1 Komentar

Kopdar dengan Grand Master Reiki, Tjiptadinata Effendi

Foto bersama

Memang luar biasa perkembangan interaksi antar manusia yang kini terjembatani oleh akses internet. Ada berbagai jejaring dan media sosial di mana orang-orang dapat merdeka mengekspresikan dirinya, mendapatkan tanggapan positif ataupun negatif, tidak terbatas pada orang-orang yang tinggal satu kompleks perumahan atau sebatas kota/kabupaten,melainkan telah menembus batas-batas wilayah dari seluruh penjuru dunia.

Pengalaman saya berinteraksi melalui situs astaga.com pada awal 2000-an, telah mempertemukan dengan kawan-kawan baru. Bertahun berkomunikasi berbagi kisah dan pengalaman, hingga akhirnya dapat bertemu melalui Kopdar yang diikuti oleh rekan-rekan se-jawa. Berikutnya, menemukan kawan-kawan baru melalui friendster, disusul facebook, yang kemudian mampu mempertemukan kawan-kawan lama, bahkan saat masih di sekolah dasar.

Pertemuan fisik  dapat berlangsung dengan label reuni. Reuni yang kadang kerapkali terjadi dengan rentang waktu yang pendek, atau membuat kegiatan-kegiatan bersama sehingga interaksi fisik dapat kerap terjadi.

Pada tahun 2010, saya membuat akun di Kompasiana, melongok, membaca, dan menorehkan komentar.  Selanjutnya mulai ikut-ikutan posting. Ruang-ruang komentar membangun interaksi yang baik dengan para sahabat yang disebut sebagai kompasianer. Pada awalnya, terutama bagi para kompasianer yang sering hadir menjelang tengah malam hingga dini hari. Kalonger demikian sebutannya.

Pada saat itu, komunitas yang terbentuk dari interaksi sesama kompasianer yakni Negeri Ngotjoleria tengah mengalami kegalauan, dan perlahan menghilang. Muncul komunitas baru, bernama Planet Kenthir yang didirikan atas inisiatif beberapa kompasianer yang sebelumnya aktif di negeri Ngotjoleria. Muncul pula komunitas Desa Rangkat yang diawali dengan postingan-postingan puisi kolaboratif.

Desa Rangkat, adalah komunitas yang pertama kali saya ikuti dan sempat intens beberapa waktu. Kopi darat dengan sesama warga Desa Rangkat yang pertama di Yogyakarta, membuat saya terpesona sekaligus terharu. Bagaimana tidak? Kopdar diikuti tidak hanya oleh orang-orang yang tempat tinggalnya di Jawa saja, melainkan juga dari berbagai pulau, yang sengaja datang dengan biaya sendiri untuk mengikuti Kopdar. Maya menjadi nyata. Demikian pelajaran yang terpetik dari kopdar tersebut, yang semakin menghangatkan persahabatan dan meningkatkan hubungan kekerabatan.

Kini, telah berbagai komunitas bermunculan di Kompasiana. Kopdar sering terjadi. Termasuk pula dalam event-event yang memang dibuat oleh admin Kompasiana dengan mengambil tempat di berbagai kota. Luar biasa bukan?

Barangkali pengalaman ini bukan hanya saya yang mengalami, tapi keyakinan saya adalah sebagian besar kawan-kawan pastilah menjalani hal serupa.

***

Tjiptadinata Effendi dan istriBeberapa waktu lalu, tepatnya pada 17 Agustus 2013, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 68, pukul 11.00-14.00, bertempat di Hotel Wisma Aji, Ringroad Utara Yogyakarta, kesempatan baik menyapa saya sehingga dapat menghadiri kopdar para kompasianer Yogya dengan Bapak Tjiptadinata Effendi dan istrinya.

Tjiptadinata dan istri, keduanya adalah kompasianer yang telah lama dan masih tinggal di Australia. Mereka tampaknya telah membuat jadwal perjalanan panjang keliling Indonesia, dan salah satu tempat yang dikunjungi adalah Yogyakarta. Mereka telah membuat undangan terbuka melalui satu postingan di Kompasiana. Saya juga diingatkan oleh Katedra Rajawen, seorang kompasianer yang paling produktif dan berkesempatan bertemu keduanya saat kopdar di Jakarta.

Tentu saja, kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Saya mengontak Pak Tjipta melalui sms mengabarkan tentang rencana kehadiran saya bersama istri dan datang agak terlambat. Sebelum berangkat saya menyempatkan diri bertanya pada Mbah Google tentang sosok yang akan ditemui. Hanya sepintas saja, tapi pastilah orang yang luar biasa.

Saat datang ke lokasi yang dituju, sudah banyak kompasianer yang hadir. Nama-nama yang tentulah tidak asing, seperti Kang Bain Saptaman dengan postingan khasnya yang satire menyoroti berbagai persoalan sosial-politik-budaya. Pic sepeda ontelnya pastilah melekat di hati pembaca setianya. Fandi Sido, seorang pemuda yang energik, menyukai tantangan dan sangat ciamik dalam membuat reportasenya, dan pada akhir-akhir ini kerap memposting cerita pendek yang mampu membuat kita terhanyut dalam dunia yang diciptakannya dengan tema dan setting yang didasarkan pada hasil research. Adapula Selsa Rengganis, yang baru saja menerbitkan kumpulan puisinya “Empat Puluh Dua Jejak”,Enggar Murdiasih yang tengah bergairah membuat cerita bersambung. Marul, seorang guru di sebuah sekolah di daerah perbukitan bagian barat Yogyakarta. Mbak Metik Marsiya, seorang pekerja yang biasanya berurusan dengan keuangan, tapi memiliki perhatian tinggi terhadap pengobatan tradisional yang dipraktekkannya untuk membantu sesama. Ada beberapa kompasianer lainnya, yang memang baru kali ini berjumpa. Menjelang acara berakhir, Rob Januar seorang admin kompasiana turut hadir bersama Elizabeth Murni.

Satu jam keterlambatan, saya pastilah melewatkan perkenalan dan kisah dari pengundang, yaitu Pak Tjiptadinata Effendi dan istri. Saat datang,  saat Mbak Metik mempresentasikan cara pengobatan penyakit migren dan vertigo, yang bisa dilakukan sendiri dengan cara pemijatan.

Tjiptadinata dalam lapaknya di Kompasiana menuliskan lahir di Padang, 21 Mei 1943. Pensiunan. Alamat : 69 The Avenue/Mount Saint Thomas N.S.W. 2500/ Australia. Usia 70 tahun, tentu luar biasa bahwa ia masih sangat aktif menulis di Kompasiana yang terposting dari berbagai tempat di berbagai belahan dunia yang menunjukkan pula mobilitasnya yang sangat tinggi .

Melihat wajahnya, terlihat masih segar dengan penampilan yang tenang dan menyejukkan. Senyum ramahnya selalu menyapa kepada siapapun tanpa membeda-bedakan. Ia adalah sosok yang suka berbagi. Sebagai motivator  dan menyumbangkan ilmu yang dimilikinya untuk memberikan penyembuhan massal di berbagai tempat. Ia adalah seorang Grand Master Reiki, pendiri dan ketua Yayasan Waskita Reiki yang memiliki cabang di 48 kota di Indonesia, juga ketua Asosiasi Reiki Seluruh Indonesia (ARSI).

Ia juga seorang pengusaha yang merintis perjuangannya dari bawah. ”Kami dulu sangat miskin. Pinjam ke Bank saja malah diusir. Beberapa tahun kemudian, setelah memiliki sedan, sambutan petugas bank sangat ramah. Tapi jangan memunculkan dendam. Itulah hidup,” demikian dikatakan Pak Tjiptadinata saat memberikan kesan sebelum kopdar berakhir.

Di luar postingan di Kompasiana yang menunjukkan produktivitasnya di sela kesibukan yang sangat padat, Ia ternyata juga telah menulis lebih dari sepuluh buku yang diterbitkan oleh PT Elexmedia Komputindo, Kelompok Gramedia, diantaranya:

  • Aplikasi Reiki dalam Penyembuhan Diri Sendiri dan Orang Lain
  • Meditasi Meningkatkan Kehidupan Anda
  • Aplikasi Reiki dalam Mencapai Tingkat Master
  • Meditasi Penyembuhan Lahir Batin
  • Meraih Sukses dengan Pencerahan Diri
  • Esoterik
  • Never Ending Meditation
  • Transformasi Diri
  • The Power of Dream
  • Enlightenment, Mencapai Pencerahan Diri

Sungguh keberuntungan, para kompasianer di Yogya berkesempatan mendapatkan satu buku dari dirinya yang disertai sapa dan tandangan yang tertoreh dalam buku.

Sayang, waktu yang terbatas tidak memungkinkan berdialog dengan dirinya panjang lebar.  Tapi hati tetap merasa senang bisa bertemu dengan para sahabat dan bisa menimba ilmu dari pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki masing-masing orang.

Jadi, tidak merugi pula bermain-main di dunia maya, yang berlanjut pada dunia nyata, sejauh niat baik yang tertanam dalam diri kita masing-masing.

Salam

***

Catatan: Saya telah memposting dua tulisan terkait dengan kopdar ini di Kompasiana:

One comment on “Kopdar dengan Grand Master Reiki, Tjiptadinata Effendi

  1. entahlah……
    saya org yg berkesusahan…….
    entah pula shg hari ini saya menuliskan sesuatu ….harap….
    pdhal saya termasuk oirg yg gaptek, betapa karena nasib selalu di ujung tanduk……..
    kuinginkan sesuatu didunia, semata karena takdir/hidup (nyawa msh di kandung badan), sudi kiranya……. sehingga…… makhluk hidup tikus hidup sekalipun (tentunya) menyatakan hak….. ada….. tampil….. pula dimuka bumi alam semesta ini…………………

    masih adakah kepedulian terhadap sesama manusia………….
    entahlah, yah saya org (diantara) yg berkesusahan……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: