Tinggalkan komentar

Memampukan Anak untuk Berpartisipasi, Sebuah Tantangan

Kehidupan anak yang bahagia dalam gambar kelompok yang dihasilkan dalam workshop Anak di Kebumen

Kehidupan anak yang bahagia dalam gambar kelompok yang dihasilkan dalam workshop Anak di Kebumen

Serangkaian kegiatan dua bulan terakhir, memiliki benang merah tema yang serupa, yakni tentang Partisipasi Anak. Ya, ini adalah salah satu prinsip dasar dari Konvensi Hak Anak, yang dinilai penting oleh organisasi/lembaga atau-pun para aktivis (hak-hak) anak.

Saya merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk bekerjasama dengan banyak pihak, diantaranya:

World Vision Indonesia dalam pertemuan nasional (11-14 September 2013) yang melibatkan staff yang bergerak pada bidang pendidikan dari seluruh Indonesia, memberi kesempatan menjadi salah satu narasumber  dengan tema Memaknai Partisipasi Anak dalam Konteks KHA dan dipercaya menjadi fasilitator dalam pelatihan Partisipasi Anak untuk Regio Kalimantan Barat yang berlangsung di Pontianak ( 26-27 September 2013)

Save the Children yang membuat film untuk menyerap aspirasi anak terkait dengan post 2015 dari MDG’s yang akan disampaikan sebagai bagian usulan dari Organisasi Masyarakat Sipil Internasional dalam KTT yang membahas agenda MDGs ke depan, telah memberikan kesempatan untuk turut terlibat memfasilitasi proses konsultasi anak bersama anak-anak seputar merapi (17 September 2013).

ChildFund Indonesia yang memberi kesempatan untuk memfasilitasi penelitian yang dilakukan oleh anak dan remaja di Jakarta, Semarang, dan Kulonprogo tentang Kekerasan Berbasis Gender, yang telah menyelesaikan penggalian data dan informasi pada bulan September dan telah memasuki tahap pengolahan dan analisis data (1-2 Oktober 2013).

Plan Indonesia untuk kesekian kali juga memberikan kepercayaan untuk memfasilitasi ”Workshop Partisipasi Anak dalam Kelompok Perlindungan Anak Desa/Kelurahan (KPAD/KPAK)” di Kabupaten Kebumen yang diikuti oleh perwakilan dari 15 KPAD/KPAK pada tanggal 21-22 September 2013.

Jika pada orang dewasa dikenal istilah Hak Sipil dan Politik, pada anak dikenal istilah Hak Sipil dan Kemerdekaan. Salah satu yang membedakan antara anak dengan orang dewasa adalah: anak tidak memiliki hak politik. Anak belum dapat memilih dan dipilih. Partisipasi Anak menjadi jembatan agar anak dapat mengartikulasikan kepentingannya melalui pandangan-pandangannya terutama yang terkait dengan kehidupannya baik secara langsung maupun tak langsung.

Rujukan utama partisipasi anak adalah pasal 12 dalam Konvensi Hak Anak. Pasal tersebut sesungguhnya mengatur tentang ”Hak Anak untuk Didengar”. Secara lengkap, ketentuan pasal tersebut berbunyi:

”Negara-negara pihak harus menjamin bagi anak yang mampu membentuk pandangannya sendiri, hak untuk mengutarakan pandangan-pandangan tersebut dengan bebas dalam semua masalah yang mempengaruhi anak itu, pandangan-pandangan anak itu diberi bobot yang semestinya sesuai dengan umur dan kematangannya” 

Peraturan perundangan dan Kebijakan-kebijakan di Indonesia telah memberi ruang bagi partisipasi anak. Pada Undang-undang Perlindungan Anak dapat dilihat pada pasal (4), (10) dan (24). Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015, telah merumuskan target tersusunnya kegiatan peningkatan partisipasi anak dengan tujuan: terwujudnya persepsi bahwa anak adalah subyek yang perlu didengar aspirasinya dan Pemberdayaan partisipasi anak melalui kelompok-kelompok anak secara bottom-up. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, juga telah mengeluarkan Permen No. 3 & 4 tentang (petunjuk pelaksanaan) Partisipasi Anak dalam Pembangunan.

Media yang diamanatkan dalam kebijakan-kebijakan tersebut adalah terbangunnya forum/kelompok anak di segala tingkatan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional. Forum/Kelompok anak inilah yang dinilai sebagai wakil dari suara anak untuk menyampaikan aspirasinya dalam pembangunan.

Tentu ruang terbuka sebagaimana disebutkan di atas merupakan peluang besar bagi anak-anak untuk menyampaikan pandangannya sesuai kepentingan mereka sebagai anak, di dalam proses pengambilan keputusan (kebijakan ataupun program) yang berhubungan dengan kehidupan mereka.

Forum/kelompok anak giat dibentuk dengan fasilitasi dari organisasi masyarakat sipil dan pemerintah, sehingga kita dapat melihat hampir di semua kota/kabupaten telah ada forum/kelompok anak(hal mana, ini menjadi salah satu indikator tentang kota/kabupaten layak anak). Masalahnya, sejauh mana forum/kelompok anak tersebut dapat berperan dan berpartisipasi secara bermakna.

Tampaknya, sejauh ini forum/kelompok anak belum dapat dioptimalkan dengan baik sebagai sarana belajar bagi anak untuk berorganisasi dan berpendapat. Forum/kelompok anak lebih banyak dilibatkan dalam berbagai forum pengambilan keputusan tanpa adanya persiapan dari anak-anak untuk membahas secara kritis hal-hal yang terkait dengan agenda pertemuan dan mendiskusikan usulan ataupun pandangan anak yang akan disampaikan. Sehingga wakil anak, benar-benar akan menyuarakan kepentingan (forum/kelompok) anak, dan mempertanggungjawabkan keterlibatannya kepada anak-anak yang telah memberikan mandat kepada mereka.

Selain itu, upaya untuk memampukan anak menyampaikan pandangan-pandangannya secara kritis, tentu tidak akan lahir secara spontan melainkan perlu dilatih atau dididik dengan metode-metode yang ramah anak dan dilakukan secara berkesinambungan dengan mempersiapkan mekanisme kaderisasi yang baik. Hal ini mengingat anak dibatasi usia, saat berumur 18 tahun, sudah tidak dianggap sebagai anak lagi.

Oleh karenanya, upaya memampukan, tentu terkait dengan pendidikan bagi anak yang memerdekakan!

Yogyakarta, 14 Oktober 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: