Tinggalkan komentar

Puisi: Wajah Kita yang Terbakar Bara Hati Tersaksikan Jutaan Pasang Mata Merah Menyala

Wajah. Wajah-wajah kita. Terbakar. Obsesi. Dendam. Mimpi terhujam. Rindu kata. Kata terbunuh. Cuaca gagap. Kita linglung. Tapi masih saja berkaca. Wajah hitam. Kelam. Pakai topeng. Terbakar lagi. Bara hati. Tak mati. Semakin menjadi. Jadi?

Jutaan pasang mata. Merah. Menyala. Angin menjadi badai. Gelombang menjadi tsunami. Saling memandang. Tak berkeling. Bola api bermain-main. Berloncatan. Dari satu wajah ke wajah lain. Gandakan diri. Jadi sama. Wajah hitam. Kelam. Pakai topeng. Beragam. Terbakar pula. Anehnya. Semua tampak tertawa.

Wajah kita. Dengan bola mata. Liar. Merah menyala. Terlontar. Membakar gedung menjulang. Membakar pemukiman liar. Membakar angka-angka. Membakar huruf-huruf. Membakar bara. Bara hati. Siapa mampu bersembunyi?

Bara hati. Kehilangan wajah. Kehilangan mata. Menjilat-jilat udara. Pepohonan menggigil. Kehilangan daun dan ranting-rantingnya. Wajah kehilangan wajah. Lupa bagaimana bernafas. Mulut kering. Terkapar di aspal basah. Air sungai mengering. Terhisap ke beranda.

Hati. Tak hati-hati. Makan hati. Membara. Apa mau terhitung? Apa mau dikata? Kita telah lupa. Tentang apa itu lupa.

Ocehan pagi di Kemang, 13 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: