Tinggalkan komentar

Puisi: Saat Makhluk Halus Berkaca Pada Kehidupan Manusia

Langgengnya penindasan bukan lagi dengan teror berwajah angker, mudah main senjata, mengancam, sedikit melukai atau membunuh. Cara kuno yang sudah tak laku lagi. Justru akan mempercepat tersungkur. Kuasa tak  didapat, bisa jadi malah terdepak.

Demikian para makhluk halus memulai perbincangan dengan membuat terobosan bukan pada malam purnama di tengah keheningan makam dengan lolongan serigala, melainkan di pusat kekuasaan manusia: aula gedung bertingkat dengan anak tangga jutaan, diselingi fashion show dan music hingar-bingar dan tak lupa sesaji yang membuat fly.

Para makhluk halus berbisik, itu kerjanya. Menebar terror dengan keangkeran tempat wingit. Mewujud sosok nan besar atau kebalikannya sebagai sang cebol,kadang dengan lubang di bagian dada, mata merah, wajah tak sempurna, suka memberi tapi tak lupa meminta tumbal, dan segala kisah menyeramkan dan kejahatan yang sempurna. Tapi, semua sadar, ketakutan justru akan menimbulkan pemberontakan. Menjadi sasaran membangun nilai-nilai, yang tentunya merugikan tugas para makhluk halus di muka bumi ini.

“Maka, tiada jalan lain, harus mengikuti peradaban manusia!” seru makhluk halus tertua yang sudah pikun dan frustasi.

“Jangan tanamkan kebencian seseorang pada orang lain, tapi bangunkan dan hadirkan mimpi-mimpi ke alam nyata mereka, sehingga terutang berpuluh tahun, terpenjara, namun bersuka cita,” seru makhluk halus lainnya yang tepekur di dinding.

“Manusia telah jadikan siang sebagai malam dan malam sebagai siang, kehidupan yang tak mati, tiada arti lagi apakah siang dan malam. Mengapa harus bertahan menjaga kekuasaan makhluk halus hanya pada malam, saat kini manusia juga terjaga,”

“Curilah sesuatu yang mereka tidak anggap. Sepersekian dari lembaran, menjengkelkan, tapi tetap bersyukur karena merasa tidak kehilangan semua,’ makhluk halus kecil berkepala botak nyeletuk.

Bergantian, bercerita pengalaman dan pandangan. Akhir kata, dicapai satu kesimpulan sementara. Menjadi slogan baru untuk menjalankan tugas mulia yang sempurna. “Berikan apa yang mereka inginkan tanpa batas, hingga mereka merasa besar dan menggali kuburnya sendiri,”

Semarang, sesaat di 2 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: