1 Komentar

Para Pengkhianat Bangsa

Terlalu lama, lagu Indonesia Raya tak pernah ternyanyikan melalui suara sendiri. Dua puluh lima tahun lebih. Lagu yang senantiasa dikumandangkan pada upacara bendera setiap hari senin dan pada peringatan hari Kemerdekaan Indonesia.

Semalam, pada acara malam tirakatan di tingkat RW, upacara dimulai dengan menyanyikan lagu tersebut secara bersama-sama. Walau kuakui, suaraku pastilah jauh dari merdu, aku berusaha turut menyanyikan hingga selesai.

Ada getar terasa. Saat menyanyikan terbayang kisah-kisah perjuangan yang selalu dikisahkan oleh para guru. Teringat film-film yang diputar pada saat masih sekolah. Teringat pula kisah orang-orang tua yang sekarang sudah tiada, tentang bagaimana kehidupan di jaman penjajahan, tentang perjuangan dan tentang pengkhianatan.

Jaman bergerak. Kesadaran tentang kebersamaan sebagai bangsa yang terbangun sejak 1908 dan semakin mengkristal pada tahun 1928. Kaum muda, utamanya para mahasiswa yang tidak berpikir tentang nasibnya sendiri, melainkan tentang nasib bangsa yang menderita akibat penghisapan kekayaan negeri ini dan penindasan agar bangsa menjadi budak bagi kepentingan kaum penjajah, merupakan realita yang membangun mimpi tentang perubahan: Kemerdekaan.

Maka, tercatatlah dalam sejarah, kisah-kisah heroik perlawanan, peperangan melalui senjata dan kata-kata. Minimnya persenjataan, memunculkan simbol perlawanan dengan menggunakan bambu runcing.

Pada kisah-kisah yang tersebar, di tengah semangat perjuangan, anak bangsa yang berpikir tentang diri dan keluarga, dan kehidupan yang menjanjikan lebih baik, memilih jadi budak dengan sukarela, menjadi pengkhianat bagi bangsanya.

Bersyukur bahwa kemerdekaan telah berhasil diraih. Namun kisah masa lalu, terhadirkan kembali dalam catatan-catatan perjalanan bangsa dari masa kemerdekaan hingga saat ini, utamanya pengkhianatan-pengkhianatan.

Pengkhianatan pertama adalah penjualan kekayaan negeri kepada asing. Indonesia kaya raya, semakin menderita, terhisap kekayaannya, sehingga bagai dongeng belaka. Kita ada, kita bisa saksikan kekayaan itu, tapi sayang, bukan kita punya.

Pengkhianatan kedua adalah anak-anak bangsa yang menjadi budak asing yang memainkan peranan untuk terpenuhinya kepentingan para majikan mereka, dengan kelakuan yang menunjukkan ketidakpedulian tentang bangsa dan negara. Barangkali bicara tentang bangsa dan negara hanya sekedar kata dimulut.

Pengkhianatan ketiga adalah di tengah derita, mereka menggerogoti uang rakyat, uang negara ini, yang dimaksudkan sebagai dana pembangunan bagi bangsa dan negara menuju cita-cita negara, mencapai masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Pengkhianatan, tidak berbeda sosok, tapi dapat menjelma dalam satu sosok tertentu yang merangkap ketiganya. Para pengkhianat, adalah orang-orang yang berkesempatan mendapatkan pendidikan tinggi, hubungan yang luas, dan mobilitas yang lintas batas. Artinya, pengkhianat negeri ini, justru dilakukan oleh orang-orang pintar, yang berkuasa atas uang dan informasi. Mereka juga menjabat sebagai petinggi-petinggi negeri.

Jadi, kita masih terjajah, barangkali tersamar, namun sangat nyata. Perjuangan belum selesai, harus tetap digelorakan, mencapai cita-cita bangsa dan negara, mencapai kemerdekaan bagi semua!

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Hancurkan para pengkhianat bangsa!

Merdeka!

Yogyakarta, 17 Agustus 2013

One comment on “Para Pengkhianat Bangsa

  1. negara berdiri di atas semua kepentingan…
    dan kepentingan-kepentingan itulah juga yg akan merusak negara ketika sudah tidak menguntungkan rakyatnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: