Tinggalkan komentar

Cerpen: Kisah Sebuah Taman

KISAH SEBUAH TAMAN

“INILAH  Taman terindah di seluruh negeri.Taman seluas sejuta hektar dengan tumbuhan aneka rupa. Inilah Taman. Meskipun tumbuhan aneka rupa, ia ada lantaran memang diadakan setelah melalui proses penyeleksian. Bukan lantaran tumbuh dengan sendirinya. Inilah Taman.Berbeda dengan hutan. Taman adalah perekayasaan. Tumbuhan yang tak masuk hitungan langsung dibabat.Hutan adalah alamiah.Jadi harus kau bedakan terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian”

“Inilah Taman. Teramat indah. Memasuki taman ini dan menyusuri jalan-jalan setapak akan terlihat pemandangan yang dapat menjernihkan pikiran. Ada danau, ada bukit, ada pohon besar, ada pohon kecil,ada semak-semak, ada rerumputan, ada kursi-kursi, ada menara pandang, ada sungai, ada penjaja asongan, ada pedagang kaki lima, ada penyewa tikar, ada bus-bus mini yang akan mengantar keliling taman, ada penjaga-penjaga, ada restoran-restoran, ada hotel-hotel, ada beberapa kolam renang, ada beberapa tempat bermain, ada ribuan lampu-lampu, ada puluhan wc, ada, eh, apa sebenarnya yang kau butuhkan? Katakan saja. Kukira pasti dapat ditemukan di taman ini. Inilah taman yang paling lengkap dengan fasilitas. Inilah taman kebanggaan warga negeri.”

“Jangan kau menggerutu bila berkunjung ke sini. Memang biaya masuk sedikit mahal.Memang mau kencing harus bayar (kalau kau mencoba tidak menghentikan kebiasaanmu memuncratkan di bawah pohon, meskipun tersembunyi, jangan salahkan bila kau tertangkap dan harus membayar denda cukup besar). Memang, mau keliling keluar uang lagi. Memang, harga makanan di atas harga umum.Memang, mau duduk harus sewa tikar.Memang, pedagang asongan selalu mengerumuni (Soal ini,toleranlah, dan tunjukkan kemurahan hatimu.Masalahnya mereka telah berani melanggar peraturan.Kalau kena razia, mereka bias kena denda tinggi, dan mendapatkan hukuman membersihkan wc. Meski mereka sedikit mengganggu,harga barang yang mereka jajakan pastilah lebih murah dari harga restoran). Memang, sangatmengecewakan bila bawa uang terbatas. Maklumlah.Sekali lagi maklum. Biaya pembuatan taman kan sangat besar. Lagipula, 90% uang hutangan.Tapi hutangan lunak loh. Jadi, bawalah uang yang cukup. Biar kau bisa menikmati taman sepuas-puasnya tanpa perlu khawatir kekurangan uang.”

“Ya..ya…ya…Tentu kau menyaksikan peresmiannya, bukan?Kalau tidak menyaksikan secara langsung, setidaknya kau menenton televise (Disiarkan langsung dengan banyak sponsor). Bila tidak sempat menonton televise, kau mungkin mendengar dari radio resmi pemerintah ataupun seluruh radio swasta yang menyiarkan secara langsung pula tanpa ada yang mencoba mencuri kesempatan menyiarkan acara lain. Atau barangkali kau membaca Koran atau majalah? Seluruh media massa memberitakannya. Tidak cukup satu berita, ada yang memberitakan satu halaman penuh di halaman depan plus beberapa halaman lainnya. Ada pula yang memberikan bonus berbentuk tabloid 20 halaman yang khusus memuat liputan peresmiannya. Koran-korankecil yang tidak mampu memberikan bonus, malah menjadikan terbitan sehari sebagai edisi khusus. Ya…ya…ya.. kau pasti menontonnya,atau setidaknya mendengar atau membaca atau bahkan ketiganya sekaligus.”

“Taman yang hebat dengan peresmian yang teramat dahsyat. Penguasa negeri, pejabat-pejabat tinggi, tamu-tamu utusan mancanegara, pengusaha kelas atas, menengah dan kecil, para wartawan, kyai, pastur, pendeta, bikhsu, dosen, mahasiswa, dan segenap perwakilan unsur masyarakat tumpah ruah di sini. Memang ada insiden kecil, tapi janganlah dipersoalkan. Itu kan hanya segelintir orang yang tidak puas dan tidak menghargai pembangunan sehingga berkerumun menggelar spanduk dan poster sambil berteriak-teriak. Mereka dapat dengan mudah dihalai oleh tentara khusus.Lagipula pemberitaan tentang aksi mereka tak secuil-pun masuk dalam pemberitaan media massa. Pokoknya persemian berjalan sangat lancer. Penguasa utama memberikan pidato yang menggelorakan.Para pejabat demikian pula. Penguasa kelas atas tidak mau kalah.Pidato-pidato yang ada berjalan secara marathon selama dua puluh empat jam lebih beberapa menit. Meskipun membuat letih dan memang sangat membosankan, semua tampak dan harus bergembira.”

“Usai pidato, ada hiburan sebulan penuh dengan beragam kesenian tradisional dan modern. Peserta dari anak-anak hingga lanjut usia. Soal berapa biaya, janganlah kau persoalkan. Apalagi membanding-bandingkan angka-angka yang keluar dengan pemanfaatan yang lain. Sama sekali tak ada hubungannya. Pokoknya semua bergembira. Pokoknya semua mempunyai kekaguman.Pokoknya semua mempunyai kebanggaan. Pokoknya,taman itu dapat diresmikan dan dapat difungsikan. Pokoknya..Ya, pokoknya!”

“Ah, kenapa sih kau mempersoalkan hal itu? Yang sudah, ya sudah. Kita itu hidup harus maju. Harus menatap ke depan.Jangan ke belakang.Yang sudah,ya sudah.Apa kau kira dengan mempertanyakan itu situasi akan berubah? Berapa ratus orang yang harus pindah,itu sudah resiko.Sudah takdir karena tanahnya akan digunakan untuk taman. Untuk suatu kemajuan harus ada pengorbanan, harus ada partisipasi aktif, harus ada nrimo.Taman ini bukan untuk segelintir orang. Taman ini untuk rakyat. Terbuka bagi siapa saja yang mau berkunjung. Kalau soal harga tanda masuk dinilai tinggi, ya susah. Kalau mengeluh menggunakan fasilitas harus serba bayar, ya susah. Kau mau hitung-hitungan semacam itu, ya susah. Kalau tidak ada uang, ya, jangan datanglah. Menabung dulu sampai uang cukup.Tapi maaf loh, ini bukan larangan. Ini hanya himbauan.Daripada merasa susah dan membuat susah orang lain.Begitu ka nada baiknya. Ya, seperti tadi sudah kukatakan, 90% biaya pembangunan taman ini adalah hutang. Hutang itu harus dibayar. Kalau masuk taman gratis, kalau pakai fasilitas serba gratis,mau bayar pakai apa? Kamu kok senangnya gratisan sih? Oh, ya, yang kamu pertanyakan tadi berapa orang yang harus pindah dan ke mana mereka pindah?  Kalau soal mereka pindah ke mana, saya tak tahu pasti. Kemampuan saya kan terbatas. Lagipula buat apa saya menghitung ratusan orang. Memangnya saya tukang sensus? Tapi, yang jelas pemimpin-pemimpin kita telah menawarkan beberapa pulau kosong untuk digarap mereka. Dikasih fasilitas makan dan peralatan.Apa tidak enak itu? Susah deh, ngomong yang lain saja. Ngomong soal kekaguman orang-orang seluruh penjuru dunia terhadap taman ini kek atau apa gitu. Lebih bermanfaat bagi pengembangan diri.Bisa tambah wawasan. Bisa menambah informasi. Biar lebih pinter. Biar tidak ketinggalan.Biar jadi orang yang masuk arus sejarah.Enak kan?”

“Hei, mau hiburan tidak? Aku katakana kepadamu, tapi jangan bilang siapa-siapa ya? Ini rahasia.Kalau saya tidak percaya pada kamu, tentu saya tidak akan ngomong. Di sini ada bisnis daging se-ons. Mau yang tariff berapapun ada.Tapi bukan ukuran umum lho. Ya,ukuran seperti kamu-kamu itulah.Paling murah satu juta. Ada juga yang sekali main tiga puluh juuta. Tinggal pilih saja. Mau bintang film tenar, mau bintang film kelas figuran, mau tokoh-tokoh terkenal, atau mau yang mana? Semua mudah dicari.Soal kerahasiaan sangat terjamin.Banyak kok pejabat yang bermalam di sini, para politikus, para pengusaha, para bintang film, bahkan anak-anak mereka. Ada yang sudah bawa sendiri juga sih.Tapi, kalau kamu tidak punya duit, kamu bias juga cari duit di sini.Syaratnya gampang. Gampang seperti saya.Dan… tidak cepat loyo….Banyak ibu-ibu, tante-tante, perempuan-perempuan karier yang anti perkawinan, mencari orang-orang ganteng dan kuat seperti saya. Sudah dapat gratis, malah dapat bayaran. Asyik kan? Kalau kamu tidak mau begituan, kita bias ngintip. Saya sudah buat beberapa lubang di atas kamar-kamar. Keamanan terjamin.Soal penjaga tidak masalah.Mereka juga sering ikut-ikutan begitu.Lho kok saya ngomong ngelantur sih? Ngomong yang lain saja,ya..

“Kamu mau ngajak saya jalan-jalan. Baik.Saya mau. Tapi kau yang membayar semua. Dari ongkos bus mini, sewa tikar,makan di restaurant,dan… belikan rokok juga ya..? Ah, kamu sendiri pasti tidak punya uang. Kenapa kamu di sini terus?Enggak lucu, ah. Sudah semangat, kau sendiri yang menjerumuskannya.Enggak lucu.Sama sekali enggak lucu. Mau cari uang dulu? Di mana? Ngerampok?Ngerampok Bank?Edan! Kamu punya modal apa?Lari saja tidak bias.Eh,ngomong-ngomong, kamu bias cariin pistol nggak? Katanya banyak di pasaran gelap.Ah, kamu menutup-nutupi. Lalu darimana perampok-perampok itu dapat senjata? Di Koran kan sering ada berita perampokan bersenjata. Kalau kamu bisa cari, aku mau merampok sendirian..Aku juga sudah bosan begini.Tanahku dirampas.Uangku digasak orang. Istriku malah lari dengan makelar.Habis. Habis semua milikku. Apa sisanya jadi lurah? Lho, kamu tidak percaya?Benar. Aku lurah di sini.Lurah termuda. Aku begini-begini pernah jadi mahasiswa, lho. Karena itu jadi lurah. Tapi wilayahku sudah jadi taman. Aku tidak punya tempat lagi. Entah kemana rakyatku semua. Aku ingat. Aku ingat. Dulu aku ikut memimpin ke dewan perwakilan rakyat memprotes ganti rugi tanah. Bukan karena kami tidak setuju. Kami cuma ingin diganti tanah. Betul. Buktinya, lihatlah gigiku tanggal beberapa buah lantaran ditendang dengan sepatu lars. Ini, lihat tanganku, bekas luka disundut rokok. Ayo, cepat carikan pistol. Niatku sudah bulat. Bila tidak berhasil, setidaknya lumayan buat nembak kepala sendiri. Aku sudah bosan begini terus. Sudah bosan hidup. Aku sudah bosan dengan kalian. Aku sudah bosan dengan semuanya.Aku muak.Aku mau muntah.Aku mau membunuh kalian semua.  Kalian yang menyebabkan aku begini. Mana rakyatku?! Mana tanahku?! Mana?! Kau sembunyikan di mana? Ayo,cepat katakana! Kalau tidak, kubunuh kalian semua!”

Seorang lelaki setengah tua yang sedari tadi berbicara dengan pohon kelapa kini mulai menghadang orang-orang yang lewat. Pakaiannya kumal, kulitnya kotor, rambutnya acak-acakan, matanya merah. Ia menghadang, mengejar orang-orang. Perempuan-perempuan menjerit ketakutan dan merasa jijik. Para lelaki juga memilih menghindar. Tidak mau mengambil resiko karena di tangan lelaki setengah tua itu tergenggam sebilah belati.

Beberapa petugas keamanan berlarian mengejar lelaki setengah tua itu. Entah di mulai oleh siapa, lelaki setengah tua yang jatuh tersungkur, telah dihujani berbagai pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Rintihannya jelas terdengar. Rintihannya jelas terdengar. Rintihannya jelas terdengar. Rintihannya jelas terdengar. Lalu sunyi. Waktu terasa mati. Taman ini diseka darah!

Yogyakarta, Akhir Mei 1994.

Cerpen ini termasuk salah satu yang terhimpun dalam buku Kumpulan Cerpen”NYIDAM” yang diterbitkan oleh Forum Pencinta Sastra Bulaksumur (FPSB) dan Pustaka Pelajar (November 1994). Beruntung seorang kawan masih menyimpan bukutersebut dan memberikannya padaku. Terima kasih kawan Jemie Simatupang di Medan.

Nyidam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: