Tinggalkan komentar

Mentertawai Kegagapanku

Bersama anak Sumba

Setelah perjalanan tiga minggu, akhirnya tiba di Yogyakarta. Pulang. Bertemu anak-istri. Beruntung ada satu kegiatan jadwalnya diundur satu hari, sehingga lebih dari 24 jam bisa bersama mereka. Selanjutnya, jadwal perjalanan telah menanti menuju ke empat kota lain untuk urusan yang berbeda-beda.

Sejak akhir Mei, memulai perjalanan ke Bandung, Jakarta dan berlanjut ke Sumba Barat. Ini kunjungan kedua, setelah untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di tanah Sumba pada Desember 2012.

Kunjungan ke satu kota, tak lengkap rasanya bila tak tertorehkan dalam tulisan sebagai kenangan. Namun, pada Desember itu, berupaya untuk menulis, selalu saja gagal. Padahal ada yang menarik perhatian. Padahal ada banyak yang bisa dituliskan. Setidaknya sebagai catatan harian.

Pikiran digelayuti keinginan menulis, jemari yang tiada berdaya untuk menuntaskannya. Sehingga lahir obsesi, suatu waktu, saat kesempatan tiba, maka itulah saatnya untuk menulis. Ternyata, tidak juga.

Kunjungan kedua ini, terlewatkan pula.

Tidak ada tulisan mengenai masih banyaknya orang-orang, entah muda ataupun tua, dengan parang terselip di pinggang, terikat pada kain tenunan khas sumba yang beragam, berada pada ruang-ruang publik.

Tidak ada tulisan mengenai makam-makam batu yang mudah dijumpai di sepanjang perjalanan. Hal ini mengingat sebagian besar makam berada di seputar rumah. Makam tua dengan batu alam. Makam-makam baru,  kerapkali terlihat lebih megah dibandingkan rumah penghuninya.

Tidak ada tulisan mengenai belis, untuk meminang gadis, dengan sejumlah angka yang kadang fantastis, untuk hewan-hewan yang diserahkan ke keluarga sang gagis, agar sempurnalah mendapatkan istri, tanpa terpenjara oleh hutang secara adat.

Tidak ada tulisan mengenai kampung-kampung adat yang pernah tersinggahi, dengan kesederhanaan, dan terasa nuansa mistis-nya.

Tidak ada tulisan mengenai kepercayaan Marapu, yang konon masih dipegang teguh oleh 80% masyarakat Sumba.

Tidak ada tulisan mengenai rumah adat, yang terhiasai tanduk-tanduk kerbau. Panjangnya tanduk semakin menaikkan status sosial pemilik atau keluarga besarnya. Tanduk menunjukkan jumlah kerbau yang pernah dipotong. Ya, pernah aku menyaksikan tanduk kerbau yang panjangnya melebihi kedua tangan yang kurentangkan.

Tidak ada tulisan, ah yang biasa kutulis tentang sosok kehidupan anak-anak di daerah pedesaan Sumba yang terkunjungi.

Ah, aku tertawa. Mengapa begitu gagap, mengapa tiada berdaya. Sayang, keinginan masih saja melekat dalam kepala.

Yogyakarta, 11 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: