Tinggalkan komentar

Puisi: Ini aku. Hari ini. Di sini. Saat ini.

Ini aku. Hari ini. Di sini. Saat ini.

Pada saat hutan-hutan alam terbakar, berganti wajah, menjadi seragam, dan penghuninya tersingkir atau ditewaskan, pada saat itu pula berdiri hutan-hutan beraneka wajah, dan tiang-tiang pancang nan perkasa menantang matahari, dengan rimbun gedung-gedung tinggi, dan berjuta kendaraan bagai semak-semak belukar, menghadirkan jutaan jiwa untuk tertawan di dalamnya dengan aroma asap beracun menjadi santapannya.

Ini aku. Hari ini. Di sini. Saat ini.

Pada saat musim kebingungan dengan dirinya sendiri, dan terlupa dengan iramanya, menjadikan bintang-bintang linglung, dan bulan selalu tergopoh-gopoh terhantui matahari yang benderang saat malam, kisah kenangan suara jengkerik dan gesekan pohon bambu yang terbelai angin malam memecah keheningan, dan kegelisahan para demit yang terperosok peradaban, turut berdandan, menjadi sang “ganteng” dan sang “cantik” berbudi luhur yang ingkar dengan tugasnya, justru menasehati manusia untuk kembali ke jalan tuntunan,di tengah halilintar di siang bolong menjadi hal biasa, terekam dalam status perjalanan manusia.

Ini aku. Hari ini. Di Sini. Saat ini.

Pada saat aliran sungai berhenti mengalir, waduk-waduk yang menjadi milik personal, tempat mencuci uang dan berenang dalam pesta tak berkesudahan, memunculkan gosip-gosip yang terjual, pada saat jutaan jiwa meradang, kehausan, sumber air terkuasai, dan tumpaskan dahaga dengan lembaran-lembaran uang berdarah, sedang bahan bakar minyak menjadi permainan yang mengaburkan tentang kontrak sosial suatu Negara beradab, atas nama nasionalisme untuk meredam amarah dari dalam, tak henti-henti pula transaksi membuka pintu bagi para alien untuk menggerogoti kekayaan bangsa ini, yang ditidurkan dengan janji dan omong kosong.

Ini aku. Hari ini. Di sini. Saat ini.

Pada saat merindu kopi dan kepulan asap kretek yang bukan miliki kita lagi, sama halnya dengan minyak goreng yang menghantam ubi dan singkong sore ini, pada saat matahari terlihat enggan untuk beranjak dan mengkudeta waktu. Belum lagi gandum-gandum terolah dalam kemasan instan yang menghiasi rak-rak dapur. Televisi yang menyala tampilkan berita tentang orang-orang kelaparan di lahan sawah yang menghampar.

Ini aku. Hari ini. Di sini. Saat ini.

Pada saat, ya pada saat engkau mengumpat diriku, dengan sumpah serapah, sedang aku meracau tentang apa saja yang menulikan telingamu, padahal kita sama-sama tahu, tiada guna berkata-kata lagi, terobral-pun tiada yang membeli. Sebab orang-orang tengah membangun mimpi-mimpi tanpa tahu lagi konstruksi, sehingga terjerambab pada pesan-pesan mistik dari jempol-jempol yang bekerja mewujudkan sesuatu yang “entah”.

Yogya, 30 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: