Tinggalkan komentar

Betapa Tersiksa Tidak Dapat Menulis

Sungguh menyiksa, saat di kepala banyak yang dapat ditumpahkan, tetapi jemari malas sekali memainkan keyboard, melukis huruf-huruf menjelma kata, kalimat, dan alenia sehingga terbangun sosok wajah, bernama tulisan. Hanya mendekam di kepala membatu. Rasa semakin menjerit saja.

Memaksa, jemari tetap terkulai tanpa daya. Mata nanar, ke dinding putih yang masih kosong. Memancing, membaca berita-berita hari ini dan kemarin, malah semakin membuat kepala terasa ingin pecah.

Menulis, katanya jangan dipaksa. Biarkan ia mengalir, seiring rasa dan emosi yang bergejolak di dada. Pastilah ada yang salah dengan diri sendiri. Pastilah ada yang terpatah atau dinding yang menebal, sehingga tiada ruang pertemuan antara hasrat, pikiran dan tindakan.

Kekesalan bertumpuk, menjadi amarah terhadap diri sendiri. Mengapa huruf-huruf dan angka-angka berlarian, terbang melayang, dan hinggap di genteng-genteng yang tak terjamah?

Menenangkan diri. Mengatur nafas, mengatur pikiran dan hati, bermeditasi. Tetap saja beku. Gila! Ada apa dengan diri?

Beruntung tidak memaki, atau lampiaskan dengan memecah monitor di hadapan. Pastilah bertambah rugi. Ya, kunikmati saja, kesengsaraan menyiksa, pada senja yang cerah, dan mata mulai berkaca-kaca.

Semoga hanya sementara……

Yogya, 30 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: