Tinggalkan komentar

Menjauhkan Anak dari Kebohongan, Membangun Generasi Anti Korupsi

Gambar Yayak Iskra

Gambar Yayak Iskra

Berbohong itu susah. Namun, kita semua, pasti pernah berbohong. Ada yang berhasil, ada pula yang tidak. Pemahaman umum, kebohongan akan disusul dengan kebohongan-kebohongan berikutnya untuk mempertahankan kebohongan awal. Kebohongan,pada akhirnya dapat lekat menjadi bagian hidup seseorang.

Memang, tidak semua orang dapat berhasil meyakinkan orang dengan kebohongannya. Tapi banyak orang bebal bermuka tebal, memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa orang sudah tahu tentang kebohongannya, masih saja terus melancarkan aksi-aksi bohongnya. Barangkali anda mengenal baik salah satunya baik kawan yang dikenal secara fisik atau kawan di dunia maya.

Mencari para pembohong bukanlah persoalan sulit. Ia hadir di sekitar kita setiap hari, sosok yang sama ataupun berganti-ganti. Lihat saja di televisi. Berita infotainment atau berita tentang politik, telah banyak mengajarkan kita tentang sepak terjang para pembohong dengan wajah manis, penuh senyum, kemudian terbukti ia telah (seringkali) melakukan pembohongan kepada publik.

Bila dikatakan korupsi telah membudaya, maka kebohongan lekat pula kepadanya. Walau tidak semua pembohong adalah pelaku korupsi, tapi para koruptor dapat kita yakinkan adalah para pembohong.

Bahayanya, pembenaran atas kebohongan telah menjadi pelajaran bagi semua orang termasuk anak-anak dan kita melakukan pembiaran-pembiaran atasnya. Sebagai contoh kasus adalah anak-anak yang belum berumur 13 tahun namun sudah memiliki akun facebook. Dapat dipastikan ia telah melakukan kebohongan memberikan identitas tentang umurnya.

Tentang ini, saya teringat seorang kawan yang anaknya bercita-cita menjadi presiden. Suatu hari ia mengetahui anaknya telah memiliki akun facebook. Pada kesempatan yang santai, ia bertanya pada anaknya, ”Masih bercita-cita jadi presiden?”

”Masih,” kata anaknya dengan cepat penuh semangat.

”Untuk apa?”

”Untuk membangun masyarakat yang bahagia,”

”Tidak akan bisa, bila kamu sudah belajar berbohong,”

”Berbohong apakah?”

”Kamu sudah punya akun facebook. Pasti kamu telah berbohong, bukan? Kalau sekarang sudah belajar berbohong, bagaimana kelak saat kamu jadi presiden,”

”Baiklah, saya akan menghapus akun facebook saya,”

Cerita kawan saya, akun facebook itu benar-benar dihapus oleh anaknya.

Bila kita menginginkan generasi yang baik di masa mendatang, pendidikan dalam arti luas, di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah, sama-sama memegang peranan penting. Belajar untuk tidak berbohong, pastilah merupakan pendidikan yang mudah diucapkan namun sulit untuk dipraktikkan. Namun menjadi keharusan. Bila tidak, ya seperti saat ini, di mana kita dihadapkan secara terus-menerus kepada para pembohong, sampai kemudian kita juga larut untuk menjadi salah satu bagiannya, mulai melakukan korupsi kecil-kecilan.

Tapi semoga saja itu hanya sekedar prasangka yang tiada terbukti.

Yogyakarta, 7 Oktober 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: