2 Komentar

Telanjang di Ruang Terbuka

Kesempatan kedua datang. Tidak hanya singgah seperti kunjungan pertama, tapi kali ini tinggal selama tiga hari. Sebuah desa, ibukota kecamatan, di Pulau Sumba, pastilah lebih ramai dibandingkan desa-desa sekitarnya.

Sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota Waikabubak untuk menuju desa ini, desa yang merupakan kelahiran Bupati Sumba Barat yang masih menjabat saat ini/.

Dua kawan Perempuan tinggal di rumah mantan Kepala Puskesmas, sedang aku tinggal di rumah pimpinan desa.

Siang hari panas luar biasa. Menyengat. Jelang sore dan malam dingin sangat terasa. Hari pertama, sore hari saat tiba di tempat menginap, dengan pertimbangan pendek, membasuh muka saja. Ada keraguan untuk mandi. Memang menjadi tidak nyaman, tidur-pun pastilah tak lelap.

Hari kedua, pagi membasuh muka. Seperti sore kemarin.

”Tidak mandi?” tanya tuan rumah.

”Cuci muka dulu saja,” jawabku

Sarapan bersama. Selanjutnya tuan rumah bersiap-siap keluar hendak ke ibukota. Aku juga segera bersiap-siap, bersama beberapa anggota masyarakat di sini hendak berkeliling mencari data dan informasi tentang situasi anak-anak.

Panas mendera. Keringat banjir. Nah, bisa terbayangkan. Saat gelap telah menyapa, kembali ke tempat penginapan, terlintas niatan harus mandi!

Ruang mandi terpisah dari rumah. Ia berada di kebun belakang rumah, dengan dinding bekas banner yang hanya ada di dua sisi. Jaraknya sekitar 10 meter dari batas rumah. Tidak ada lampu penerang.

Tuan rumah telah menyiapkan air setengah ember yang tidak besar. Memang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

”Kalau tidak di sana, di dekat sini saja tidak mengapa. Tidak terlihat,” kata tuan rumah melihat keragu-raguanku.

Memang harus mandi. Sudah dua hari tidak terguyur secara utuh. Risih, dan gatal mulai menyerang. Nekat saja, sekitar satu meter dari batas rumah, mulai melucuti pakaian, mencoba tidak peduli dengan beberapa orang yang hilir mudik. Gelap, semoga memang tidak terlihat. He.he.h.e.h.eh.eh.e

Memang terasa lebih segar. Walau tidak puas, dengan air yang terbatas.

Ini pengalaman pertama bagiku. Mandi telanjang di ruang terbuka. Pengalaman yang membuatku berpikir. Berpikir tentang kehidupan orang-orang di daerah yang kesulitan air.

Setiap hari, pagi dan sore hari, anak-anak tuan rumah yang masih duduk di SD dan SMP, mengambil air dari sungai dengan dua dirigen. Mereka menggunakan sepeda motor menuju sungai yang jaraknya sekitar 1 km. Sebenarnya ada sungai yang lebih dekat, tidak lebihd ari 500 meter. Namun sudah kering tanpa air tersisa.

Lantas bagaimana dengan keluarga-keluarga yang lebih jauh letaknya dari sumber air. Ya, di perjalanan aku kerap menyaksikan rombongan anak-anak menenteng jerigen mencari air.

Sebenarnya, hal yang lebih memalukan adalah sikapku sendiri. Selama ini tidak terlalu dipusingkan dengan air. Jadi kerapkali malah membuang-buang air untuk hal yang kadang tidak perlu.

Teringat lintasan perbincangan dengan beberapa kawan dalam kesempatan yang berbeda tentang air. Dimulai dari kecenderungan konsumsi jutaan manusia di berbagai tempat yang memilih air mineral kemasan, dengan harga yang hampir setara dengan harga BBM, dan tetap saja laris manis.  Juga perbincangan tentang ancaman krisis air bersih yang melanda dunia, termasuk Indonesia yang diramalkan akan terjadi pada tahun 2025.

Saat konsumsi air sudah banyak yang membeli, besar kemungkinan karunia Tuhan yang selama ini bisa dinikmati secara gratis perlahan harus merogoh saku, seperti  kemungkinan kelak membeli oksigen untuk bertahan hidup.

Ah, kok jadi ngelantur. Padahal hanya ingin bercerita, mandi telanjang di ruang terbuka, dirayapi kegelapan malam.  Cuma  itu. Lain tidak. He.he.h.e.he.

Yogyakarta, 12 Juni 2013

2 comments on “Telanjang di Ruang Terbuka

  1. Ceritanya asyik Kang🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: