dipublikasikan secara  umum.

Demikian halnya dengan T.S. Jati, seorang mantan aktivis mahasiswa Universitas Indonesia pada tahun 70-an.  Semasa mahasiswa aktif di dunia kesenian, khususnya teater. Pada pertengahan tahun 70-an ia juga membuat beberapa novel namun tidak dipublikasikan. Aktivitas kesenian lainnya  adalah melukis. Sekarang, konon lebih banyak tinggal di sebuah desa di Jawa Barat, yang melahirkan puisi-puisi sebagai ekpresi jiwanya meski dengan dorongan orang lain yang sebagian terkumpul dalam kumpulan puisi ”SONYARURI”.

Membaca  Sonyaruri saya menemukan unsur-unsur yang dikatakan Shanon Ahmad; Ada emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, dan sebagainya. Menikmati puisi-puisi di dalamnya saya terkadang merasa hanyut sampai muncul beragam perasaan yang kadang sulit saya mengerti. Saya tertulari penyakit TS. Jati?  Entah.  Namun jelas ada perbedaan. TS. Jati mengungkapkan ekpresi dan saya mencoba menangkapnya meski terkadang muncul pula kebingungan atau ketidakmengertian dalam diri saya.

Perasaan-perasaan yang muncul bila saya jadikan dasar untuk memberikan penilaian akan terlalu sangat subyektif. Bila itu saya sampaikan, jelas akan merusak suasana dan konvensi yang berlaku di ruangan ini yang juga akan mengancam diri saya. Maka  analisis atas buku kumpulan puisi ”SONYARURI” yang akan saya lakukan adalah dengan menggunakan pendekatan struktural semiotik.

Pendekatan struktural semiotik merupakan perkembangan untuk memperbaiki pendekatan struktural yang masih memiliki kelemahan seperti apa yang diuraikan oleh A. Teeuw. Pendekatan struktural menekankan atau memusatkan hanya pada karya sastra itu sendiri (sastra bersifat otonom) yang dilihat memiliki struktur yang kompleks dan dianggap maknanya dicukupi oleh hubungan  antar unsurnya tanpa melihat aspek di luarnya. Raman Selden (1991 : 54) mengemukakan tampaknya tidak keliru mempergunakan istilah “antihumanis’  untuk menerangkan semangat strukturalisme. Memang kata itu telah dipergunakan oleh kaum strukturalis sendiri untuk menekankan penentangan mereka terhadap semua bentuk kritik sastra yang didalamnya pokok kemanusiaan merupakan sumber dan asal arti kesusastraan.

Dengan pendekatan struktural semiotik, karya sastra dilihat sebagai struktur tanda-tanda yang bermakna. Tanpa memperhatikan sistem tanda, tanda, dan maknanya dan konvensi  tanda, struktur karya sastra (atau karya sastra) tidak dapat dimengerti maknanya secara  optimal. Dengan demikian strukturalisme tidak bisa dipisahkan dengan semiotik (Junus via Pradopo, 1995).

 

ANALISIS SECARA STRUKTURAL SEMIOTIK

Awalnya, saya merasa kesulitan untuk memilih beberapa puisi yang dianggap dapat mewakili keseluruhan buku kumpulan puisi ini. Setelah berulang kali membaca, akhirnya saya putuskan memilih lima puisi sebagai fokus pembahasan, yaitu;

  • ·         Kasunyatan V
  • ·         Dimana tempatnya puisi?
  • ·         Tirakatan
  • ·         Hutang dan Tagihan
  • ·         Doa.

Secara jujur pilihan atas 5 puisi ini semata-mata bukan berdasarkan penilaian bahwa itu lebih baik dibandingkan dengan puisi yang lainnya. Ada beberapa puisi lain yang menarik namun isinya teramat panjang yang tidak memungkinkan untuk dibahas dalam tulisan ini.

Berikut ini adalah pembahasan atas puisi-puisi yang saya sebutkan di atas;

Kasunyatan V 

Di suatu hari yang berjalan lambat,
rasanya yang ada, hanya kosong melompong.
Kubuka buku, mataku lari dari baris ke baris, spasi ke spasi
masuk lubang-lubang huruf dan menyelinap di sela kata-kata
Tiba-tiba aku merinding, umurku jadi memanjang, panjang.
Dalam hari yang kosong itu, ternyata umurku bertambah sepuluh tahun
setiap jamnya

Hingga,
penculikan demi penculikan, atas nama
kemanusiaan.
Yang ditangkap, tenang-tenang. Yang diseksa, tenang-tenang.
Ketika dibunuh, arwahnya tersenyum. Terlalu nekad!
Yang menunggu, seperti mimpi. Lain malam, lain, … kemarin telah berjarak ber-abad-abad.

Tapi bisakah engkau tidur?
Disamping tubuhmu yang resah, tanpa darah?
Hingga,
mulutku ngigau . . . m m . . . m m kau – kau – kau adalah
kejadian dari segala keindahan, kumulasi dari seluruh wanita yang pernah
kucintai, dan dan dan
selalu terlampau cepat selesai.

Kasunyatan adalah bahasa Jawa yang artinya kurang lebih adalah kenyataan. Kenyataan yang tergambar dalam puisi di atas adalah kenyataan si aku yang merasa tersiksa dalam penantian. Putaran waktu yang setiap harinya tidak berubah yaitu 24 jam dirasakan oleh aku berjalan lambat. Si aku mencoba menyibukkan diri dengan membaca buku secara serius dan detil namun tidak mengubah suasana hati si aku. Justru aku merasa bahwa umurnya memanjang dan bertambah 10 tahun dalam satu jam.

Penantian (menunggu) dirasakan si aku lebih berat dibandingkan dengan orang yang ditangkap dan disiksa bahkan dibunuh. Si aku merasakan hidupnya seperti mimpi. Penantian yang sangat menggelisahkan jiwanya dirasakan seperti tubuh yang tidak  memiliki darah lagi yang berarti pula tubuh mati. Karena kehidupan manusia salah satunya ditentukan dengan adanya darah yang mengalir ke seluruh tubuh.

Penantian itu pula yang menyebabkan si aku mengangankan sesuatu yang membahagiakan hatinya, sesuatu yang sangat berkuasa dan berpengaruh terhadap dirinya. Namun karena hanya angan, hanya igauan, apa yang didapatkan hanya sejenak.

Penggunaan  bahasa dalam puisi ini dituliskan dengan bahasa sehari-hari yang tidak asing sehingga memudahkan pembaca untuk menangkap maksud dari puisi tersebut. Menurut Pradopo, dengan penggunaan bahasa sehari-hari dapat memberi efek gaya yang relistis (1990;53).

Penggunaan  bahasa kiasan yang menonjol adalah personifikasi seperti: hari yang berjalan lambat; mataku lari; (mataku) masuk ubang-lubang; (mataku) menyelinap. Dengan personifikasi ini memberikan  bayangan angan yang konkret bagi pembaca. Bahasa kiasan lainnya adalah anafora seperti: memanjang, panjang; lain malam,  lain …; kau-kau-kau; dan dan dan; yang menimbulkan efek penajaman maksud.

Pengarang  menggunakan sarana retorika yaitu paradok yang menyatakan sesuatu secara berlawanan tetapi sebetulnya tidak sungguh-sungguh bila dirasakan, seperti: “Yang ditangkap, tenang-tenang. Yang diseksa, tenang-tenang/ ketika  dibunuh, arwahnya tersenyum” (bait 2 baris 4-5). Ditangkap dan disiksa adalah sesuatu yang tidak mengenakkan dan dapat membuat orang yang mengalaminya merasa tertekan atau ketakutan, namun pengarang justru memperlihatkan sikap  yang berlawanan, yaitu  senang-senang.  Lebih jauh lagi, ketika dibunuh, justru arwahnya tersenyum. Pertentangan/paradok ini bisa dikatakan paradok oksimoron karena mempergunakan penjajaran kata yang berlawanan. Paradok tersebut dihadapkan kembali pada paradok lain yang dipertajam dengan perasaan si aku yang hanya menunggu, justru merasakan sesuatu yang tidak sewajarnya  (bait 2 baris 6-9) yang kemudian  dilontarkan  dengan pertanyaan retoris: ”Tapi bisakah engkau tidur? Di samping tubuhmu yang resah, tanpa darah?”

Di samping itu, sarana retorika lainnya adalah tautologi yang menyatakan hal atau keadaan dua kali yang dimaksudkan supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar. Ini bisa terlihat misalnya; memanjang, panjang, ini untuk mempertegas perasaan aku mengenai usianya yang terasa bertambah;  _lain malam,  lain… yang mempertegas bahwa menunggu seperti mimpi yang dialami setiap malam dan setiap sesuatu yang tidak terucapkan yang ditandai dengan penggunaan … (titik-titik) yang  disebut dengan sarana retorik retisense; ”kau – kau – kau”,   ini  juga mempertegas. Hanya masalahnya kau di sini tidak terlalu jelas apakah yang dimaksud Tuhan atau manusia dengan enggunakan huruf kecil pada (k). Tapi ada kecendrungan adalah Tuhan bila melihat kalimat berikutnya yaitu, ”kejadian dari segala keindahan, kumulasi dari seluruh wanita yang pernah kucintai”, dan disambung lagi dengan sarana retorika tautologi, yaitu ”dan dan dan

DIMANA TEMPATNYA PUISI?

Swara lembut, gamelan, menyembunyikan desing peluru tajam, aku tetap mendengar
Denyar warna pelangi, hotel megah, menyembunyikan pucat pasi tanah sawah
rumputpun mati dan sapi-sapi hanya bisa menjilati
tanah, kering, asin dan keras.
Retak-retak. Getir,
Akupun melihatnya.
Mode baru, perut gemuk dan penyakit kelamin, membaurkan kesepian yang dingin
setengah telanjang, kulit keriput dan penyakit bengkak lapar
Kota-kota menyembunyikan desa.
Semua saling menutupi, dimana tempat bagi puisiku?
Atau, atau, atau tak seorangpun akan terpikat lagi tanpa
pelor teroris berlumur darah
raung histeri speker listrik, tari lepas baju
dan lakon harus Bharatayudha diiringi genderang
perang dari mula hingga usai?
Patahan panah berserak
kepala prajurit yang terpapas bergelindingan ditanah
Benarkah keindahan wanginya kuntum melati tak berdaya lagi
Baikkah?
Kabarnya, rumah keindahan didalam manusia.  

Puisi ini memperlihatkan kenyataan  semu dalam kehidupan manusia. Penampakan hal-hal yang indah sesungguhnya menyimpan situasi  yang bertentangan. Suara-suara lembut seperti gamelan menyembunyikan peluru tajam, denyar warna pelangi dan hotel megah menyembunyikan pucat pasi tanah. Dalam situasi semacam itu, si aku tetap mendengar dan melihat kenyataan sesungguhnya. Aku juga melihat perkembangan jaman (mode) justru menumbuhkan hal yang tidak  menyenangkan. Arus besar pikiran dan obsesi manusia untuk menunjukkan kemajuan dan menutup-nutupi kekurangan membuat si aku bertanya dimana tempat bagi puisinya. Si aku mempertanyakan apakah sifat-sifat buruk yang mendominasi pikiran manusia, ia juga  mempertanyakan  apakah sifat-sifat baik telah hilang dan mempertegas bahwa sesungguhnya sifa-sifat baik itu ada dalam diri manusia.

Penggunaan bahasa sebagaimana pada puisi pertama juga menggunakan  bahasa  sehari-hari. Namun pada puisi  ini  yang  menonjol adalah penggunaan bahasa kiasan personifikasi dan sarana retorika paradok dan aksomoron serta tautologi.

Pada personifikasi  yang  dimaksud  seperti; swara  lembut, gamelan,  menyembunyikan  desing peluru tajam; denyar  warna  pelangi,  hotel megah, menyembunyikan pucat pasi tanah sawah; mode baru,  …  membaurkan kesepian yang dingin  setengah  telanjang; kota-kota menyembunyikan desa-desa; raung histeri speker listrik.

Kita dapat melihat bahwa di dalam personifikasi itu juga terdapat personifikasi  lain  di  dalamnya (yang  ditandai  dengan  garis bawah).  Bahasa kiasan lainnya adalah metafora  yaitu;  keindahan wanginya  kuntum  melati  yang bermakna  sifat-sifat  yang  baik. Kuntum   melati   adalah  bunga  yang  menyebarkan  wangi  yang sedap/nikmat.

Sedangkan sarana retorika yang digunakan yaitu paradok  dapat terlihat  dengan jelas dengan mempertentangkan ”suara lembut  dari gamelan”  dengan ”desing peluru” di mana suara lembut dari  gamelan mengesankan  sesuatu yang nikmat untuk diperdengarkan sedangkan desing peluru adalah suara yang mengerikan  karena  ada  imaji sebagai  alat pembunuh; denyar warna pelangi dan hotel  dipertentangkan  dengan pucat pasi tanah sawah; Warna-warni pelangi  yang muncul setelah hujan (gerimis) sangat enak dipandang mata demikian  pula  dengan hotel megah, sedangkan pucat  pasi  tanah  sawah adalah  tanah yang sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana  halnya dengan tanah pertanian (dijelaskan apa yang dimaksud dengan pucat pasi yaitu dengan ”rumputpun mati dan sapi-sapi hanya bisa  menjilati  tanah,  kering, asin dan keras. Retak-retak.  Getir”);  mode baru yang diidentifikasikan dengan perut gemuk (orang yang berkecukupan)  dan  penyakit kelamin (doyan seks dengan  banyak  orang yang  menyebabkan tumbuhnya  penyakit)  dipertentangkan   dengan kesepian  yang  dingin  setengah telanjang, kulit keriput,  dan penyakit bengkak lapar. Paradok ini bisa dikatakan sebagai  aksimoron  karena mempertentangkan penjajaran kata yang berlawanan (suara lembut – suara mengerikan; pemandangan bagus – pemandangan buruk; kemewahan – kemiskinan).

Tautologi pada puisi ini adalah pengulangan kata; ”atau, atau, atau”  yang mempertajam pertanyaan si aku  untuk  mencoba  mencari jawaban atas sikap manusia yang telah lari dari sifat-sifat baik.

Melihat dari judulnya yaitu Di mana tempatnya puisi,  memberikan makna bahwa pengarang melihat puisi sebagai sosok yang agung, yang  harus ditempatkan pada suasana dan tempat yang  baik,  yang dibaca atau didengarkan oleh orang yang berhati baik.

Pada  puisi  ini kita juga menjumpai adanya tipografi yang menonjol yaitu penulisan dengan huruf tebal dari baris 12 – 18 dan enjambement yang berupa pemenggalan kata.

HUTANG DAN TAGIHAN 

Semakin bertumbuk unggun, duapuluh lima tahun
Sudah sebanyak itu, hutangku, sebesar tagihanku, impass.
Neraca berimbang, tidak waras tidak gila.
Aku percaya nasib manusia, aku pecinta nasib manusia
seperti seorang petualang, seperti seorang pejuang
seperti seorang pengkhianat, seperti seorang patriot
aku pecinta nasib manusia, dan
mati membuat semuanya impas, neraca berimbang
tertutup kabut, tenggelam dalam embun, lenyap tertimpa wangi bunga kamboja, nasib menjadi debu sejarah.
Setiap detik, dalam duapuluh lima tahun, aku mengejar sesuatu
yang asal tercapai, menjadi tak berharga lagi
aku belajar, aku menabung, celaan dan sanjungan
cemooh dan pujian, itu dan itu lagi.
Mendung, kilat, petir, hujan, banjir, itu dan itu lagi
dari bencana ke bencana
Bibit, tanam, piara, berbuah, panen megah, itu-itu, ulah membawa tuah
dari rindu ke rindu
Untuk sementara waktu, untuk sementara, sementara
Aku percaya takdir, yang terdiri dari hutang dan tagihan,
hutang yang tak terbayar dan tagihan tak ada yang melunasi.
Pecinta nasib! Itu saja, duapuluhlima tahun lamanya.

Pada puisi ini pengarang mengatakan bahwa takdir dan atau tindakan manusia  dalam menjalani hidup tidak ubahnya bagaikan hutang dan tagihan.

Aku menganalogikan keadaan jiwanya dalam melakukan perjalanan hidupnya selama duapuluh lima tahun memiliki hutang yang sama besar dengan tagihan sehingga neraca berimbang dan membuatnya tidak waras tetapi juga tidak gila. Seperti berada pada perbatasan atau di titik nol. Aku selalu mempercayai nasib manusia karena aku adalah pecinta manusia. Pada titik puncak, yaitu kematian, aku melihat bahwa kematian akan membuat impas semuanya. Si aku merasa apa yang bisa didapatnya yang dia kejar sudah tak  berharga lagi. Aku mendapat celaan, sanjungan, cemohan dan pujian,  berjalan  dari satu bencana ke bencana yang lain. Aku merindukan  ada satu proses yang dapat membawanya kepada sesuatu yang pasti. Namun aku percaya takdir, bahwa semuanya telah ditentukan dan aku menikmati semua sebagai pecinta nasib.

Hal  yang  menonjol dalam puisi ini  adalah  sarana  retorika berbentuk enumerasi, paradok dan tautologi.

Enumerasi adalah sarana retorika yang berupa pemecahan suatu hal atau keadaan menjadi beberapa bagian dengan tujuan agar  hal atau keadaan itu lebih jelas dan nyata bagi pembaca atau  pendengar  (Muljana  via Pradopo:1990, 96).

Enumerasi di sini dapat dilihat  seperti; ”…aku  pecinta nasib manusia,/seperti  seorang petualang,  seperti seorang pejuang/seperti seorang pengkhianat, seperti  seorang patriot/aku pecinta nasib manusia.” (baris  4-7).

Di sini hal yang paling pokok adalah aku pecinta manusia meskipun seperti  seorang petualang, seperti seorang pejuang dan seterusnya.

Enumerasi yang lain; _tertutup kabut, tenggelam dalam  embun, lenyap tertimpa wangi kamboja, nasib/menjadi sejarah_. Di sini hal yang pokok adalah nasib pasti akan menjadi sejarah meski kematian telah menjemput.

Sedangkan paradok atau pertentangan dapat terlihat  dari;  seperti seorang petualang, seperti  seorang  pejuang.

Petualang adalah orang yang sering bepergian atau selalu berpindah-pindah tempat atau prinsip. Sedangkan pejuang adalah orang yang memiliki idealisme dan menuju satu titik (tujuan) tertentu.

Paradok  yang lain;

Seperti seorang pengkhianat, seperti seorang patriot. 

Kedua contoh di atas adalah pertentangan buruk dan baik maka  dapat disebut aksomoron. Contoh tersebut juga bisa disebut paralelisme (persejajaran) karena kalimat kedua merupakan pengulangan isi kalimat yang maksud dan tujuannya serupa;

Seperti seorang petualang, seperti seorang pejuang
seperti seorang pengkhianat, seperti seorang patriot

Paralelisme yang lain :

…celaan dan sanjungan
cemooh dan pujian 

Sedangkan sarana retorika tautologi dapat dilihat; aku belajar,  aku menabung, celaan dan sanjungan, cemooh dan pujian, itu dan  itu lagi. Itu dan itu lagi menegaskan bahwa celaan dan sanjungan, cemooh dan pujian selalu/seringkali diterima oleh si aku.

Berikutnya;  _Mendung, kilat, petir, hujan, banjir, _itu  dan  itu lagi. Penegasan ini serupa dengan yang di atas yang menunjuk bahwa mendung, kilat, petir, hujan, banjir, suatu  situasi  yang mengerikan selalu datang kepada si aku.

Tautologi yang lain; itu-itu yang maknanya berbeda dengan itu dan itu lagi. “Itu-itu” menunjuk  bahwa  itulah yang seharusnya terjadi atau yang diinginkan oleh aku.

Tipografi dengan huruf tebal memperlihatkan bahwa hal tersebut merupakan bagian penting.

DOA

Bapa kami yang ada di sawah, telah direndahkan namamu.
Selalu hancur harapanmu, kemuliaan bagimu hanya angan-angan.
Engkau selalu ditinggalkan rejeki, engkau dicoba terus-menerus,
ditipu terus-menerus ; Engkau bebas dari kejahatan, tapi tak pernah bebas dari yang jahat.
Kerajaan Surga Di sediakan Tuhan bagimu, ajaklah aku tolong.

Bapa kami yang ada di pabrik-pabrik, dirundung kesepian namamu
berbaur dengan desah mesin yang garang, doamu akan kenaikan harga
selalu terkabul, tetapi keuntungan produksi selalu pula sesat,
tak pernah kembali padamu tapi ke Panti Pijat dan Super Market.
Doakanlah aku, karena aku tahu Bapa di Surga selalu mengarahkan telinganya bagimu.

Paman kami pegawai yang pegang sapu dan mesin ketik, telah jatuh namamu ke lantai dan kau sapu sendiri. Hasil kerjamu, roda-roda pemerintahan yang berputar, arus managemen yang lancar, telah menggilas harapanmu dan cinta anakmu. Kau telah membumbungkan aku keatas atap-atap universitas, hingga bisa berpongah.

Bersama dengan saudara kami yang terlempar di ombak segara, yang dirampok ikan-ikanmu, yang selalu naas menghampirimu, yang niscaya dilaut tinggal niscaya, mohonkan ampunan untuk kami ini, yang telah turut menghisap dan menindasmu, kami tahu tangan sang tunggal akan selalu terulur bagimu, tolong.

Membaca puisi Doa ini kita  melihat adanya ketidakwajaran dalam konvensi yang berlaku selama ini. Seperti kita ketahui doa pada umumnya adalah  upaya komunikasi manusia yang ditujukan kepada Tuhan. Dan dalam setiap doa, manusia selalu langsung berhubungan atau melalui orang yang dianggap berwenang atau mempunyai otoritas seperti Kyai, Pendeta, Pastur dan sebagainya. Namun dalam puisi ini, anehnya pengarang tidak memohon langsung kepada Tuhan namun melalui kalangan masyarakat yang selama ini dipinggirkan yaitu petani, buruh dan nelayan.

Pada bait pertama, si aku melihat petani yang telah direndahkan namanya (statusnya), yang selalu dicoba dan ditipu terus menerus, di sediakan kerajaan Surga oleh Tuhan sehingga si aku meminta kepada petani untuk mengajaknya serta.

Pada bait kedua, buruh yang memiliki masalah yang hampir tiada bedanya dengan petani dilihat oleh si aku  bahwa suaranya didengar oleh Tuhan sehingga aku memohon untuk didoakan.

Pada bait ketiga, aku melihat pegawai-pegawai banyak berperan dalam mendukung pendidikan si aku yang berarti adanya tingkat sosial yang tinggi, namun aku bukannya  berterima  kasih  malah bersikap sombong.

Pada bait keempat, aku melihat nelayan yang memiliki masalah hidup akan selalu ditolong oleh Tuhan, maka aku meminta untuk memohonkan ampunan kepada Tuhan.

Pada puisi ini pengarang banyak mempergunakan bahasa kiasan metonimia yang  mempergunakan sebuah atribut sebuah obyek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan obyek tersebut (Alternbernd via Pradopo,  1990:77).

Metonimia  di  sini seperti;

Bapa kami yang ada  di  sawah  untuk menunjuk petani,
Bapa kami yang ada di pabrik-pabrik untuk menunjuk buruh-buruh,
Paman kami pegawai yang pegang sapu dan mesin ketik untuk menunjuk tukang sapu dan pegawai  administrasi,; dan
saudara  kami  yang terlempar di ombak segara untuk menunjuk nelayan.

Pada bait pertama, kita melihat tipografi yang digunakan yaitu huruf tebal, ini menunjukkan suatu yang penting. Bisa dikatakan bahwa petani adalah kelompok masyarakat yang banyak berjasa bagi kehidupan manusia. Dari kelompok petani inilah manusia dapat mempertahankan hidupnya (bisa makan).

Sarana retorika yang menonjol yang dapat dilihat adalah paradok-ironi yang mempertentangkan satu kondisi dengan kondisi yang lain. Dengan puisi ”Doa” terlihat penghargaan pengarang terhadap masyarakat bawah yang terpinggirkan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis empat buah puisi di  atas, dapat disimpulkan bahwa puisi-puisi TS. Jati memiliki kecendrungan menggunakan bahasa sehari-hari, menggunakan bahasa kiasan personifikasi, dan menggunakan sarana retorika paradok, tautologi, dan tipografi berbentuk huruf tebal.

Mengenai isinya, kita dapat melihat kegelisahan-kegelisahan TS. Jati dalam melihat kenyataan sosial yang ada di sekelilingnya. Ia mencoba merefleksikan dan melontarkan pemikiran yang terkadang sarat dengan filsafat.

=============================

 

REFERENSI_

 

Jati, T.S. 1977. _Sonyaruri_, Sala: tanpa nama penerbit.

Pradopo, Rahmat Djoko. 1990. _Pengkajian Puisi_, Yogyakarta: Gadjah Mada University Pers.

—  1995.  _Beberapa  Teori  Sastra,  Metode Kritik, dan Penerapannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rohayati Titik, 1996. _Menikmati Sajak-sajak Dorothea Rosa H dalam Kepompong Sunyi, makalah untuk mata kuliah seminar sastra II, tidak dipublikasikan.

Salden,  Raman.  1991. _Panduan Pembaca Teori  Sastra  Masa  Kini_, terjemahan Dr. Rahmat Djoko Pradopo, Yogyakarta: Gadjah  Mada University Pers.

Yonny, Acep, 1996. _Meneropong Misteri: Kumpulan Sajak Tuyul –  F. Rahardi_,  makalah untuk mata kuliah seminar sastra II,  tidak dipublikasikan.

*****

Tulisan ini merupakan tulisan lama, tugas saat kuliah dulu, untuk mata kuliah Seminar Sastra II yang dipresentasikan pada tanggal 17 April 1996.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: