Tinggalkan komentar

Selamat Memperingati hari Anti Pekerja Anak

Kukira dirimu, pasti tidak terlalu sulit untuk menjumpai anak-anak yang telah melakukan kegiatan ekonomi untuk mendapatkan penghasilan. Pada ruang-ruang publik yang terbuka, di jalanan, pasar atau stasiun, misalnya, dapat jelas terlihat. Engkau, barangkali pernah pula merogoh saku, terpacu rasa iba atau memang benar-benar membutuhkan jasa yang ditawarkannya.

Pada tempat tersembunyi, beberapa waktu kita dikejutkan pula dengan terbongkarnya keberadaan buruh-buruh terpasung atau layak pula disebut sebagai bentuk perbudakan modern, ketika mereka, sebagian diantaranya masih dalam batasan umur anak.

Beberapa hari ini, kita dikejutkan pula dengan terbongkarnya aksi anak “bau kencur” yang telah berperan sebagai mucikari.

Mereka adalah anak-anak yang bekerja, anak-anak yang dipekerjakan, pekerja anak atau buruh anak, dan apapun istilahnya, mereka adalah kelompok anak yang mengalami eksploitasi secara ekonomi.

Kemiskinan, sering dianggap sebagai biang kerok. Tapi berpijak pada faktor kunci tersebut, justru akan membuat kita frustasi. Lantaran kita tahu pasti, kemiskinan terasa menjadi abadi, dalam pembangunan di negeri ini. Bahkan orang-orang bisa semakin miskin akibat kebijakan dan program pembangunan masih nyata belum berpihak. Bagi-bagi duit, tentu bukan jalan pintas membangun perubahan lebih baik. Bantuan mematikan. Bisa melumpuhkan!

Maka, tetap mengakui kemiskinan berperan sebagai faktor kunci, kita selayaknya mencermati faktor-faktor resiko lainnya, untuk menemukan celah guna menentukan strategi pencegahan dan penarikan anak-anak dari dunia kerja.

Sebodoh apapun, semiskin apapun, dan segila apapun seseorang, ketika mempekerjakan hewan-hewan peliharaannya, tentu mereka mengesampingkan hewan yang masih dianggap anak-anak. Lantas, bagaiamana dapat terlahir keputusan untuk mempekerjakan anak-anak?

Jumlah anak yang bekerja masih saja dalam hitungan jutaan. 2-4 juta anak bekerja, kata Menakertrans minggu lalu. Kenyataan, bisa berlipat-lipat jumlahnya, mengingat banyak pola kerja yang berkembang, ketika seorang dewasa terikat kontrak kerja formal, memiliki beban kerja yang di atas kertas saja tidak mungkin dapat ia kerjakan, maka, seluruh keluarga termasuk anak-anak dikerahkan untuk mencapai target yang ditetapkan. Pekerjaan di perkebunan misalnya, menunjukkan hal itu.

Lantas apa yang bisa dilakukan? Saya kira, sikap yang perlu mengemuka adalah menolak keberadaan anak-anak yang bekerja, apapun alasannya. Kemiskinan tidak dijadikan tameng untuk membenarkan keberadaan mereka dalam dunia kerja. Negara, juga tidak boleh main-main, harus bekerja keras memberantas pihak-pihak yang sengaja mengeksploitasi anak-anak.

Selamat memperingati hari anti pekerja anak di tanggal 12 Juni ini.  Bebaskan anak-anak dari dunia kerja!

Yogyakarta, 12 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: