Tinggalkan komentar

Daripada Mogok, Saatnya Refleksi untuk Mendidik Calon Pemimpin Bangsa

Tulisan ini dibuat untuk menyambut peringatan Hari Guru Internasional.  Sebelumnya, tulisan diposting di blog Kompasiana dan kemudian diposting di sini sebagai dokumentasi tulisan.

Sebelumnya, saya ucapkan Selamat memperingati Hari Guru Internasional. Peringatan Hari Guru, berbeda dengan peringatan hari-hari lain, seperti hari Buruh, Hari Anak, Hari Perempuan, Hari HAM, dan sebagainya hal mana, penentuan didasari oleh suatu perjuangan untuk kepentingan (kelompok) mereka sendiri. Sedangkan peringatan Hari Guru, menurut UNESCO mewakili sebuah kepedulian, pemahaman, dan apresiasi yang ditampilkan demi peran vital guru, yaitu mengajarkan ilmu pengetahuan dan membangun generasi. Jadi, peringatan Hari Guru justru ditekankan untuk mengingatkan akan fungsi mereka yang mulia untuk membangun generasi yang lebih baik.

Maka, saat Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), melalui Ketua Umumnya pada Jum’at lalu menggagas rencana mogok belajar yang akan dilangsungkan hari ini, (5 Oktober) yang dimaksudkan untuk mengkritik implementasi kebijakan pemerintah terkait urusan guru yang semakin buruk. Mulai dari urusan sertifikasi guru, pemerataan distribusi pendidik, tunjangan sertifikasi, inpassing atau penyetaraan guru swasta seperti PNS, dan pengangkatan guru honorer, tampaknya tidak tepat dengan semangat peringatan hari Guru Internasional. Gagasan ini juga mendapat reaksi dan kritik dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan guru pula.

Peran dan fungsi guru, tentulah merupakan suatu yang maha mulia, yang menentukan bagaimana suatu generasi akan dibentuk dan memberi makna bagi kehidupan manusia di suatu wilayah, suatu bangsa atau suatu negara.

Saya kira, serangkaian peristiwa yang hadir dalam kehidupan sosial-politikdi Indonesia akhir-akhir ini, dapat menjadi titik pijak bagi para guru untuk merefleksikan proses dan muatan pendidikan yang berpengaruh terhadap suatu generasi.

Para pemimpin bangsa kita, menunjukkan watak individualis, tidak taat pada aturan permainan yang bahkan dibuatnya sendiri, tidak berpikir tentang kebersamaan, tidak berpikir dan mempraktekkan berbagai upaya guna membangun perubahan bangsa dan negara sesuai dengan rumusan konstitusi negeri ini, di mana mereka sebagai penerima mandat, justru berasyik-masyuk melakukan perselingkuhan politik-bisnis yang kerap berbau seks dan obat-obatan terlarang. Berbagai kasus yang terbongkar telah melibatkan para wakil rakyat, aparat penegak hukum, aparat keamanan negara, pemimpin wilayah, dan juga penegak keadilan, bukan hanya mengenai ”kroco-kroco”-nya saja juga sudah menyasar pada pucuk pimpinan, menunjukkan wajah negeri ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Para pemimpin bangsa saat ini tentunya dididik dan dibentuk dari satu masa tertentu. Nah, tentunya para guru dan para pejabat yang berwenang dalam institusi pendidikan, seharusnyalah melakukan kajiant entang sistem pendidikan yang dibangun pada masa-masa itu, sebagai evaluasi dan refleksi, guna memperbaiki para (calon) pemimpin bangsa di masa mendatang.

Barangkali, pendidikan masa itu, yang dimungkinkan masih berlangsung hingga saat ini, anak didik diajarkan untuk menjadi individualis, dengan ukuran keberhasilan menduduki jabatan tertentu dan dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat materi. Bila benar itu terjadi, sesungguhnya telah mengingkari hakekat pendidikan sendiri. Pendidikan yang memerdekakan dan membebaskan sebagai manusia agar dapat mensikapi dan membangun peradaban yang lebih baik.

Apalagi, bila dikaitkan dengan biaya pendidikan yang tinggi, sehingga muncul tuduhan komersialisasi pendidikan, yang berpengaruh bahwa biaya-biaya tersebut harus digantikan saat menikmati pekerjaan. Kekacauan lagi, untuk mendapatkan pekerjaan, orang-orang dihadapkan untuk mempersenjatai diri dengan segepok uang agar dapat lolos seleksi. Gosip-gosip seputar ini, yang seringkali mengandung kebenaran nyata.

Nah, di hari guru ini, sebaiknya memang para guru dan institusi pendidikan merefleksikan sistem pendidikan yang benar-benar dapat menghasilkan suatu generasi yang lebih baik, peka terhadap realitas, memiliki solidaritas sosial yang tinggi, dengan ketahanan mental untuk menghadapi berbagai tantangan guna melaksanakan amanah dan mandat yang disandangnya, demi bangsa dan negara ini.

Bagaimana?

Sekali lagi saya ucapkan selamat hari guru

Yogyakarta, 5 Oktober 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: