Tinggalkan komentar

Wajah Kita dalam Komedi

Topeng

Apakah yang dipahami tentang nilai-nilai kesopanan, keramahan, tenggang rasa, keberanian atas kebenaran, jiwa korsa, solidaritas dan kebersamaan, dan jiwa-jiwa luhur lainnya? Saat kecil dulu, pemahaman semacam itu senantiasa diajarkan di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar kita.

Tapi kini? Apakah anak-anak kita masih mendapatkan pendidikan semacam itu? Atau lantaran dunia yang telah jauh berbeda, menyebabkan anak-anak dibingungkan oleh berbagai ajaran yang kerap berbeda-beda dengan kenyataan yang mereka saksikan dan alami? Hari ini, atau bahkan telah berlangsung beberapa tahun, hal di atas seperti berkabut atau benar-benar telah menghilang dari realita kehidupan.

Di tengah perubahan maha dahsyat yang digerakkan dari segala penjuru yang telah memenjara kita dalam situasi yang kadang tidak terpahami, telah menjadikan kita sebagai orang-orang linglung, penuh beban, dan menerobos mencari ruang pelarian yang mampu memuaskan.

Komedi, salah satu yang dicari. Agar kita bisa tersenyum dan tertawa bahkan terbahak. Lantaran itu pula, para agen gaya hidup, secara jeli memanfaatkan kebutuhan, dengan menghadirkan komedi dalam berbagai ruang.

Bisa kita catat satu stasiun televisi dapat menghadirkan acara-acara komedi lebih dari satu setiap harinya. Komedi yang benar-benar dirancang sebagai acara, ataupun komedi yang hadir mendominasi dalam berbagai acara, termasuk dialog-dialog dan berita tentang bangsa dan negara ini.

Ada yang serupa, dalam bentuk berbeda. Para pelawak secara cerdas memanfaatkan ruang nafsu para pemirsa, dengan menghadirkan kekerasan dalam berbagai jenisnya untuk kita nikmati. Para politisi, mengumbar pembenaran-pembenaran dengan nada tinggi penuh provokasi, untuk meyakinkan pemirsa, yang juga dapat tertawa melihat komedi yang dimainkan. Sama halnya dialog dengan perdebatan yang pengalaman tiada pernah tertemukan, selalu berakhir dengan perbedaan yang terus dipertentangkan. Pejabat negara, sama saja, membangun dan mempertontonkan komedi-komedi setiap harinya.

Itulah wajah kita, yang tampak serupa dalam tampilan komedi. Jengah, tapi tertawa juga. Marah, masih mempertahankan senyum. Membangkitkan gairah kreativitas untuk berkomedi juga.

Marilah kita tersenyum, tertawa, terbahak, mensikapi diri kita dan kehidupan nyata sebagai individu, sebagai bagian dari bangsa dan negara ini, bermain-main dalam permainan yang menjungkirbalikkan aturan main yang dibangun sendiri.

Yogya, 21 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: