Tinggalkan komentar

Puisi: Politik Negeri Ini

Politik Negeri Ini

Politik adalah upacara lima tahun-an yang menyapa, masuk bilik suara, dengan endapan di kepala, tentang rangkaian peristiwa, sebelum tentukan pilihannya, mencoblos siapa: kepala desa, bupati/walikota, gubernur, DPRD/DPR, presiden.

Politik identik lupa: saat terpilih menjadi penguasa atau jabatan wakil rakyat dipundaknya. Tak lagi kerap menyapa, apalagi bertanya. Janji-janji-pun hilang entah kemana. Ini bukan sekedar dosa dan pahala. Punya kuasa, lupa segalanya. Kerja-kerja, menimbun harta. Korupsi bersama-sama. Rakyat tetap dalam derita. Sebagai rakyat jelata.

Politik adalah kekuasaan dengan batas waktu. Jelang usai, kembali berburu. Dekat kembali bagai benalu. Tebar janji seperti dahulu. Setelahnya, pastilah akan berlalu. Ya, rakyat sadar itu. Sayang rakyat susah bersatu. Masih banyak menanti ketukan pintu.

Politik dalam berita. Membangun citra. Ketahuan korupsi, tetap senyum pada kamera. Tak malu tertangkap basah bersama wanita atau pria. Pada diskusi, harus pintar berkata-kata. Membuat orang terpesona. Termakan hingga percaya. Selanjutnya pastilah serentetan bencana.

Politik dalam kepala, bersifat mana suka. Asal pintar bicara, dikenal sebagai orang kaya, berbagi membeli suara, setelah jadi lalu lupa. Tak banyak orang mengingatnya.

Politik negeri ini, memang menyesatkan. Orang-orang berbicara politik, tapi kehilangan makna. Kasihan kaum muda bila belajar dari realita politik negerinya.

Yogyakarta, 5 Agustus 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: