Tinggalkan komentar

Ketika Keserakahan Menjadi Pemenang, Beginilah Memang Jadinya

Diberikan bumi beserta isinya kepada para makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya. Manusia menjadi pemenang lantaran memiliki akal, mensikapi dan berproyeksi, membangun mimpi, mewujudkan dalam nyata. Para hewan dan tumbuhan, tiada berdaya, tatkala manusia memilah mana yang berguna dan mana yang tidak berdasarkan pilihan.

Tidak akan habis bila seluruh kekayaan bumi terbagi dan dinikmati oleh semua. Apalagi bila terjaga, dan digunakan sesuai kebutuhannya. Namun, manusia, sebagai makhluk paling sempurna, tak pernah puas dengan yang dimilikinya. Maka, terjadi penaklukkan, dengan beragam cara, melalui penjinakan dan kekerasan. Terlahir perbudakan dan tanah jajahan. Menjaga semangat, dilekatkan gelar kepahlawanan, berbau amis darah.

Saat kesadaran tentang penjajahan berbau kekerasan, atas nama kemanusiaan dibebaskan, bukan berarti lepas darinya. Wajah baru dari transaksi ekonomi berbau penguasaan tetap meraja. Menyelusup mengalir bersama darah. Terhisap. Kering. Maka dikampanyekan tentang takdir dan kemalasan sebagai penyebab kemiskinan!

Kontrak membangun negara. Pemimpin terpilih pelaksana amanah, dengan konstitusi sebagai penjaga. Namun tatkala kekuasaan tergenggam, dan terbuka semua aset yang semestinya terkelola bagi sejahtera semua, tersaksikan, tangan-tangan bermain, secara terbuka atau secara diam-diam. Penumpukan, yang meminggirkan berjuta jiwa yang mencoba bertahan untuk hidup. Gugatan, adalah pemberontakan, yang harus dimusnahkan.

Saat kekuasaan harus dikontrol, dan perjuangan terus dilanjutkan, menggelora, membangun tatanan baru, tentang kesejahteraan, keadilan, demokrasi, dan hak asasi. Pemimpin negara, bukanlah pemegang kuasa yang mewakili Tuhan. Pemimpin adalah wakil rakyat pemberi mandat. Seharusnyalah memang bekerja untuk semua.

Namun nafsu serakah, tetap saja meraja, tinggal pemainnya beraneka rupa. Tapi yang pasti, bukan orang kebanyakan, yang tetap merasa susah dan selalu kehilangan atau dipaksa mengemis kepada sang penguasa, padahal kekayaan sesungguhnya mereka empunya.

Jelas, keserakahan telah menjadi pemenang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Persaingan mendapat kekuasaan, saling jegal, saling tikam, dan menjual janji kepada pemberi suara, yang kemudian kerap dilupa. Para pemain saling memiliki dosa, sehingga saling menyandera, ketika peristiwa muncul ke muka, maka kita akan dihajar oleh berbagai berita, opini membangun citra, atau membangun kebencian terhadap yang tengah terluka, sehingga kerapkali kita menjadi pemburu yang menghajar mangsa, tergantung arah mana angin dihembuskan. Setelahnya, nafas kita terengah-engah, hampir mati, para mangsa kembali tertawa-tawa, meriuh dalam pesta pora, yang membuat kita hanya terpana.

Seharusnyalah. Kesadaran tentang warganegara. Tentang negara. Harus lekat. Keteguhan untuk menjaga. Jangan sampai terpecah-bela propaganda. Yang kita tahu, selalu saja membuat catatan luka. Mengapa harus terulang bertahun-tahun lamanya?

Yogyakarta, 16 juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: