Tinggalkan komentar

Puisi main-main dalam dunia main-main

Puisi main-main dalam dunia main-main

Ini puisi main-main tatkala kita memang gemar bermain dalam aneka permainan yang tak kunjung usai dan selalu saja tatkala aturan main telah ditetapkan benak dan tindak secara licik membangun siasat untuk mempermainkan permainan baik terhadap lawan maupun para penonton yang ternyata bermain pula sesama penonton dalam pertaruhan yang tiada liciknya pula mengatur permainan para pemain.

Maka tatkala pekabaran tentang permainan tak salah pula penuh main-main yang kerapkali menyesatkan para pemburu informasi yang senantiasa kehausan dan siap menyeruput kata demi kata dari suatu fakta yang kerap terbumbui aroma memabukkan kendati tanpa dupa-dupa terbakar yang dikemas ulang sebagai pelanjut pekabaran sebagai tangung jawab sebagai warga yang tidak mau kalah untuk turut bermain dalam suatu permainan yang kerapkali tidak diketahui siapa-siapa para pemainnya terkecuali orang-orang yang terkena sial yang harus dikorbankan demi kelangsungan permainan.

Berkobarlah api-api permainan dalam segenap ruang, dari puncak gedung tertinggi hingga gorong-gorong kota yang mengering dan sungai-sungai mampet, airnya tak sampai melintasi muara apalagi berpetualang dalam lautan lepas.

Tiada seorangpun sanggup menghindari diri dari permainan bentuk apapun agar élan tetap menyala dalam asa yang barangkali mengeras membatu dan berubah warna dalam kilatan cahaya mimpi-mimpi dari bintang-bintang yang berjatuhan dan rebah dalam belaian lembaran-lembaran uang laksana dewa yang melayang-layang, dan semua berkejaran berbaur bersama udara beracun menenggelamkan diri dalam asap-asap yang menghitamkan wajah melahirkan gelak tawa saling menuding lantaran cermin terbelah dan air menghitam.

Puisilah yang hadir dalam sepi, di pojokan jalan tersikut-sikut, sempoyongan dan tergeletak, terinjak-injak oleh jutaan kaki yang hilirmudik tanpa arah membangun kemacetan luar biasa hingga malam adalah persembahan diri bagi pemulihan untuk turut bermain keesokan hari.

Puisi yang kehilangan bentuk, memecahkan dirinya menjadi benalu-benalu yang lekat di kepala, dan segenap barang produksi yang selalu terkonsumsi walau terkontaminasi oleh jutaan virus liar yang menggila dan memporakporandakan dunia. Karenanya puisi-pun bisa tersenyum dalam permainan main-main.

Yogyakarta, 9 September 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: