Tinggalkan komentar

Puisi: Humaniora

Humaniora

Sejauh-jauh engkau melompat, terbang, melanglang buana, dan bergayutan pada bintang-bintang, memandang semesta, akhirnya tetap pula engkau harus berpijak pada bumi, dan mengakui diri sebagai manusia.

Manusia dengan segala keunikannya, jiwa raga yang terbelah, akal-pikiran yang mampu menembus batas, siasat mempertahankan kelangsungan hidup, tak cukup, bermain pula dengan perjudian nasib, tak hanya sendiri, tapi juga nasib jutaan jiwa lainnya, selalu saja menginginkan hal berbeda, hingga berbangga dengan keberadaan yang asing dalam cermin di muka.

Manusia, dengan cinta-kasih, yang barangkali tersimpan rapi dalam laci hatimu, dan kebersamaan yang engkau penjarakan dalam dinding jiwa, sehingga: Aku adalah Aku.

Manusia, yang selalu berperang di dalam diri, memaki sendiri, merindu damai, dan keirian terhadap manusia lain yang dinilai mampu menentramkan dirinya ditengah gelombang pasang, tak henti menjadi badai, hanya tetes dalam lautan

Manusia membutuhkan cermin. Bukan tentang dirinya. Sebab manusia selalu gelisah melihat wajah sendiri. Maka terbentang cermin-cermin ajaib yang mempertontonkan keharuan, membangkitkan sisi terbaik manusia, menjadi pengasih dan berbagi. Seringkali tak tergerak, namun setidaknya mampu mencairkan air mata beku. Tak terakui-pun semua tahu.

Maka, bersyukurlah bila kita merasa sempurna dalam ketidaksempurnaan yang kita akui. Sebab dengan demikian maka kita menjadi manusia

Yogyakarta, 5 Agustus 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: