Tinggalkan komentar

Membaca Selsa dalam Empat Puluh Dua Jejak

Cover buku Kumpulan Puisi Selsa Rengganis

Cover buku Kumpulan Puisi Selsa Rengganis

Sepulang dari perjalanan ke beberapa kota, seorang kawan di kantor memberikan paket yang diterima sehari sebelumnya. Ah, ini yang ditunggu. Sebuah buku. Karya seorang kompasianer: SELSA RENGGANIS

Empat Puluh Dua Jejak: Sekumpulan Puisi” demikian judul buku yang diterbitkan oleh Indie Publishing. Membaca beberapa bagian, tercantum nama-nama kompasianer dan komunitas-komunitas yang ada di Kompasiana.

Menarik, dukungan dari para kompasianer atas buku ini. Parlan Tjak sebagai perancang sampul dan perwajahan isi, Bung Rey Prameshwara selaku penyunting, dan komentar atas buku dari Granito Ibrahim dan Elang Langit.

Diakui oleh Selsa, penerbitan buku ini atas saran dan dukungan dari para kompasianer terhadap 320 tulisan yang telah diunggahnya di Kompasiana selama tiga tahun terakhir, yang kemudian diseleksi.

Mengapa berjudul Empat Puluh Dua Jejak? Jumlah puisinyakah? Mengapa harus 42? Tidak lebih dan tidak kurang? Atau, Saya menduga – bisa saja salah – itu menunjukkan usia Selsa. Sayang, semalam saat bertemu dengannya di Rumah Budaya Tembi Yogya, ketika ia menyempatkan diri turut berpartisipasi membacakan satu puisi, saya tidak sempat menanyakan hal tersebut. Atau, barangkali, memang 42 bukanlah angka yang menunjukkan sesuatu?

Saat gagasan untuk menerbitkan buku, saya sempat dikirimi draft naskah. Saya menjanjikan akan memberikankomentar-komentar atas puisi-puisinya. Sayang, kesempatantak menghampiri, hingga akhirnya buku itu terbitlah sudah. Selamat bagi Selsa atas penerbitan buku perdananya.

Kembali saya berhutang janji. Pertama, bila memang tengah berada di Yogya, maka saya akan turut berpartisipasi membaca salah satu puisinya dalam launching (bersama buku lain) di Rumah Budaya Tembi pada 22 Agustus 2013. Kedua, saya menjanjikan akan menulis tentang bukunya.

Janji pertama, tampaknya sulit terpenuhi, karena tampaknya sudah ada jadwal ke luar kota (semoga saja bisa diundur dan tidak berbenturan). Janji kedua, adalah tulisan ini.

***

Selsa saat membaca puisi di Rumah Budaya Tembi Yogyakarta

Selsa saat membaca puisi di Rumah Budaya Tembi Yogyakarta

Terus-terang, saya kesulitan untuk menuliskan tentang buku ini. Apa yang akan saya tulis? Apresiasi? Kritik? Kesan sebagai pembaca? Atau apa?

Beberapa malam (karena sempatnya memang malam), saya berulang kali membuka-buka, membaca, dan mencoba menghayati puisi-puisi Selsa. Menyempatkan diri pula membuka buku-buku peninggalan saat kuliah. Semakin lama, rasanya makin susah saja menetapkan pilihan menuliskan sesuatu atas buku ini. Saya merasa sudah tidak berdaya bila menulis berdasarkan kaidah-kaidah analisis puisi.

Sore ini, sampai pada alenia ini, saya juga masih belum menentukan pilihan. Kemudian, sejalan dengan waktu, saya akan biarkan saja mengalir tulisan ini, dengan memposisikan diri sebagai pembaca awam.

Saat ini saya baru berhitung. Berdasarkan daftar isi ada 41 puisi. Setelah saya cek satu persatu antara daftar dengan isinya, ternyata ada satu puisi, urutan keempat yang tidak tercatat dalam daftar isi, yakni: Kiamat Rohingya.

Pada daftar isi (yang tidak bernomor), hanya mencantumkan judul-judul puisi dari awal hingga akhir. Tidak ada pembagian tema. Namun melihat isinya, secara prinsip dapat dibedakan: 12 puisi di bagian awal berisi tema-tema yang merujuk pada sikap dan pandangan Selsa terhadap kehidupan sehari-hari tentang persoalan sosial dan kebangsaan. Sedangkan selebihnya berisi puisi-puisi yang lebih menunjukkan ekspresi diri tentang hubungan antar manusia, berupa kesunyian, cinta, harapan, kerinduan, yang bersifat personal.

13745811311079977630

Cover Buku (diambil dari foto profil Selsa)

Potret Buram Bocah Palestina dan Kiamat Rohingya, dua puisi tentang situasi di luar Indonesia, dengan situasi khusus yang disorot oleh Selsa. 12 puisi lainnya, tentang situasi sosial-politik makro Indonesia. Penyampaiannya terasa berbeda. Pada dua puisi, lekat tentang rasa dan emosi yang terfokus. Pada 12 puisi tentang Indonesia, terlihat ada kegagapan untuk mengartikulasikan pengamatan dan pensikapannya secara baik, sehingga terjebak pada jargon.

Sebagai contoh dapat dilihat perbandingan dua puisi berikut, yang dipilih secara spontan:

*

Gurun tak lagi meranggas panas
Telah terbasuh oleh air mata sepanjang usia
Jerit pilu membahana
Menggaung pada tebing-tebing tegas

(Potret Buram Bocah Palestina)

**

Miris
Merdeka dibungkam oleh kerakusan
Merdeka terhempas oleh kelicikan
Merdeka tergoyah oleh recehan
Merdeka terjajah saudara serahim
Bumiku merintih
Bumiku berdarah-darah
Anyir

(Merdeka, Reformasi Hanya Sebatas Kata)

***

Masuk pada puisi ke 15 dan seterusnya hingga akhir, kita akan disapa oleh puisi-puisi Selsa yang mampu membangkitkan pesona dan imaji, menyelusup ke jiwa, dan merasa terlibat dalam suasana yang dibangun oleh Selsa melalui pilihan kata-kata sederhana, penuh kiasan (terutama metafora dan personifikasi dan citraan) yang terjaga dan terangkai secara puitis. Walau kadang, kita dihadapkan dan dikecewakan dengan pembahasaan yang tidak padat.

**

Ada yang diselipkan hujan
Pada tetesannya kali ini
Saat rinai bersujud pada tanah basah aroma surga
Tentang gemuruh dada yang berpacu pada derasnya
Yang tak berhenti meski langit kehabisan awan

(Puisi Jiwa)

**

Kepada jiwa malam yang berkelana di ranah kelam
Telah pupus satu kata rindu atas namamu
Yang sekian lama pernah menghuni ruang kalbuku

(Undur Darimu)

**

Masihkah bulan pertanyakan indahnya sinarnya dalam gulitamu
Sedangkan kau selalu sibuk menghitung rasa sepimu pada kelam

(Goresan Pagi Tuk Sahabat)

***

Selsa, yang mengaku sudah sering menulis sejak kecil, gairah berkaryanya dipengaruhi oleh blog keroyokan ”kompasiana” dan interaksi yang terbangun di berbagai komunitas blog ini. Ruang lain, yang digunakan sepengamatan saya, adalah melalui status-status facebook, yang tampaknya digunakan sebagai sarana melatih secara terus menerus kepekaan terhadap situasi dan mengekspresikannya melalui bahasa-bahasa yang puitis.

Bila-pun harus memberi saran kepada Selsa, dengan berpijak pada puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini, adalah ia seharusnya mampu mengontrol”hasratnya’ secara tepat dan berhenti pada klimaks yang telah tercipta dalam puisinya.

Tulisan ini, walau tidak memuaskan, setidaknya saya berusaha untuk membayar hutang janji yang telah terucap kepada Selsa. Apresiasi yang saya nyatakan, tentu saja bersifat subyektif. Para sahabat kompasianer lain, tentu bisa berpandangan lain.

Sekali lagi, saya ucapkan selamat kepada Selsa yang telah menerbitkan buku perdananya ini. Tetap semangat dalam karya!

Yogyakarta, 23 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: