Tinggalkan komentar

PRT Menagih Janji Manis SBY

Banner JPPRT DIY

14 Juni 2011, Susilo Bambang Yudhiyono (SBY), Presiden Indonesia,  pada konferensi ke 100 Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO di Palais des Nations, Jenewa, Swiss, dalam pidatonya menyatakan komitmen mengenai dukungan dan adopsi terhadap Konvensi ILO tentang Kerja Layak bagi PRT. Bahkan akan menjadikan acuan dalam melakukan perlindungan bagi PRT migrant maupun PRT dalam negeri melalui penyusunan peraturan-perundangan yang efektif.

“Diperkirakan ada 150 juta pekerja migran berdokumen di seluruh dunia.Mereka adalah pemain penting dalam era baru keadilan sosial.Kita tidak bisa mengabaikan kontribusi mereka ke pasar tenaga kerja global, serta perekonomian negara-negara asal mereka.Kita di Indonesia menyebutnya para pekerja migran sebagai “pahlawan ekonomi” (pahlawan devisa), karena kerja keras dan pengabdian tanpa pamrih untuk kesejahteraan keluarga mereka saat pulang,”  demikian dikatakan oleh SBY.

Lebih lanjut SBY menyatakan bahwa pemerintah RI akan mendukung Konvensi Kerja Layak bagi PRT dan memastikan bahwa sesi ke 100 ini akan mengadopsinya menjadi sebuah Konvensi. Pemerintah RI sudah mengambil langkah secara institusional, administrative dan juga hukum untuk melindungi dan memberdayakan buruh migrant di Indonesia.

“Pekerja Rumah Tangga yang bekerja di dalam negeri juga harus diberi Perlindungan yang sama. Dengan begitu Konvensi ini akan membantu pemerintah Indonesia untuk merumuskan perundang-undangan dan peraturan nasional yang efektif untuk tujuan perlindungan ini.” penegasan lebih lanjut dari SBY.

Apresiasi positif diberikan kepada SBY atas pidatonya yang menyejukkan dan memberi harapan baru bagi perbaikan kehidupan PRT dan para buruh migran.

Pada tanggal 16 Juni 2011, Konferensi ILO akhirnya mengadopsi Konvensi No. 189 tentang Kerja Layak Pekerja Rumah Tangga. Tanggal pengesahan konvensi tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari PRT Internasional, dan untuk pertama kalinya diperingati pada tanggal 16 Juni 2012.

Sayang, pada saat itu, terjadi peristiwa duka bagi bangsa Indonesia dengan dipancungnya seorang PRT Indonesia yang bekerja di Saudia Arabia, Ruyati binti Sapubi pada tanggal 18 Juni 2011. Pidato SBY yang manis dan memberikan pengharapan, seakan tersapu oleh peristiwa tersebut.

Kini menjelang dua tahun, sejak SBY mengapresiasi dan merasa yakin bahwa Konferensi ILO akan mengadopsi Konvensi, pada kenyataannya, Indonesia belum meratifikasi Konvensi tersebut. Demikian pula, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga yang sudah berjalan hampir 10 tahun sejak masuk ke dalam Prolegnas (Program Legislasi Nasional) di DPR RI pada tahun 2004, belum kunjung disahkan.

Gerakan masyarakat sipil yang selama ini memperjuangkan adanya Perlindungan bagi PRT, tidak pernah berhenti menyuarakan dan melakukan gerakan-gerakan agar Indonesia segera meratifikasi Konvensi ILO Nomor 189 dan mengesahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.

Petisi Stop Perbudakan yang diorganisir oleh Komite Aksi Perlindungan Pekerja Rumah Tangga dan Buruh Migran, dalam pengantarnya menyebutkan bahwa Sepanjang tahun tahun 2011-2012  terjadi 653 kasus kekerasan terhadap PRT, dari tindak pelanggaran hak, penganiayaan, upah yang tidak dibayar, penelantaran, pengekangan, kecelakaan kerja sampai tindakan kekerasan berat yang menyebabkan 8 PRT meninggal dunia.  Kekerasan yang dialami  PRT kita di Malaysia dan negara-negara Timur Tengah sama dengan yang dialami oleh PRT di Indonesia.

Aksi-aksi tidak pernah lelah digemakan. Menyambut Peringatan Hari PRT Internasional, berbagai gerakan masyarakat sipil akan menggelar berbagai acara. Salah satunya aksi yang akan berlangsung pada malam ini di Yogyakarta. Jaringan Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (JPPRT) DIY didukung oleh Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) dan Paguyuban Sastra Malioboro, menyelenggarakan Malam Pentas Seni dan Ekspresi, dengan tema: “Wujudkan Undang-undang PRT dan Ratifikasi Konvensi ILO 182 tentang Kerja Layak PRT”. Acara akan berlangsung 15 Juni 2013 bertempat di Titik Nol Yogyakarta, pada pukul 19.00-22.00.

Kelompok Teater SAPU, yang beranggotakan para PRT yang terhimpun dalam Serikat Pekerja Rumah Tangga,  mementaskan teater dengan lakon ” Janji Manis SBY di Swiss”. Selain orasi, acara akan diisi pembacaan puisi, diantaranya oleh Yuni Satia Rahayu (Wakil Bupati Sleman), Esti Wijayanti (Anggota DPRD DIY), Damairia Pakpahan dan Ndari Sulandari (Aktivis perempuan).

Semarang, 15 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: