Tinggalkan komentar

Mudik, Menjadi Makhluk Sosial Kembali

Arus mudik seperti biasa, menjadi berita. ”Tiga puluh juta jiwa”, demikian dikata Menteri Perhubungan EE Mangindaan minggu lalu (1/8).

Jumlah yang sangat besar bagi pergerakan manusia di berbagai wilayah Indonesia. Bergerak dari kota-kota besar atau daerah perantauan untuk kembali ke daerah asal. Tampaknya wilayah menonjol di Indonesia adalah DKI dan sekitarnya, sebagai pusat pergerakan manusia ke segala arah.

Mudik, demikian kita sebut. Tradisi yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1970-an. Saat orang-orang berdatangan ke ibukota membangun harapan merubah kehidupan yang lebih baik. Harapan yang terbangun, sebagai kota menyimpan 80% uang sedang selebihnya tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Arus urban dari daerah, utamanya pedesaan, mengingat pembangunan berpusat di kota, dan desa kehilangan daya untuk menjaga dan mencukupi kehidupan masyarakatnya. Selanjutnya pembukaan lahan-lahan baru di berbagai pulau, telah mendorong arus migrasi manusia.

Lebaran adalah peristiwa penting, sehingga mudik massal terasa lekat tak terpisahkan darinya. Pada saat lebaran, sanak-saudara berkumpul, para tetangga, kawan-kawan masa kecil, yang hidupnya barangkali telah tersebar ke berbagai wilayah, menjadi mudah dijumpai. Inilah satu-satunya ruang yang membuka kemungkinan melangsungkan pertemuan dengan banyak orang.

Tak mengherankan, perjuangan orang-orang yang mudik. Tidak cukup hanya berbekal uang, berbagai persiapan keberangkatan turut diperhitungkan, seperti pilihan angkutan, kesiapan fisik dan mental, barang-barang yang akan dibawa, dan seterusnya.

Kendaraan pribadi, beberapa tahun terakhir menjadi pilihan angkutan yang dinilai murah dan membuat nyaman. Termasuk pula kendaraan roda dua. Jutaan angkutan bergerak sama. Diperkirakan 3,027.263 unit sepeda motor dan 1.756.755 unit mobil pribadi digunakan sebagai angkutan mudik. Perkiraan yang disampaikan Menteri Perhubungan. Dapat terbayangkan bagaimana suasana di jalan? Ah, untuk menyaksikan, cukup mudah pula mengingat berbagai stasiun televisi hadir secara rutin melaporkan situasi perjalanan arus mudik.

Mudik, kembali ke asal, pulang! Melepas segala penat, dari situasi kehidupan yang sumpek, diburu oleh waktu dalam perburuan memangsa angka-angka penyelamat nyawa, dan juga sumber kebanggaan, walau belum tentu membawa kebahagiaan.

Bagi orang-orang sibuk, dalam keluarga yang ada namun tiada, saat para penghuninya susah untuk berjumpa, perjalanan menjadi ruang untuk menunjukkan mereka ada, bisa bersua dan bersapa. Selanjutnya kepada sanak saudara, para tetangga, dan kawan-kawan juga. Inilah saat kembali merasa, bahwa ada orang-orang lain di sekitarnya. Menjadi manusia dengan hakekat primer sebagai makhluk sosial, yang selama ini terus dikikis agar menjadi makhluk individu.

Yogyakarta, 6 Agustus 2013

***

Selamat hari raya idul fitri bagi semua
Mohon maaf lahir dan batin
Sejahteralah bagi kita, segenap umat manusia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: