Tinggalkan komentar

Hore, Dapat Buku Lama..!

Nyidam-JejakLangkah

Dokumentasi itu sangat penting. Semua menyadarinya, namun sebagian besar pastilah dengan berbagai alasan justru mengabaikannya. Memang, mendokumentasikan sesuatu itu melelahkan. Hasil dokumentasi barulah bermakna, pada suatu ketika setelah tahun-tahun berganti.

Saat ini, tampaknya saya tengah menyesali diri, ketika banyak bahan-bahan yang lenyap tak tersimpan lagi. Padahal, karena pengaruh seorang teman, sejak SMP saya kerap mendokumentasikan sesuatu, entah klipping, buku, dan sebagainya. Pada saat sempat kuliah dan aktif  menulis cerpen, saya secara rutin untuk beberapa tahun, mengklipping cerpen-cerpen yang terbit di puluhan koran. Tapi kini, lenyap pula.  Termasuk klipping cerpen-cerpen karya sendiri yang pernah  dimuat di berbagai media. Juga lebih dari seratus cerpen yang pernah tertulis.

Keberuntungan, bersama teman-teman di Forum Pencinta Sastra Bulaksumur, gairah berkarya pada saat itu, sempat terhimpun dalam beberapa buku yang diterbitkan bekerjasama dengan Penerbit Pustaka Pelajar. Setidaknya ada tigacerpen yang ikutan dalam buku kumpulan cerpen “Maling” (Agustus 1994), “Nyidam” (november 1994), dan “Tak Ada Pilihan” (2001) yang diterbitkan FPSB-Pustaka Pelajar.

Pada suatu hari,seorang kawan, aktivis LSM dan juga dikenal sebagai penulis, Jemie Simatupang yang bersama Eko Manurung menekuni bisnis buku baru dan buku bekas secara online, men-tag cover buku: Nyidam. Wah, senang juga rasanya bahwa buku itu masih ada. Isinya sendiri, saya lupa, termasuk judul cerpen saya yang ada di situ.

Beruntung, pada awal Juli saya berkesempatan ke medan dan sempat bertemu mereka berdua. Saya tanyakan tentang buku “Nyidam” tersebut. Ternyata masih ada. Saya menyampaikan niat untuk memiliki.”Tenang saja, tidak usah,” sahut mereka ketika ditanya tentang biayanya.

Sayang, saat pulang dari Medan, saya tidak bertemu mereka. Beberapa lama saya menanyakan kembali tentang buku itu.   “Masih ada, maaf lupa, nanti kami kirim. Alamatnya?” jawab pesan dari Jemie.

Agak lama, tiba-tiba ada sms menanyakan apakah saya telah menerima buku tersebut. Saat itu saya tengah berada di luarkota hampir seminggu. “Besok pulang, baru bisa mengecek, nanti saya beri kabar,”

Saatkembali ke Yogya, selepas tengah malam, sang istri menyerahkan sebuah paket, yang langsung saya tebak isinya pastilah buku “Nyidam”. Benar! Wah, betapa bahagianya. Walau agak jengkel dengan pembungkusan berlapis hingga lima bungkusan. Barulah bisa terbuka isinya.  Demi keamanan barangkali. Atau untuk ngerjain juga. ha.h.ah.a.h.ah.a.ha.

***

NyidamNyidam” adalah buku kedua dari sekitar lima buku kumpulan cerpen yang pernah diterbitkan oleh Forum Pencinta Sastra Bulaksumur (FPSB) bersama penerbit Pustaka Pelajar sejak tahun 1994. Ini buku kedua dalam kesertaanku bersama para penulis cerpen lainnya. Buku yang pertama adalah Kumpulan Cerpen “Maling” dengan penerbit yang sama yang diterbitkan pada Agustus 1994.

Buku yang diberi pengantar oleh Dr Faruk HT ini berisi 11 cerpen dari 11 penulis, yaitu Angger Jati Wijaya (Wignyo), Agus Noor (Sukab), Z. Arifin (Nyidam), Setyo Subandono (Jembatan Layon), Kiswondo (Pemimpi), Odi Shalahuddin (Kisah Sebuah Taman), Simon Hate (Penjaga Taman), Mirmo Saptono (Antara Hilir dan Hulu), Aprinus Salam Topeng), Rahmat Hery Prasetya (Ki Dalang) dan Khrisna Miharja (Penyakit Perut.

Keseluruhan cerpen bertema persoalan sosial terutama tentang soal tanah dan penggusuran, tentang buruh, birokrasi dan tentang kemunafikan dan kejujuran.

Faruk, dalam pengantarnya menyatakan: Jadi, pada dasarnya, semua cerpen dalam kumpulan ini bercerita tentang ketidakberdayaan dan kekalahan kelompok tersisih di hadapan kekuatan social, politik dan budaya yang dominant, yang tidak adil, yang tidak jujur. Cerpen-cerpen ini mengangkat kisah-kisah yang penuh tragedy, kesedihan dan membangkitkan rasa iba, keinginan untuk menolong.

***

Satu cerpen sudah dapat ditemukan. Tiba-tiba saya teringat seorang kawan tentang kawan lain yang menemukan satu cerpen yang pernah termuat di Balipost yang dijadikan sebagai pembungkus. Menurut cerita kawan itu, kawan yang menemukan mengatakan “Wah, ini pasti dokumentasi yang akan dicari penulisnya,”

Tiba-tiba ingin mengontak kawan tersebut, yang semoga masih menyimpan potonghan koran tersebut.  Berharap pula disusul oleh cerpen-cerpen lainnya. Ha.h.ah.a.h.ah.a..Impian yang semoga dapat menjadi kenyataan.
Melalui tulisan ini, saya sampaikan terima kasih kepada rekan Jemie Simatupang dan Eko Manurung yang telah mengirimkan buku lama tersebut.

Yogyakarta, 30 Agustus 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: